PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERTEMUAN BERBAHAYA MIRA


__ADS_3

"Miraaa!"


Mira melihat seorang pria tinggi melambaikan tangannya dari depan pintu cafe.


Senyum pria itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Gigi gingsul Dika selalu mampu menggetarkan jiwanya. Membuatnya menghela nafas dan menelan salivanya guna meredam rasa dihatinya itu.


Meski kemeja berwarna merah sangat buruk untuk dipakai kaum lelaki, tapi entah mengapa siang itu Dika justru terlihat manis dengan kemeja yang warnanya jreng begitu.


Mereka awalnya duduk berhadapan. Tapi kemudian Dika justru berpindah duduk disamping Mira. Membuat istri Rahman itu agak grogi dibuatnya.


"Ngapain sih duduk deketan gini?"


"Ga apa-apa. Yang penting kita ga bersentuhan khan!? Hehehe..." Dika terlihat santai dengan senyum menawannya.


"Katanya mau ngobrolin bisnis? Ayo, cerita! Aku ga da waktu bermanis-manis sama kamu!"


"Eh, Mir! Masih inget ga sama si Lupi?"


"Hah? Lupi? Lupikir aja sendiri!!"


"Eeeh, ini beneran! Yang duduk di belakang kita waktu kita ada pensi disekolah! Inget ga? Yang teman sekelasku itu! Masa' lupa sih?"


"Ya mana kuinget, Dikaaaa! Kita khan lulus SMP juga udah lama! Lupikir kerjaan gue cuma mengingat-ngingat masa lalu!" semprot Mira kesal karena Dika seolah memperpanjang waktunya agar bisa mengobrol dengannya.


"Nih, dia ternyata masih nyimpan foto kita berdua saat itu! Nih liat deh!"



"Ya Allaaah! Hahaha... aku koq segitu bucinnya yaaa difoto iniiii! Ya Tuhaaaan!" Mira tertawa melihat foto lamanya dengan Dika.

__ADS_1


Seketika memori ingatannya kembali pada masa-masa Sekolah Menengah Pertamanya. Foto ini mereka ambil ketika acara pentas seni perpisahan kelas 3. Yakni ketika pesta kelulusan angkatan Dika.


Hhhh.... Dika dulu begitu populer karena dia adalah seorang drummer di band sekolah mereka. Menjadi pacar Dika adalah kebanggaan baginya kala itu.


Dika, seorang pemuda yang kadang baik, kadang aneh. Kadang polos pendiam, kadang seperti berandalan bergajulan. Setelah Dika melanjutkan sekolahnya kejenjang Menengah Atas, Dika mulai kenal obat-obatan. Membuatnya semakin aneh dan berbeda. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk berpisah ditahun kedua kebersamaan mereka.


Hhhh....


Dika menatap wajah Mira yang melamun dengan senyuman samar dibibirnya. Foto jaman dulu itu masih ditangannya.


Dika merapikan poni Mira. Dan Mira juga seolah terhipnotis ikut-ikutan merapikan rambut Dika. Itu adalah kebiasaan mereka jika bertemu dibelakang sekolah. Tepatnya ditempat rahasia disebelah toilet sekolah SMP mereka.



Tiba-tiba Dika menarik tubuh Mira agar lebih merapat kepadanya.


Treeet treeeet treeeet


"Hallo, kak assalamualaikum!"


Grap.


Dika mengambil hape dari tangan Mira.


"Hei, itu hapeku Dika! Sinikan! Kurang ajar!" pekik Mira dengan suara keras.


Tapi Dika justru mematikan ponsel itu segera. Membuat Mira melotot tajam kearahnya.


"Heh! Apa-apaan sih lu? Suami gue tadi yang menelpon! Berani banget lu melakukan hal ini sama gue! Siapa lu? Bapak gue? Sini hapenya!" Mira marah. Menarik lagi hape dari tangan Dika, tapi hape itu justru Dika masukkan kedalam saku celananya tanpa banyak bicara.

__ADS_1


"Selama bersamaku, tidak boleh ada cowok lain yang mengganggu!" katanya, enteng sekali.


"Gila! Dia itu suami gue! Wajarlah dia telfon gue! Dan lu apa? Siapa?"


"Sstttt.... Udah Mira! Plis, aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Untuk sekali ini saja! Beri aku kesempatan!"


"Orang sarap! Kesempatan apa? Gue udah menikah! Dan tidak akan membuka kesempatan pada pria manapun. Apalagi sama lu, cowok sinting gila miring!"


"Hehehe... bercanda Mira!"


....


Diseberang sana, Rahman yang mendengar teriakan Mira kaget sekali. Terlebih panggilannya dari hape Mira dimatikan. Ketika ia menelpon ulang, handphone istrinya itu justru tak aktif lagi. Membuat jantungnya berdebur keras.


Ia ingat, Mira tadi minta izin padanya akan bertemu Ella dirumah bersalin tempat Ella melahirkan.


Dicobanya menelpon nomor kontak Ella.


"Ella assalamualaikum, maaf...apa Mira masih bersama kamu?" tanyanya.


[Mira sudah pergi setengah jam yang lalu. Katanya ada janji temu sama kliennya di cafe kopi Daun]


"Cafe kopi Daun?"


[Ya. Didaerah Selatan. Coba aja kau goggle map posisi jelasnya!]


"Makasih banyak ya, Ella! Atas informasinya!"


[Ya]

__ADS_1


Rahman langsung meluncur ke TKP yang Ella infokan. Khawatir sekali istrinya kenapa-napa. Karena ia mendengar teriakan Mira dan hapenya sampai saat ini tak bisa lagi ia hubungi. Wajar saja jika ia sangat cemas dan gusar.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2