
"Ella....! Ella sayang! Ini mama nak! Buka pintu sayang! Sikembar mau *****, Nak! Kasihan anak-anakmu, seharian mimik susu botol. Belum mimik ASI. Buka sayang! Ella berhak marah pada papa dan mama! Tapi jangan begini pada kedua putra gantengmu yang tak salah apa-apa!"
"Ella!... Anakku sayang, anakku yang cantik! Buka pintunya Nak!"
Hampir dua jam lamanya, Ella mengeram dikamar. Membuat kedua orangtuanya khawatir terjadi sesuatu pada Ella. Karena tak ada jawaban. Bahkan handponenya juga tak diangkat meski berkali-kali ditelepon.
Ramzy yang dikabari, langsung pulang kerumah detik itu juga.
Membobol pintu kamar istrinya, yang dipanggil tidak mau menyahut juga.
Darah terlihat berceceran dilantai keramik kamarnya yang putih polos membuat Ramzy memekik.
"Ella!!!!!!"
Ella tergolek lemah tak berdaya dengan pergelangan tangan tersayap dan mengalir darah segar.
Diangkatnya tubuh Ella yang setengah basah karena kran shower yang terbuka.
"Ella! Bangun, Ella!"
Ramzy langsung membopong tubuh Ella yang dingin meski masih bernyawa. Mamanya berteriak histeris menyaksikan tubuh Ella yang langsung dilarikan Ramzy kerumah sakit.
Ella pingsan. Berniat bunuh diri.
Syukur nyawanya terselamatkan. Dan stok darah cukup banyak di rumah sakit terbesar dikota.
Ramzy hanya bisa sesegukan meratapi istrinya yang nekad hendak mengakhiri hidupnya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Ella? Kenapa?... Tidakkah kamu memikirkan dua bayi kita sayang? Apa yang terjadi nanti pada mereka jika kau tiada? Hik hik hiks!"
Diremasnya tangan Ella lembut. Diciuminya penuh haru dan kasih sayang.
__ADS_1
"Jangan pernah berfikir pendek lagi, yang! Bagaimana dengan aku juga! Tidakkah kau kasihan pada diriku my Ella? Huhuhu... Sadarlah sayang! Jangan pernah berfikir untuk pergi meninggalkanku dan anak kita! Jangan yang!"
Airmata Ramzy mengalir bagaikan aliran sungai yang sedang banjir karena hujan deras dihulunya.
Meski belum begitu jelas permasalahan apa yang begitu mengguncang perasaan istrinya. Tapi Ramzy memahami dan sangat mengerti kondisi kejiwaan Ella. Sama seperti dia. Yang terkadang bisa terpuruk jatuh didasar jurang yang paling dalam meski orang lain melihat masalah mereka seperti masalah sepele saja.
Jiwanya dan jiwa Ella adalah jiwa-jiwa yang pernah terluka dan patah. Ibarat gelas, hatinya adalah hati yang pernah hancur berkeping. Dan kini utuh kembali karena 'lem' cinta dari orang terkasih.
Tapi jika tersenggol sedikit saja, lem itu cekah dan terbuka. Hingga kembali hancur berpendar karena lemahnya kekuatan lem cintanya.
Mama dan papa Ella datang menjenguk putri mereka. Wajah-wajah lelah tergambar jelas diraut keduanya yang mulai beranjak senja.
Bahkan sang mama tak henti-hentinya mengeluarkan airmata. Mengingat putrinya itu baru saja bertindak nekad ingin mengakhiri hidupnya.
"Ini semua salah papa! Papa lah biang keladinya, Zy! Papa yang seharusnya pergi dari dunia ini!" rutuk papanya dengan suara tertahan tapi langsung dipeluk menantunya itu.
"Papa, istighfar pa! Jangan seperti itu! Hik hik hiks.... Mari kita doakan Ella segera sadar dan kembali sehat seperti sediakala!"
"Sudahlah, pa! Mari kita melihat kedepan. Lupakan masa lalu, lupakan masa-masa pahit dahulu!"
Papa dan mama memeluk Ramzy. Pecah tangis keduanya. Bangga karena memiliki menantu yang sangat dewasa bahkan mengerti kondisi mereka serta Ella anak mereka.
Ella tersadar setelah seharian terlelap dalam tidur panjangnya.
"Sayang! Bicara yang! Jangan diam saja! Jangan seperti ini yang!"
Ramzy menatap penuh kesedihan. Ella siuman. Tapi jiwanya masih terguncang. Hanya tatapan kosong memandang tapi jauh kedepan. Membuatnya bingung melihat keadaan Ella.
Mama dan papanya lebih histeris lagi. Menyaksikan Ella yang sangat drastis keadaannya. Kesehatannya nge-drop. Jiwanya terguncang sangat hebat hingga menjadi seperti sekarang ini.
"Ellaaaa... Ella sayang! Sadar nak! Istighfar Ellaaa! Astaghfirullahal'adziiim..... Astaghfirullahal'adziiiim..... Astaghfirullahal'adziiiim....... Astaghfirullahal'adzim wa atubuillaih.... Naaak, istighfar Nak! Jangan seperti ini! Ella sayaaaang!!! Maafkan mama juga papa nak! Maafkan kami yang tak bisa menjaga dan melindungi kamu sayang! Maaf huaaaaa hik hik hiks Maaf!"
__ADS_1
Mama merangkul tubuh lemah Ella. Mengguncangnya agar tersadar Ella dari lamunan kesedihannya yang mendalam.
"Ella! Bangun Nak! Bangun! Pukul mama! Pukul papa, sayang! Tak apa. Luapkan emosimu! Keluarkan amarahmu! Teriak, sayang! Teriak saja! Maki-maki kami nak! Daripada seperti ini. Mama lebih ridho Ella marahi, daripada Ella diamkan seperti ini!"
"Aaaaaaaaaaaaaaaa........!"
Ella sungguh-sungguh berteriak keras. Berteriak histeris sambil menghentakkan kedua kakinya hingga cairan infusan ditangannya terlepas. Hingga berceceran lagi darah segar dari tangannya.
"Dokteeeeer....!!!" Ramzy teriak berlari keruang dokter jaga. Kembali juga dengan berlari setelah dokter dan seorang perawat ikut bersamanya.
Ella masih menangis histeris. Bergoncang kesana kemari.
"Dokter! Istri saya baru melahirkan 3 minggu lalu!" teriak Ramzy yang sangat khawatir akan kondisi jiwa serta tubuh Ella. Baru 3 minggu lalu ia mendapatkan operasi bedah caesar melahirkan sikembar L. Kini harus menerima guncangan batin sehebat ini.
"Ella sayang! Ella sayang, istighfar sayangku! Anak-anak kita dirumah membutuhkan dirimu, sayang! Hik hik hiks.... Hati-hati jahitan diperutmu, my Ella!"
Ramzy memegang erat jemari tangan Ella yang basah dan dingin.
Suster menyuntikkan obat penenang pada Ella melalui selang infusnya. Perlahan tubuh Ella kembali melemah dan agak tenang. Meski tatapan matanya masih begitu lelah dan kosong.
Tak lama kemudian, matanya mengatup. Ella kembali tertidur. Membuat Ramzy segera mengelap wajah Ella yang basah keringat dan airmata dengan saputangannya.
"Mama, papa! Sebaiknya kalian pulang ya? Biar Ramzy yang mengurus Ella disini! Ramzy titip twins L. Mohon maaf, Ramzy minta tolong pada mama dan papa!"
"Kami.... kami bingung! Hik hik hiks... Kami harus bagaimana sekarang!" Papa tak bisa berhenti menangis. Matanya merah dan bengkak karena menyesali keadaan Ella akibat perbuatannya.
Mama juga sama. Bahkan tubuhnya nyaris limbung jika tak mengingat asma Allah.
"Pulanglah, ma... pa! Izinkan Ramzy saja yang menjaga Ella! Percaya, Ella pasti akan sembuh! Doakan Ella ma, pa! Zy percaya dan yakin.... doa kalian mujarab! Ramzy yakin, doa kalian mustajab. Doakan Ella dari rumah! Itu adalah yang terbaik."
Akhirnya kedua pasutri itu menuruti ucapan menantunya. Mereka pulang dengan langkah lemah dan berat meninggalkan anak dan menantunya.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•