PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BINGUNG, SELALU ADA PERTENTANGAN


__ADS_3

Mira turun dari taksi online yang barusan ia taiki. Tepat didepan gedung tinggi berlantai 12 itu. Yang bertuliskan GEDUNG RAMA CORPORATION TOWER.


Matanya menatap sekitar. Pukul 11 siang. Tentu saja pelataran gedung terlihat lengang karena para karyawannya sibuk dibelakang meja kerjanya masing-masing.


Ini adalah kantor tempat kerja suaminya. Sudah beberapa hari belakangan ini Rahman ingin mengajaknya kesini. Mengunjungi kantor kerja Rahman hingga tiada kesalahfahaman lagi diantara mereka.


Tapi kesibukan bisnis online Mira menjadi penghalang kunjungannya. Dan kini, secara kebetulan Mira ada janji dengan kliennya yang berkantor disebelah gedung perkantoran RAMA CORP tempat Rahman kerja.


Jadi Mira inisiatif untuk memberi surprise Rahman, dengan mengunjungi suaminya itu secara tiba-tiba.


Setelah bertanya pada resepsionis cantik yang ada dilobi perihal ruang kerja pak Rahman Hidayat Soepono, Mira pun mendapat ID card dan bisa naik kelantai 4, ruang kerja suaminya itu. Sengaja ia tak memberitahu kalau ia adalah istri pak Rahman. Supaya surprisenya berhasil.


Ada 4 orang yang masuk lift bersamanya. Membuat Mira cukup tenang karena sedikit kemungkinan ia cengo' sendirian mencari ruangan Rahman, suaminya.


"Mbak, permisi! Ruangan pak Rahman Hidayat Soepono ada disebelah mana ya?"


"Oh, mbak mau ketemu pak Direktur divisi eksport import ya? Mari saya antar. Kebetulan saya karyawan magang di divisinya!"


"Di direktur? Bukan salah orang, mbak?"


"Bapak Rahman Hidayat Soepono khan, mbak?"


"Iya, benar!"


"Beliau Direktur Eksekutif divisi Eksport Import, mbak! Mari, mbak!"


"Alhamdulillah, makasih ya! Mbak namanya siapa?"


"Nama saya Agnes Maharani mbak! Salam kenal!" Agnes mengulurkan tangannya dan langsung disambut hangat jemari Mira.


"Saya Mira Yulita. Saya istrinya pak Rahman!" bisik Mira pada Agnes dengan senyum dikulum.


"Oh, maaf bu Mira! Saya tidak tahu kalau ibu istrinya pak Rahman!" Agnes sedikit gugup karena ia tidak tahu kalau yang berjalan disampingnya adalah nyonya bossnya.


"Slow aja sama aku mah, Nes! Umurmu berapa? Kayaknya kita ga terlalu jauh beda usia deh!"


"Saya 21 tahun, bu!"


"Ya ampun, aku 22 tahun! Ya udah panggil nama aja, secara kita seumuran hehehe, tua an aku setahun deh!"


"Aduh, maaf bu Mira, saya ga berani hehehe! Saya ini karyawan magang, baru kerja 2hari disini."


"Oh pantes hehehe...! Eh Nes, kalau pak Ramzy itu jabatannya apa? Ruang kerjanya dekat dengan suami saya?"

__ADS_1


"Pak Ramzy? Pak Teuku Ramzy? Beliau direktur Utama Eksekutif seluruh divisi bu! Pak Ramzy ada dilantai 2 bu!"


"Berarti pak Ramzy itu lebih tinggi dong ya jabatannya dari suamiku!"


"Hehehe...! Setahu saya, pak Ramzy itu penerus tunggal RAMA CORPORATION bu!"


"Istri pak Ramzy sering mampir kesini ga? O iya aku lupa, kamu anak baru ya Nes? percuma saya tanya kamu juga! Lagipula kak Ella pasti malas kesini karena ada kak Rahman satu gedung sama suaminya!" tutur Mira seperti bergumam pada dirinya sendiri. Membuat Agnes tersipu sambil menunduk.


"Itu ruangan pak Rahman, bu! Ibu bisa tanya-tanya sekretaris pak Rahman. Namanya ibu Sita! Mari, bu..saya pamit undur diri!"


"Terima kasih Nes! Senang kenalan sama kamu! Eh, minta nomor mu dong!"


"Scan QR ya bu? Hehehe... Terima kasih banyak ibu mau berteman dengan saya!"


"Aku yang harusnya berterima kasih! Nanti aku chat ya Nes!"


"Baik bu, dengan senang hati saya!"


Agnes pergi meninggalkan Mira dilorong jalan lantai 4 tak jauh dari ruang kerja suaminya.


Ia menelpon suaminya.


"Kaaaak! Bisa keluar ruangan?"


[Eh? Mira dimana? Dilobi kah?]


[Iya, adek]


Pintu ruang kerja Rahman terbuka. Wajah pria dewasa pujaannya terlihat begitu sempurna dimata Mira.


"Taraaaa!!!"


"Mira? Hahaha... Dikira masih dilobi! Ah senangnya! Ayo, sini!"


Rahman menyambutnya hangat. Merangkul tubuh mungil istrinya dan merengkuhnya dalam pelukan.


"Kenapa Mira ga bilang kak Rahman, kalau mau kesini, sayang?"


"Ish? Ga boleh ya kalo istrinya datang langsung?"


"Bukan begitu, khan kalau Mira cerita dulu, kakak suruh Sita jemput dilobi. Oh iya, Sita! Perkenalkan,... ini istri saya!"


"Oh istri bapak cantik sekali! Masih muda banget, salam kenal saya Sitariana sekretaris bapak Rahman!"

__ADS_1


"Maksudmu apa Sita, saya yang tua banget, punya istri masih muda banget gitu?"


"Upss bukan begitu maksud saya pak! Hihihi.. maaf!"


"Ish, kakak nih! Hehehe mbak Sita khan cuma bercanda ya!?"


"Hehehe.... ga sayang, aku gurau je! Sita tau aku suka humor!"


Rahman merangkul pinggang Mira setelah membuka pintu ruangannya dan membawanya masuk kedalam.


"Nakal kamu kak! Banyak rahasia kamu sama Mira!" kata Mira sembari mencubit pucuk hidung Rahman gemas.


"Maaf sayang! Bukan begitu! Khan aku sering ajak Mira ikut. Biar kukenalkan pada karyawan semua, kalau istriku ini cantik dan masih muda belia!"


"Heleh, pintar deh cari alasan! Jadi kamu itu direktur eksekutif disini? Sama kak Ramzy! Tapi jabatanmu jauh dibawah kak Ramzy!"


"Hahaha... Mira sayang! Kakak ini cuma kebetulan aja memangku jabatan itu. Karena perusahaan kakak itu join venture dengan perusahaan Ramzy. Ya otomatis aku ini bawahannya dia, yang! Cuma naungi divisi eksport import disini. Divisi itu perusahaan kecilku saja! Aku ini pengusaha kelas menengah kebawah."


"Tapi SOFTELLA DEPARTEMEN STORE sekarang jadi panutan departemen store lainnya lho kak!?"


"Lha? Kenapa nyambungin kesana? Itu beda perusahaan Mira sayang!"


"Hehehe cuma bilang aja kak! Memang kakak ga nyesel apa, pernah hibahin perusahaan itu pada kak Ella?"


"Mira! Waktu kakak yang pegang perusahaan itu, justru perusahaan itu ibarat kapal bocor yang sedang menunggu waktu untuk tenggelam. Banyak hutang dimana-mana. Bahkan sampai seringnya karyawan mengeluh diinterogasi dept collector. Pokoknya perusahaan itu justru yang hampir membuat kakak jatuh miskin kembali! Sekarang maju karena kerja keras dan dedikasi Ella yang gigih mengelolanya. Harusnya Mira bisa belajar banyak dari Ella soal perbisnisan yang!"


"Ish! Boro-boro belajar sama kak Ella, sekarang malah kak Ella malas balas japrian Mira. Kalaupun dibalas, balasannya setelah 2 jam. Hhh...!"


"Jangan su'udzon yang! Mungkin Ella sibuk. Khan lagi hamil juga! Kemungkinan masih suka mual-mual!"


"Kakak! Kenapa koq kesannya kak Rahman seperti menganggap Mira rendah ya? Sedang kakak menganggap kak Ella itu tinggi?"


"Astaghfirullah! Ga gitu Mira sayang! Salah tangkap, Mira!"


"Ah, aku koq merasa gimana gitu...pas kakak sebut nama kak Ella!"


"Mira!... Jangan begitu, please kakak mohon Mira ga berfikir seburuk itu pada kakak!'


"Kenapa kak? Kakak takut dipecat kak Ramzy? Atau kakak takut sama kak Ella? Atau memang kakak menganggap Mira ini masih anak-anak yang ga bisa dipercaya, ga bisa kakak andalkan gitu!"


"Mira please! Stop! Jangan diteruskan!" Rahman mendekap mulut istrinya. Memeluk erat tubuh Mira dengan satu tangannya lagi.


Bibirnya lalu menyentuh bibir istrinya yang bawel dan suka lepas kendali jika sudah mengeluarkan isi hatinya itu. Karena jiwa muda Mira yang masih bergejolak.

__ADS_1


Hhhh.....


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2