
Setelah dirawat selama 3 hari di rumah sakit dengan indikasi gejala tipes, akhirnya Ramzy diperbolehkan pulang kerumah.
Senang sekali hatinya selama 3 hari full mendapatkan perhatian Ella 24 jam. Bahkan ia bisa puas berbuat manja demi mendapatkan kasih sayang lebih dari Ella. Walaupun dengan caranya yang agak nyeleneh, yakni canda gila.
Ella memang jutek dan ketus. Tapi sebenarnya Ella bisa lebih gokil candanya dibanding Adel. Mungkin gen papanya yang humoris mengalir deras membuat mereka adalah pribadi yang ngocol.
"Hari ini boleh nagih janji dimasakin kamu ga?" pinta Ramzy dengan suara diimut-imutkan agar Ella terpancing.
"Apa sih itu suaranya hahaha.... ih ga suka, gelay!"
"Hahahaha... apaan sih gitu? Udah basi tuh kata-kata gitu! Udah lewat masanya Hahaha..."
"Bomat, bodo amat!"
Keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang kamu istirahat, aku masak dulu. Tapi menu yang ringan aja ya,.. karena kamu ga boleh makan makanan yang berminyak, keras juga berbumbu tajam! Jadi, apapun yang aku masak, no complaint okay?"
"Siap 86 bu boss CEO Ramzy!"
Ella tersenyum dengan wajah merah merona. Ramzy akhir-akhir ini semakin sering melakukan 'pengakuan' kalau ia adalah istrinya. Membuat Ella bahagia luar biasa.
Dia memasak dengan wajah mengumbar senyum karena selalu teringat kata perkata Ramzy yang mulai sering melancarkan gombalannya.
Sementara Ramzy duduk diatas ranjang tidurnya. Juga dengan wajah bahagia dan senyuman tersungging slalu diwajah tampannya.
Satu jam kemudian.
Tok tok tok.
"Zy! Ramzy!.... Makan dulu! Lagi tidurkah?"
Tiada jawaban dari dalam. Membuat Ella menarik tungkai gagang pintu. Terbuka pelan.
__ADS_1
Dilihatnya Ramzy memang tengah terlelap meski dalam keadaan setengah duduk, bukan rebahan.
"Hhhh ck.... Bisa ya tidur model begini!" gumamnya menatap wajah tampan Ramzy. Gemas ia dengan keimutan pria yang usianya lebih muda dua tahun darinya itu.
Perlahan sekali, ia membetulkan letak posisi kepala Ramzy dengan menarik satu bantalnya agar Ramzy nyaman dan posisinya lebih enak.
Upsss..
Merah bak kepiting rebus wajahnya. Karena ternyata Ramzy sudah bangun dari tidurnya dan matanya tepat menatap netra indahnya yang ter-gep tengah menyangga belakang kepalanya agar tetap nyaman ketika bantal penumpu satunya ia tarik.
Spontan Ella melepaskan kepala Ramzy karena kaget. Membuat Ramzy mengaduh juga karena kaget.
"Aduh!"
"Ma maaf! Hehehe maaf, spontanitas!"
"Lagian kepalaku kenapa juga langsung dilepas nih!? Untung bukan buatan Rusia, kalo iya...copot sudah kepala ini!"
"Hahaha... emangnya kepala si Ken pasangannya si Barbie, bisa copot gitu!... Maaf ya Zy! Kamu sih ngagetin!Tiba-tiba melotot gitu mandangin aku!"
"Adauwww!!! Sakit, nona es batu balokan!"
"Ramzyyyyyyyy!!!! Tuan muka dataaaaaar, kamu ini udah mulai ya, mancing-mancing keributan!"
"Hahahaha.... " Cup.
Ella terkejut. Pipi kirinya dikecup Ramzy. Panas sekujur tubuhnya seketika terlebih wajahnya.
Ia sudah sering Ramzy peluk. Ramzy pegang erat jemarinya, tapi dikecup pipinya,.... seingatnya ini baru pertama kalinya Ramzy berani melakukan itu.
Ramzy juga ternyata merah wajahnya. Ia seolah mengakui telah berbuat 'dosa' pada wanita yang selama ini didekatnya itu.
"Maaf ya,.. kalau tindakanku tiba-tiba tadi membuatmu tidak nyaman!" tuturnya lembut seraya mengusap lembut pipi Ella, yang tadi ia kecup. Seolah hendak membersihkan noda yang tadi ia torehkan.
__ADS_1
Zy! Tidak Zy! Aku....aku suka tindakanmu tadi Zy! Sukaaaa sekali. Lakukan lagi ya Zy! Sungguh, aku tidak akan marah. Bahkan aku sangat menunggu momen-momen itu dari kamu Zy! Ayolah mendekat Zy! Aku...aku...ah, ya Tuhaaan, apakah aku jatuh cinta padamu Zy? Bolehkah aku berfikir nakal ingin memilikimu? Hhhh.... Aisssh
Ella menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Ramzy terkekeh.
"Iya, maaf...janji ga akan berbuat melewati batas lagi! Suwer!Hehehe... yang tadi itu khilaf!" katanya seraya memberi Ella wajah permohonan maaf dengan senyum setengah bulan sabitnya. Dan mengangkat dua jari, telunjuk dan jari tengahnya. Membuat Ella ikit tersenyum.
Zy! Ah...Kau tidak bisa melihat cintaku kah?
Ella hanya bergumul dalam hati. Antara keinginan dan kenyataan. Ia hanya bisa berkicau sendiri dibalik hatinya yang sedih.
Andai ia punya keberanian lebih, mengungkapkan segala rasanya pada Ramzy. Tapi tidak. Biar bagaimanapun semoderennya Ella, ia tetaplah pribadi yang pemalu dan sungkan untuk mengungkapkan rasa suka dan sayangnya lebih dulu pada seorang pria. Terlebih pria itu adalah.... kekasih adiknya sendiri. Membuat jantung Ella terasa sakit mengingat itu.
"Yuk makan, setelah itu minum obat. Baru bobo, istirahat!"
Keduanya berjalan keluar kamar Ramzy.
Harum aroma sup ayam dan dadar telur juga bacem tempe membuat Ramzy duduk dengan mata terpukau.
"Menu biasa, bukan yang istimewa. Maaf ya Zy!"
"Ini sudah sangat istimewa, Ella! Terima kasih ya! Mari makaaaan.... Bismillahirrohmanirrohiim!!!"
Ramzy langsung menyendokkan nasi sendiri tanpa Ella suruh dan Ella ambilkan. Rupanya ia beneran kangen masakan rumah.
"Kamu tau, La? Waktu SMP aku ini gendut!"
"Masa'? Beneran Zy?"
"Iya! Karena bi Sumi selalu memasakkan makanan yang lezat setiap hari seperti ini!"
"Bi Sumi?"
"Iya. Dialah ibuku. Kasih sayang ibu yang sebenarnya... Yang mengurusku sejak kecil hingga kelas 2 SMA. Beliau wafat ketika aku tengah ujian kenaikan kelas 3. Disitulah awal kesedihanku bermula!" Ramzy terdiam setelah cerita serunya.
__ADS_1
Matanya meredup. Bagaikan putaran kisah sedih hidupnya kembali. Flashback hidupnya yang sangat ia benci.
đź’•BERSAMBUNGđź’•