PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PUZZLE YANG TERSUSUN


__ADS_3

Rahman menyusut airmata yang meleleh diujung matanya. Terlihat jelas bahwa ia juga tersiksa.


Tersiksa oleh perbuatannya sendiri yang dibenci Tuhan. Dan juga dirinya sendiri.


"Aku sengaja, suka jalan kaki dan mengembara. Mencari-cari semoga bertemu gadis itu. Aku janji dari hatiku yang terdalam. Andai gadis itu masih sendiri, aku akan menikahinya. Aku ingin membayar dosa-dosaku padanya. Yang dengan jahatnya merampas kegadisannya."


Adel ikut menangis. Ikut terharu juga terhanyut cerita hidup Rahman.


Adel mengangguk-angguk. Setuju mengiyakan kata-kata Rahman.


"Apa abang sama sekali ga punya clue tentang gadis itu? siapa dia? nama atau sekolahnya dimana?"


"Justru itu. Aku sama sekali tidak tahu. Karena waktu itu, dia lewat dihadapanku yang tengah mabuk dan terpengaruh obat. Seingatku, ia cantik tinggi semampai. Bercelana bahan dan kaos huddy warna pink bergambar Patrick SpongeBob."


"Dia seusia abang? atau pasti anak sekolahan juga yang kemping di bumi perkemahan itu khan?"


"Dia lebih muda dari aku sekitar 4-3 tahun. Dan sepertinya bukan sedang kemping. Karena keesokan harinya aku cari-cari gadis itu di camp-camp sekolah yang ada disana. Hasilnya nihil. Tidak ada. Bahkan hingga hari ini. Aku belum pernah bertemu dia lagi." Rahman menundukkan wajahnya. Lagi-lagi bulir airmatanya jatuh hingga menetes meja. Tapi segera dihapus Rahman.


"Abang akhirnya mendapatkan hukuman dan tidak tenang jiwanya khan?" Rahman mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Adel yang sedikit kesal.


"Ketika aku bersama Adel, semua siksaan bathin itu sedikit terobati. Dan aku bisa bercanda dengan Adel tanpa beban."


Adel ikut menunduk seraya menghela nafas.

__ADS_1


"Itulah! Setiap perbuatan akan ada balasannya. Baik itu perbuatan baik apalagi perbuatan buruk. Hhhhh.....!!! Adel speechless!!"


Hampir satu jam Adel dan Rahman mengobrol serius. Hingga akhirnya keduanya harus berpisah karena jam kerja Adel sudah habis, dan harus kembali kerja. Terlebih Ramzy yang sudah beberapa kali VC dia. Menyuruhnya untuk segera ke kantor dengan mimik wajah kesal.


"Ngapain makan siang bareng cowok lain?"


"Maaf, mas! Adel ga enak aja sama bang Rahman! Sekalian meluruskan semua kesalahfahaman diantara kita. Dan itu pertemuan terakhir kita ngobrol empat mata. Adel bilang sama bang Rahman, lain kali kalo mau ngobrol sama Adel harus bersama mas Ramzy. Itu kata-kata terakhir Adel!"


"Idih? Kata-kata terakhir! Kamu emang pinter bikin cowok-cowok pada belingsatan penasaran sama kamu!" tutur Ramzy masih kesal.


"Maaasss, bukan begitu maaasss!"


"Kamu suka khan sama si Rahman?"


Syut!!!


Ramzy segera menarik pinggang Adel cepat. Hingga gadis pujaan itu kini ada dihadapannya. Dalam rengkuhannya.


"Ngomong apa aja itu si Rahman?"


"Rahasia!"


"Tuh khan, tuh khaaaan!!!"

__ADS_1


Adel tertawa. Mengecup cupid hidung Ramzy yang bangir.


"Demi Tuhan, Adel ga selingkuh. Juga ga ada niatan selingkuh! Adel justru bersyukur, Tuhan memberikan Adel pria tampan yang sempurna, yang menyempurnakan hidup Adel. Dan Adel sangat menunggu pria itu datang melamar Adel menjadikan Adel istri!"


"Waaaah!!! Beneran yaaa.... Sekarang juga aku lamar Adel ke papa mama!"


"Hahaha.... jangan sekarang jugaaaaaa ! Tunggu kak Ella nikah yaaaa!?!"


Adel dan Ramzy tertawa bahagia.


............


"Tidaaaaakkk!!!!!!"


Ella terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi tubuhnya. Mimpi itu datang lagi.


Mimpi yang sudah 3 tahun tidak menghantuinya itu kini datang lagi. Mengganggu tidur malamnya.


Ella terisak dipojok tempat tidur. Menggebuk bantal tidurnya berkali-kali.


"Pergi, kau pergiiiiii!!!! Plis Tuhan, jangan beri aku mimpi itu lagi!" lirihnya pilu.


Malam dingin itu menusuk tulang dan juga sanubarinya. Mengingatkannya kembali pada peristiwa tragis belasan tahun lalu yang sangat ia benci dan ia tutupi rapat-rapat.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2