
Hingga malam, Mira masih mengurung diri dikamar. Tak peduli pada adik dan suaminya. Bahkan seharian ini ia abaikan pesanan toko onlinenya yang membludak. Semua ia serahkan pada para karyawannya yang ada lima orang. Tokonya ada disamping rumahnya. Yang sengaja dibangun Rahman terpisah dari tempat tinggal mereka hingga karyawan-karyawannya memiliki privasi juga.
Mira bahkan tak memasak hari ini. Membuat Rahman memesan go food banyak dan mengajak istri dan adiknya makan bersama.
"Makan dulu yang, nanti kamu sakit! Ayolah!"
"Bodo amat! Aku sakit kamu juga pasti gak peduli!"
"Kamu istriku yang! Mana mungkin aku ga peduli. Mau kakak suapin?"
"Suapin aja sana kak Ella! Dia lagi hamil kembar pula! Jangan-jangan kakak juga naruh sahamnya disana!"
Brak. Suara meja digebrak.
Habis kesabaran Rahman mendengar perkataan istrinya. Sangat menyakitkan. Dan ia semakin tak ingin mendengar celetukan Mira yang semakin ngawur saja.
"Aku pergi dulu! Aku tak ingin pertengkaran kita ini terus berlanjut!"
Rahman pamit setelah mengambil kunci motor dan jaket kulitnya. Membuat Mira semakin gusar dan menangis tak karuan.
Ada penyesalan dalam hatinya, karena terlalu jauh perkataannya. Ini sejujurnya akibat kecemburuan hatinya pada Ella. Pada perempuan yang begitu besar pesonanya dimata suaminya. Bahkan hingga bisa mendapatkan perusahaan dari orang yang kini berstatus suaminya itu. Membuat Mira kalap.
Apalagi Rahman menolak bercerita detil padanya tentang masa lalunya, dengan alasan belum siap. Belum siap apa? Hingga fikirannya kacaunya kemana-mana. Membuatnya mengungkapkan kekesalan hatinya dengan perkataan-perkataan menyakitkan yang unfaedah.
"Kakak kenapa sih? Kasian kak Rahman! Cape pulang kerja bukannya diurus makannya, malah kakak marahin begitu? Khan bisa diobrolin baik-baik kalo ada masalah? Emang cewek itu ngeselin ! Rasain khan, akhirnya ditinggal pergi! Gimana kalo kak Rahman kabur ga pulang-pulang! Jangan nyesel kak!"
Perkataan adiknya membuat Mira terbuka mata hatinya.
Ia melompat dari ranjang. Berlari keluar hendak mengejar suaminya. Tapi sayang, Rahman telah pergi sejak sepuluh menit yang lalu dengan motor vespanya.
Tinggal Mira yang kini berlinang airmata. Menatap jalanan depan rumahnya yang sepi tanpa Rahman.
Mira takut juga kalau Rahman beneran pergi meninggalkannya. Dan kemana kini Rahman, semakin kacau fikiran Mira.
__ADS_1
"Nyesel khan? Nyesel ga, nyesel ga,... nyesel laah masa' engga'?!?" goda Ahmad membuat Mira memukul punggung adiknya itu.
"Dasar nenek lampir! Marah-marah mulu sih kerjaannya! Ditinggal suami baru tau khan!?"
"Diam kamu bocah ingusan!" bentak Mira kesal.
Mira mengambil ponselnya. Menelpon Rahman segera. Tapi hanya suara 'tut tut tut' saja. Karena Rahman tidak menerima teleponnya. Mungkin karena masih dijalan. Membuat Mira semakin gusar.
"Angkat kaaaak, iiiih angkat dong!"
Sementara Rahman pergi kerumah orangtuanya Ella. Disana ia bisa tenang barang sebentar. Bermain catur dengan papa dan makan masakan mama.
Ia merasa seperti bocah kecil yang kelaparan setelah habis pulang bermain bersama teman-teman. Makan dirumah orang tua Ella dengan lahapnya.
"Senangnya, kamu masih suka masakan mama!"
"Masakan mama the best!" pujinya jujur.
"Iya pa! Alhamdulillah, istri saya cukup pandai memasak. Sudah terbiasa sedari kecil masak. Khan mamanya dulu buka warung nasi pa!"
"Oh, pantas! Walau masih muda usianya, dia bisa menjadi istri yang baik!" mama menimpalinya.
"Cuma sifatnya saja ma, kadang masih kekanak-kanakkan!"
"Wajarlah, Mira masih muda! Pingin dimanja! Kalau lihat Mira, mama jadi kangen Adel ya pa!"
"kalo kangen Adel, liat Mira aja ma!" kata papa sambil tersenyum menatap istrinya. Rahman mengamati kedua pasutri yang sudah tak lagi muda itu.
Begitu bahagianya mereka. Rumahtangganya terlihat selalu harmonis dan adem ayem saja. Seperti tak pernah ada masalah.
"Papa sama mama beda usia berapa tahun?" tanya Rahman tiba-tiba.
Keduanya saling tatap. Lalu tertawa berbarengan.
__ADS_1
"Lima tahun!" jawab mama sementara papa mengangkat lima jarinya.
"Kalian berumah tangga sudah berapa tahun?"
"Hmmm.... 32 tahun ya ma?"
"Iya mau 32 tahun, Ella aja umurnya mau 31 tahun khan... Mama cuma kosong 3 bulan, setelah menikah langsung hamil Ella!"
"Hhhmmm.... kalian berdua pasangan yang hebat pa, ma! Solid dan saling dukung!"
"Hahaha... Alhamdulillah, istriku itu wanita yang sempurna buatku! Gak banyak menuntut sedari muda dulu!" puji papa tentang mama. Yang dipuji tersipu dengan wajah merona.
"Tapi kami juga banyak melewati berbagai ujian dan masalah, nak! Setiap rumah tangga itu pasti ada badai dan pertengkaran keributan. Itu bumbu rumah tangga!" kata mama. Seolah faham kalau Rahman sedang galau dirumah tangganya.
"Iya ya ma! Mama juga sering cemberutin papa dulu! Marah gak jelas, ngoceh sana-sini nambah suasana panas!"
"Khan pada dasarnya semua wanita sama, ingin diperhatikan, disayang dimanja! Kadang para suami lupa, mentang-mentang udah nikah, udah jadi hak miliknya... lantas lupa bilang sayang, bilang cinta! Ish nyebelin khan!"
Rahman tergelak melihat papa dan mama saling debat mengenang keributan mereka.
"Iya tapi harusnya para istri itu tahu, para suami itu kerja banting tulang buat siapa, buat istri dan anak-anaknya lah! Boro-boro mikirin cinta-cintaan! Udah capek dengan kenyataan kerja keras bagai kuda!"
"Idiiih!!! Biar begitu tetap harus dipertahankan kata-kata sayang dan cinta! Biar istri tidak salah faham nyangka dinikahi cuma buat jadi babu rumah tangga!"
"Oalaaaa.... mbok ya sadar juga para istri, memangnya kita ini masih ABG yang sayang-sayangan pacar-pacaran!"
"La emang ABG aja yang harus sayang-sayangan? Justru semakin sayang harusnya setelah menikah, bukannya cuek dan jadi hambar!"
"Hahaha..... udah pa ma! Rahman takut kalian jadi ribut beneran ini! Bisa-bisa Ella sama Ramzy gebukin Rahman lagi kalau tahu kalian ribut diantara aku! Hahahaha...."
Ketiganya tertawa terbahak-bahak. Mengenang betapa rumit dan anehnya biduk rumahtangga. Tak mudah memang mendapatkan CINTA. Tapi lebih sulit mempertahankan CINTA.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1