
"Bangun sayang! Adeliaku sayang! Kamu udah tidur selama 3 hari sayang! Bangun Del! Jangan cuekin aku kayak gini! Hik hik hiks...."
Ramzy terpuruk disamping tubuh Adel yang terbaring lemah diranjang rumah sakit. Tangannya mengusap-usap lembut jemari kekasihnya itu. Matanya terus berlinang seolah sangat menyesal dengan keadaan Adel saat ini.
Ya. Kini Adelia dalam keadaan koma. Setelah kecelakaan lalu lintas 3 hari yang lalu.
"Andai aku tak menyuruhmu pergi duluan, mungkin kecelakaan ini tak akan terjadi. Bodohnya aku! Hik hik hiks"
"Pulanglah, nak! Biar papa yang jaga Adel sekarang! Kamu juga butuh istirahat, Zy!" papa Adel berbisik lembut sambil menepuk lembut pundak Ramzy.
"Ga pa! Ramzy bakal temenin Adel sampe Adel sadar. Ramzy ga akan pulang, pa! Ini semua salah Ramzy! Harusnya Ramzy ga menyuruh Adel pergi lebih dulu! Harusnya Ramzy yang jemput Adel, lalu kita sama-sama ketempat WO itu!"
"Ssstttt.... Jangan menyalahkan diri terlalu dalam, nak! Kita doakan Adel cepat sadar! Pulanglah! Istirahat dulu. Jangan sampai Adel sadar justru kamu yang pingsan!"
Kali ini Ramzy menurut. Papa Adel menuntun Ramzy keluar dari ruang ICCU. Mendudukkan Ramzy yang semakin lemah karena tak tidur selama 3 hari hanya menunggu Adelia didalam.
Diluar ruangan menunggu mama Adel, Fidellia juga mamanya Ramzy. Ketiganya juga terpuruk dengan fikiran masing-masing.
"Bawa pulang Ramzy, bu!"
"Engga', engga', Ramzy ga mau pulang! Ramzy mau tunggu Adel disini! Adel pasti sadar sebentar lagi. Adel udah janji, kita akan bahagia, duduk dipelaminan!"
"Iya, iya... Tapi Ramzy pulang dulu, istirahat dulu, nak! Kamu bisa sakit!"
"Ga papa aku sakit sedikit, pa! Aku kuat koq! Aku ingin disamping Adel sampai Adel sadar! Plis, plis jangan suruh aku pulang ya!... Aku ga apa-apa! Aku bisa minum minuman isotonik!"
Ramzy tetap bersikukuh menunggu dirumah sakit.
"Ya udah! Ramzy disini ya, papa yang didalam!"
"Iya. Tapi nanti aku yang didalam lagi ya pa?!" Papa Adel mengangguk. Senang sekaligus sedih, calon menantunya itu begitu sayang putrinya.
Ella duduk merangkul mamanya yang masih terisak pelan. Sementara Ramzy juga dipegang erat mamanya. Keempatnya terlarut dalam lamunan. Meratapi kejadian berdarah ini. Mengapa semua ini bisa terjadi. Hhhh..... Tiada yang bisa menduga akan semuanya. Kebahagiaan begitu cepat berganti kesedihan yang mendalam.
Hari kelima. Dan Adelia masih koma. Tapi Ramzy tetap setia disamping kekasihnya.
Wajah tampannya terlihat sangat lusuh. Dia tak lagi memperhatikan penampilannya kini. Demi menunggu pujaan hatinya itu terbangun dari tidur panjangnya.
Alat-alat kedokteran masih menempel erat ditubuh dan wajah Adelia. Pertanda kehidupannya masih terekam jelas jejak nadinya disana. Hingga tiba-tiba,....
Tuut tuuut tuuuut.. .
__ADS_1
Tubuh gadis berusia 25 tahun itu bergetar hebat. Membuat Ramzy tersentak.
"Adel! Adel sayang! Adel..... Sayangku!...Dokter, suster..... tolong, pasien sadar!" Ramzy berteriak di mic yang tersalur keruang dokter jaga membuat dua orang dokter dan suster mendatanginya.
Mama, papa juga Ella serta papa mama Ramzy yang kebetulan kumpul diluar juga kaget. Melihat dokter dan suster masuk keruangan ICCU Adelia.
Beberapa tindakan dokter itu lakukan. Ditatap dengan penuh harap oleh Ramzy dibelakangnya.
Adel sadar. Matanya terbuka. Dan tepat menatap wajah belahan jiwanya yang sebentar lagi halal baginya.
"Mas!"
"Adelku sayang! Syukurlah Tuhaaaan.... Hik hik hiks!"
"Adel sadar?" papa dan mamanya masuk keruangan Adel diikuti Ella.
"Boleh dijenguk tapi sebentar saja ya, pasien harus banyak istirahat!" pesan dokter membuat Ramzy tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Papa mama!"
"Iya sayang! Kami semua ada disini, nak! Kami menjagamu! Papa mama Ramzy juga ada diluar," jawab papanya.
Tangan Adel melambai lemah. Seolah memberi kode menyuruh mereka masuk juga.
"Ma, pa, Adel ingin ketemu!"
Mereka semua kini masuk bersama. Tanpa suara karena khawatir mengganggu kestabilan kesehatan Adel yang baru sadar dari komanya.
"Mas! Ka!...."
"Iya sayang,"
Ramzy dan Ella mendekat disisi kiri kanan ranjang Adel. Mereka terkejut melihat Adel meraih tangan Ramzy dan Ella, lalu menyatukannya.
"Adel ingin kalian bahagia!"
"A adeel...."
"A adel i ingin ka ka kalian bahagia. Menikahlah. Me m menikahlah demi Adel!"
Tubuh Adel melemah. Matanya kembali terkatup.
__ADS_1
Membuat Ramzy dan Ella histeris.
"Adel!!!!"
Papa Ramzy berlari keruang dokter jaga. Beberapa dokter dan suster datang melakukan tindakan pada Adelia. Diiringi tangis ketakutan semua orang-orang yang mengasihinya.
"Maaf. Pasien sudah tidak ada."
"Tidak, dokter! Lakukan tindakan lagi! Cepat! Tindakan apapun itu! Masalah uang dokter jangan takut! Tolong selamatkan nyawa istri saya! Dokter! Dokteeeer!!!!"
Ramzy histeris. Bahkan sampai menarik-narik tangan dokter untuk segera memeriksa Adel lagi. Dokter menurut. Tapi kali ini balasannya hanya dengan gelengan kepala dan menghela nafas.
"Dokter!!!! Dokter macam apa, masa' ga bisa sembuhkan pasien! Dokter abal-abal ya anda!"
Ramzy benar-benar histeris. Sementara papa mama Adel masih memeluk tubuh putri bungsunya yang sudah tak bernyawa. Bersimbah air mata.
Seorang suster menutupi tubuh Adel dengan selimutnya, tapi dihardik Ramzy dengan kasar, "Panggil dokter lain! Istriku belum meninggal, suster!"
Ramzy dipeluk erat papanya yang terus membisikkan kata "sabar" padanya.
"Adel masih bisa diselamatkan, pa! Bisa! Adel bisa sembuh! Dokter ngasih keterangan palsu ini!"
"Sadar Ramzy, sadar nak!"
"Papa punya uang, punya kuasa! Cepat telepon dokter hebat yang bisa sembuhin Adel! Cepat!!!!"
Plak.
Papanya menampar pipi kiri Ramzy sambil menangis.
"Lihat Adel untuk yang terakhir kalinya! Bukan buat onar, anak bodoh!" bentaknya kesal bercampur sedih. Istrinya menariknya segera menjauh dari keriuhan kesedihan diruangan itu. Keduanya berpelukan. Menangis meratapi nasib dan takdir yang tidak mereka inginkan itu.
"Kenapa calon menantuku harus pergi dengan cara seperti ini!"
Ruangan Adelia ramai tangisan. Sementara mama Adel pingsan karena tak kuat menanggung beban derita batinnya ditinggal putri bungsunya.
Beberapa suster datang hendak mengambil jenazah Adel dan membawanya keruang mayat rumah sakit.
Tapi lagi-lagi dimarahi Ramzy dengan keras.
"Istri saya bukan mayat! Saya akan bawa istri saya pulang! Ga perlu kalian taruh istri saya disana!"
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•