
"Sudah kamu bilang pada Mira, Man?" Ramzy menanyakan perihal masalah kemarin pada Rahman.
"Maaf, belum Zy! Kumohon, maafkan istriku. Tolong jangan kalian masukkan kedalam hati soal pertanyaan Mira pada Ella! Aku yang salah, bukan Mira! Aku juga ngerti, Ella pasti sakit hati. Tapi kumohon Zy, tolong sampaikan pada Ella,... tetap jaga SOFTELLA. Itu miliknya. Jangan dioper alih lagi! Please! Aku akan mengajak Mira untuk pindah ke Surabaya. Tapi belum sempat bilang ke Mira, masih menunggu waktu yang tepat! Tolong sampaikan maafku pada Ella. Beribu-ribu maaf!"
Ramzy menatap Rahman dengan tatapan lebih bersahabat.
"Kamu mau ke Surabaya Man?"
"Ya. Aku ingin jadi petani saja disana. Semoga Mira mau mendukungku! Setidaknya, aku dan Mira tak mengganggu lagi ketenteraman kalian!"
"Bagaimana dengan kehidupan kalian disana nanti?"
"Aku udah beli perkebunan didaerah pedalamannya. Itu sudah lama kubeli, bahkan sebelum nikah! Kuharap Mira mau ikut denganku kesana. Kami akan membangun rumah kaca disana!"
"Hhhh.....! Semangat bro!"
"Makasih Zy!"
Sore itu Rahman pulang kerumahnya dengan sebuket bunga mawar. Memang, tiada hari istimewa. Tapi setidaknya ia ingin terlihat romantis dimata istrinya tercinta.
Tak pernah ia bertindak melow seperti hari ini. Bahkan memberi Mira bunga dimasa-masa awal pertemuan dengannya pun tak pernah. Hanya pernikahanlah suprise terbesar dan terindah yang ia beri pada istrinya itu.
__ADS_1
"Ini, untukku kak?" mata Mira berbinar indah menatap tepat netra Rahman.
Rahman tersenyum mengangguk. Mira merangkul tubuh tinggi ramping suaminya. Menangis ia dipelukan Rahman.
"Makasih ya, kak! Maaf, beberapa hari ini fikiranku selalu kalut. Terlebih setelah aku membuka kopermu dan menguak rahasia besarmu. Aku...aku terlalu terbawa emosi apalagi kamu sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mengetahui masa lalumu itu! Sebegitu tidak dapat dipercayanyakah aku, kak!?"
"Itu yang mau aku ceritakan sekarang!"
"Iya kah? Kamu mau cerita semuanya?"
"Iya Mira! Tapi kuharap kamu mendengarkan dulu ceritaku ya sayang? Jangan menyela apalagi bertanya. Okey?"
"Aku mengenalmu sejak kecil Mira! Tabiatmu, temperamenmu. Aku... aku secara tanpa sadar, lebih memahamimu daripada dirimu sendiri mungkin!" Rahman tersenyum menatap wajah Mira yang tersipu malu karena suaminya itu tengah 'membaca' jati dirinya.
"Kamu, sama seperti aku ketika kecil. Waktu itu belum lahir Ahmad dan kamu menganggap dirimu itu anak emas, semata wayang. Kamu ceria, tapi cengeng. Kamu bawel, juga berisik dan selalu ingin diperhatikan. Iya khan? Ingat ga, dulu kamu paling suka ikat jempol sama telunjuk kakiku pakai karet gelang kalau aku sedang tidur istirahat dibale warung nasi mamamu!?" Mira terkikik mengingat masa kecilnya yang cukup bahagia.
"Kak Rahman dulu suka tidur sembarangan. Aku suka iseng walaupun kasihan. Kalau ada PR aku suka jerit-jerit pingin dibantuin mikir sama kakak! Hahaha.. padahal disekitar itu banyak juga anak cowok yang mau bantuin aku, tapi aku hanya fokus pada kakak. Tak sangka sekarang kita malah berjodoh!"
"Itulah kuasa Allah! Dulu, mana ku pernah mikir, macarin bocah umur 12 tahun yang cengeng dan selalu berisik gangguin aku. Meski umurku saat itu sudah cukup dewasa, 24 tahun... tapi kala itu, justru aku sama sekali tidak pernah berfikir urusan percintaan."
"Karena terlalu cinta kak Ella ya?" tebak Mira membuat dada Rahman berdesir halus.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan jatuh cinta juga. Tapi karena rasa bersalah yang begitu besar! Juga menyadari kalau semua kesialan dan kesusahan hidupku berawal dari kelakuan bejadku dimasa lalu!"
"Maksudnya?"
"Aku sewaktu kecil kurang lebih sama dengan Mira kecil. Karena merasa punya orangtua berada, aku selalu meminta pada mereka apapun tanpa banyak fikir. Menjadi pribadi yang manja dan suka berbuat sesuka hati.
....
Mami dan papi kakak selalu menuruti keinginan kakak! Semuanya. Sampai usia remaja bahkan kakak tidak pernah mandiri. Teman kakak banyak. Mereka selalu datang dan mengajak kakak disetiap acara pesta. Imbasnya, kakak cukup terkenal dimasa remaja. Tepatnya ketika kakak SMA."
Mira menatap wajah suaminya dengan penuh perhatian. Rahman bercerita mengalir dengan lancarnya. Karena tangan Mira mengelus-elus pundak jemarinya. Seolah menyalurkan tenaga untuk membantu Rahman menceritakan semuanya.
"Setelah itu?" tanya Mira melihat Rahman jeda dan diam sesaat.
"Kelas 3 tepatnya, kakak dan teman-teman merencanakan kemping bersama. Sebenarnya rencana awal adalah mendaki gunung Papandayan. Tapi ternyata beberapa teman yang memiliki rencana jahat mengalihkan kami nge camp di bukit perkemahan. Niat mereka menggoda anak-anak angkatan baru sekolahan kami yang memang sedang camp disana."
"Entah bagaimana ceritanya, aku lupa sampai teman-teman menaruh bubuk obat perangsang diminuman keras kakak. Kami memang terbiasa mabuk dan liar dijalanan ibukota. Kebut-kebutan dan gonta-ganti kendaraan sesuai keinginan hati. Tapi sejujurnya untuk main perempuan, kakak termasuk cowok penakut cewek. Mungkin mereka sengaja melakukan itu supaya kakak punya keberanian sama perempuan!"
Rahman memejamkan matanya. Takut untuk melanjutkan ceritanya. Khawatir Mira terkejut karena dirinya dulu adalah seorang 'monster' yang jahat dan biadab.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1