
"Ada tamu rupanya!" tiba-tiba Ramzy berdiri didepan pintu. Dengan wajah tampannya ia tersenyum membuat Cici terkesima.
"Ah, eh...mm.. saya pembantu rumah sebelah tuang tampan! Eh,... mmm aduh, saya grogi kalo disenyumin pria tampan. Aduh maaf!" jawab Cici membuat Ella yang baru keluar dengan nampan berisi minuman, tertawa kecil.
"Nona dan tuan sepertinya pasangan suami istri yang masih baru ya?" tanyanya memperhatikan sebentar ke wajah Ella lalu ke wajah Ramzy. Keduanya hanya senyum tanpa suara.
"Sungguh kalian bikin iri!"
"Kenapa mbak Cici?"
"Satunya cantik banget satunya tampan banget, sedang saya... jelek banget!"
Ella dan Ramzy tertawa tapi langsung menutup bibir serempak karena tak enak hati takut dibilang meledek.
"Tuh khan! Tuhan itu ga adil banget! Kalian punya wajah sangat mirip juga gaya yang mirip. Kata orang, kalo pasangan wajahnya mirip itu pertanda jodoh! Bisa langgeng rumah tangga!"
Ella hanya tersenyum. Sementara Ramzy geleng-geleng kepala lalu melambaikan tangan setelah izin masuk rumah.
"Nona kenal tuan dimana?" Cici semakin berani menyelidik. Sedikit mengajak Ella bergosip. Padahal ia disuruh tuannya kerumah Ramzy dengan satu urusan.
"Hehehe...dimana ya? Lupa saya mbak!" jawab Ella asal. Ia faham tipe-tipe orang kepoan biasanya akan mudah pula menyebarkan issue tentang dirinya nanti. Ella tak ingin hubungannya dengan Ramzy menjadi konsumsi publik.
"Oiya mbak,... mbak tau ga dimana rumah ketua RT disini?" tanya Ella berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu non, yang rumahnya paling depan deretan kedua dari pos sekuriti!"
"Mmm..itu ya?! Diminum dulu mbak!"
"Oh iya hehehe... terima kasih!"
Cici baru tersadar pada niat awalnya mendatangi rumah tetangganya. Membuat ia membetulkan letak duduknya menjadi lebih tegak.
Sebelum memulai perkataannya yang agak serius, ia menelan salivanya dahulu. Agak gugup juga meski nona cantik dihadapannya itu dipandangnya baik.
__ADS_1
"Nona, maaf...saya sebenarnya disuruh tuan saya untuk menyampaikan pesan...!"
"Oiya? Pesan apa?"
"Tuan saya, mmmm.... terganggu sama suara hewan piaraan nona dan tuan tampan! Dia lagi kumat migrainnya. Jadi marah-marah terus kerjanya karena dengar suara berisik dari arah rumah ini."
"Oh? Begitu ya mbak? Aduuuh, mohon maaf mbak! Suami saya baru aja datangin sepasang ayam kalkun. Emang suaranya berisik, saya juga terganggu! Nanti deh, saya sampaikan pesan tuannya mbak ke suami saya! Moga dia jual kembali ayam peliharaannya itu ya! Maaf ya mbak! Tolong sampein maaf saya sama tuannya mbak!"
"Alhamdulillaah! Lega saya! Saya takut banget lho mau nyampein pesen ini. Hehehe....Takut nona marah dan tersinggung! Makasih banyak ya, atas pengertiannya!"
"Saya yang harusnya minta maaf, karena udah ganggu ketenangan tetangga. Mohon dimaklum ya mbak!"
Ella hanya tersenyum memandang Cici yang telah pergi setelah pamit pulang.
"Tuh, belum sehari dirumah ini..tetangga sudah ada yang komplen sama auman suara ayam kalkunmu!" Ella melapor pada Ramzy yang asik menyimak hewan peliharaannya itu.
"Tuh, tuh lihat Del... Cantik khan?"
Ella terhenyak. Ramzy memanggilnya "Del". Membuatnya diam sesaat memperhatikan Ramzy yang sepertinya tidak sadar mengucapkannya.
Bulunya merebak indah bagai bunga. Membuatnya juga terpana akan keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang saat ini dipuji Ramzy.
"Iya, cantik!"
"Tau ga kamu? Itu cowoknya apa ceweknya? Hayo tebak!"
"Ya pasti ceweknya laah!"
"Salah! Hehehe... Tertipu khan? Itu cowoknya. Dia lagi caper tuh ke ceweknya..... pingin diperhatiin, makanya dia berusaha tampil sekeren mungkin. Biar dapet perhatian, dan si cewek klepek-klepek sama dia. N'...happy ending keduanya...bercinta!"
"Auwww!!!!" Ramzy memekik kaget sekaligus kesakitan. Karena pinggangnya yang dicubit Ella.
__ADS_1
"Dasar omes!" Keduanya tertawa.
"Apaan tuh omes? Bahasa kotor ya?"
"Otak mesum!!"
"Lah? Emang bener! Bukan boongan tau!"
"Ngarang bebas!"
"Ga ngarang! Goggling aja gih!"
"Ogah!"
Ramzy memeletkan lidahnya. Meledek Ella yang kembali datar wajahnya.
Hanya segitu saja canda mereka. Karena keduanya kembali pada keasyikan dunia mereka masing-masing.
Ella masih memikirkan, betapa Ramzy memuja Adelia. Bahkan seringnya ia memanggil Ella dengan nama adiknya. Kadang Ella sedih juga. Tapi, dia tak berhak menuntut Ramzy memanggilnya dengan nama yang benar. Dan kenapa juga dia harus marah dan meminta hak, fikirnya. Justru terlihat kalau dia sedikit iri dan cemburu pada Adelia jika itu ia lakukan. Ella menyadarinya dengan sepenuh hati.
Ella cukup tahu diri. Tak mungkin ia masuk dan mengganggu keagungan cinta Ramzy dan Adelia. Ella juga tak mau. Ia hanya serba salah saja. Meski kadang ia bingung juga harus bersikap apa.
Alhasil, hanya seperti inilah hubungan mereka. Kadang mungkin Ramzy menganggapnya kakak, atau mungkin teman cenderung sahabat saking cuek dan terbukanya. Tapi kadang Ramzy memperlakukannya dengan lembut seperti ia tengah membuka hatinya untuk Ella.
Ella menggelengkan kepala. Diketuknya dahinya berkali-kali.
"Bodoh, bodoh, bodoh!"
Ia selama ini selalu pintar menjaga diri dengan bergerak cepat menghindar dari para pria yang mendekatinya. Tapi kenapa didekat Ramzy, ia seolah lupa akan tameng yang biasanya selalu siap menjadi perisainya. Membuatnya kini terkadang sering lemah dan juga baper karena tindakan calon adik iparnya yang notabene kini adalah suaminya.
Ia kini hanya bisa merenungi. Kesedihan kembali melanda diri. Mengingat dirinya yang punya kekurangan sebagai seorang wanita yang telah kehilangan mahkota kebanggaannya, yang seharusnya ia persembahkan pada seorang pria, yang berstatus sebagai suaminya.
Hhhhh...
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1