PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
LAHIRAN BERSAMAAN


__ADS_3

Pernikahan bukan sekedar naik ranjang. Pernikahan bukan sekedar cinta-cintaan. Bahkan pernikahan bukan hanya menyatukan hati dua insan.


Pernikahan adalah awal kehidupan. Awal kebahagiaan. Bahkan ada orang yang mengartikannya sebagai awal kesedihan.


Pernikahan sejatinya diinginkan setiap insan yang telah berfikir dewasa soal cinta. Tak ingin bermain-main lagi dalam urusan cinta mencinta dan dicintai.


Ada tugas dan kewajiban juga hak dalam pernikahan. Seperti wajibnya seorang suami menafkahi lahir batin istri dan anak-anaknya. Wajibnya suami mengayomi serta melindungi istri.


Sama wajibnya istri melayani suami setulus hati. Mengurus dan meladeni suami adalah pahala istri dalam rumah tangga. Walau memang urusan mengurus anak dan rumah tangga bukan hanya tugasnya saja. Tapi juga wajib dibantu suami jika istri membutuhkannya.


Mira dan Ella melahirkan berbarengan tepat di bulan November tanggal 12. Dipagi hari, disaat hujan mengguyur bumi. Bedanya Mira melahirkan normal, sedangkan Ella harus kembali di bedah caesar.


Untungnya ada dokter Bryan dan dokter Astari. Jadi mereka tidak berebut dokter yang sama. Hanya sama-sama diklinik yang sama, yakni di klinik rumah bersalin milik Bryan dan Astarilah yang ditarik paksa untuk membantu persalinan Mira.


Mira melahirkan bayi perempuan sedang Ella melahirkan bayi laki-laki lagi.


"Mas, anak kita laki-laki lagi!"


"Tak apa sayang! Bagiku, lelaki ataupun perempuan sama saja! Yang penting kamu dan bayi kita sehat selamat. Aku sangat bahagia!"


Kali ini Ramzy bisa mengikuti proses operasi istrinya didalam ruangan bedah, mendampingi Ella yang berjuang penuh antara hidup dan mati.


Airmata Ramzy menetes antara terharu juga bahagia. Cintanya semakin besar pada istrinya. Betapa Ella adalah wanita hebat yang Tuhan kirimkan untuknya.


Rahman justru lebih melankolis lagi dikamar sebelah.


Ia tak henti-hentinya meniupi ubun-ubun istrinya sambil berdawam asma Allah.

__ADS_1


Mira mencengkeramnya luar biasa, hingga kerah bajunya sampai sobek kena tarikan tangan istrinya itu.


"Kakaaaak!!! Aduuuh sakiiiit! Ya Allaaah, astaghfirullaaaah....!!! Aduuuh..."


"Ya Mira sayang! Semangat yaa... sebut nama Allah terus yang!"


Meskipun ia terus berkata membantu memompa semangat Mira, tapi sebenarnya tubuhnya juga bergetar takut. Apalagi melihat darah yang keluar dari alat vital Mira. Mual perutnya tapi berusaha ia tahan demi mendukung Mira dan proses kelahiran bayinya.


"Alhamdulillah.... !" Dokter Astari tersenyum puas. Bayi Mira lahir dengan selamat. Bayi perempuan yang cantik manis seperti ibunya, ucap Astari.


"Berarti aku duluan dong yang cinta kak Rahman, mbak?" celoteh Mira membuat seisi ruangan tergelak. Bisa-bisanya Mira berkata seolah melawak.


"Khan kata orangtua dulu, anaknya mirip ibunya berarti ibunya yang cinta ayahnya duluan!" gumamnya lagi sedikit kesal tapi hanya bercanda.


"Kata siapa? Justru ayahnya yang jatuh cinta berkali-kali sama ibunya. Sampai kelakuannya jadi mirip kerbau yang dicocok hidungnya. Turut sama istri, dibentak dimaki...takut ditinggal istri!" Kini Rahman yang berkelakar.


"Aduh, mbak! Dijahit rasanya lebih sakit ketimbang lahiran tadi!" kata Mira setelah selesai proses penjahitan.


Astari hanya tertawa renyah. Asistennya mengurus bayi Mira dengan cekatan. Dan kini sudah ada dipelukan dokter Astari.


"Selamat ya, untuk bapak Rahman dan ibu muda Mira! Ini si cantiknya sudah selesai. Bapaknya mau adzani sekarang?"


"Ah iya!"


"Allahu Akbar, Allahu Akbar...


Asyhadu alla ilaaha illallah

__ADS_1


Asyhadu alla ilaaha illallah


Asyhadu anna Muhammadarrosulullah


Asyhadu anna Muhammadarrosulullah


Hayya 'ala shsholaaah


Hayya 'ala shsholaaah


Hayya 'alal falaah


Hayya 'alal falaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah....."


Berlinang airmata Rahman mengadzani putri mungilnya. Mira dan dokter Astari ikut menitikkan airmata, terhanyut akan gejolak hati Rahman yang penuh haru mendekap tubuh buah hatinya sambil adzan dan iqomad ditelinga kanan dan kiri bayi mungilnya.


"Boleh kuberi nama Adzani Rain AlMira, yang?"


Mira mengerjapkan matanya. Nama yang Rahman ajukan secara spontanitas itu terasa lebih indah dibanding nama yang ia ingin sematkan pada bayinya.


"Aku sangat setuju kak! Sangat manis namanya, sesuai dengan wajah dan kepribadiannya. Aamiin!"


"Aamiin ya Allah!"

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2