
"Mas, mas...!! Mas, bangun! Jangan tidur ditrotoar."
Rahman membuka matanya perlahan. Seorang wanita menyadarkannya. Membuatnya terbangun dari mimpi buruknya.
"Mas sedang ada masalah? Mari masuk, ini klinik saya. Kebetulan, saya adalah seorang dokter spesialis khusus menangani masalah hati." kata dokter Prita dengan suara lembutnya.
"Dokter psikiater?" Dokter Prita mengangguk lengkap dengan senyuman.
Dokter psikiater. Ini klinik Spesialis Kedokteran Jiwa. Mungkinkah gadis yang telah aku gagahi itu sering berobat kesini? Karena tadi kulihat sorot matanya nampak ketakutan. Apakah.....jiwanya jadi terguncang karena kebiadabanku?
Lelehan airmata Rahman terus mengaliri pipi tirusnya. Ia menuruti dokter Prita. Masuk gerbang kliniknya dan duduk didalam ruangan sejuknya.
Dokter itu baik. Memberinya segelas air putih hangat dan sepotong kue coklat yang menggiurkan.
"Kalau mas belum mau bercerita juga tak apa-apa. Silahkan duduk saja, atau kalau mau tidur juga tidak apa-apa! Saya menemani mas menenangkan diri."
"Dokter!"
"Ya? Apakah tadi dokter menangani seorang pasien perempuan cantik dengan dres putih dan rok span selutut?"
__ADS_1
Dokter Prita menatap Rahman. Agak sedikit tegang wajahnya, tapi segera ia rubah dengan wajah santai dan senyuman.
"Pasien saya banyak, mas! Maaf, saya kurang baik mengingat!"
"Saya faham, dokter terikat oleh sumpah janji seorang dokter yang menjaga benar kerahasiaan pasien-pasiennya. Tapi saya sangat butuh info dokter!"
Ternyata pria ini pria berpendidikan. Bukan pria sembarangan yang tengah depresi dan tiduran ditrotoar jalan. Gumam hati dokter Prita.
"Nama saya Rahman Hidayat Soepono. Saya berusia 30 tahun lebih tahun ini. Saya memiliki gangguan kejiwaan karena ulah bejad saya sendiri. Dan mungkin saya termasuk golongan orang beruntung. Saya tidak gila. Hanya depresi dan hidup saya hancur lebur tak bisa melihat masa depan!"
"Saya Prita Anggraeni Sp.KJ. Panggil saja saya Prita. Umur saya 35 tahun dan sudah memiliki 2 orang anak. Terima kasih, atas kepercayaan mas....mengajak saya diskusi!"
Dokter Prita tersenyum menatap Rahman dengan tatapan profesional.
Rahman menghela nafas. Kembali terisak mengingat kebiadaban dirinya belasan tahun lalu. Ketika usia remajanya yang bergelimang uang dan kemewahan. Dikelilingi teman-teman yang entah tulus atau entah karena 'fulus'. Dia masih 'buta'. Belum bisa menilai arti persahabatan sesungguhnya.
Mengalir cerita masa lalu keluar dari bibirnya. Yang dicerna dokter Prita dengan perhatian penuh.
"Saya menemukannya dok! Tadi! Kemungkinan gadis itu baru keluar dari klinik ini!"
"Apa mas melihatnya sendiri kalau gadis itu benar-benar keluar dari sini?"
__ADS_1
"Ti tidak sih! Tapi saya yakin! Karena mobilnya terparkir tepat didepan klinik ini. Saya yakin!"
"Semoga pendapat mas mengandung kebenaran. Dan kita amini. Moga kalian segera dipertemukan lagi! Tapi, kalau boleh saya jujur, pasien saya hari ini baru 2 orang. Pria dan wanita memang. Tapi sang wanita tidak memiliki mobil dan tidak pernah merental mobil juga untuk parkir tepat didepan gerbang saya. karena beliau memang tidak bisa menyetir."
Rahman menatap kosong.
"Maaf, kalau saya menghempaskan harapan mas! Saya hanya ingin mas berfikir jernih dan realistis. Saya tak ingin memberi mas harapan palsu. Mas harus sehat, supaya bisa menemukan gadis yang mas cari untuk memberikan tanggung jawab mas kepadanya! Saya hanya ingin mas terus semangat dalam pencarian tanpa diiringi sakit batin mas yang semakin mendalam. Mari kita berdoa bersama. Tuhan mempertemukan kalian. Dan bukankah ini suatu kemajuan? Mas diizinkan Tuhan melihatnya lagi setelah sekian lama?"
"Tapi itu benar gadis itu! Dan dia berlari, menghindari saya dengan sangat ketakutan lalu masuk mobil, wusss.... mobilnya melaju kencang dok!"
"Siapa wanita pasien dokter? Boleh saya tahu?"
"Maaf, mas! Saya tidak bisa membuka jati dirinya. Ini sumpah profesi saya. Maaf! Tapi saya bisa memberi mas sedikit harapan, saya akan menghubungi mas jika pasien saya itu kemari. Setidaknya, pertemuan kalian tidak terkesan dipaksakan!"
"Apa dokter memiliki akses atau nomor teleponnya?"
"Maaf sekali. Saya sudah tidak memilikinya lagi sejak beliau mengganti nomornya 3 tahun lalu. Karena kerahasiaan pasien juga amanah saya, saya tidak bisa memberikan apa yang mas inginkan!"
Rahman menarik nafas panjang. Mengusap wajahnya yang kusut masai. Membuat hati dokter Prita terenyuh juga. Tapi apa daya, ia tak bisa kebablasan menangani pasiennya. Dan khawatir infonya nanti disalahgunakan.
Meski Rahman terlihat baik dan bukan seperti pria depresi lain pada umumnya, tapi sumpah setia jabatan tetap harus ia junjung tinggi jika tidak ingin resiko kehilangan izin praktek karena terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
__ADS_1
Rahman pamit. Ia memberikan Dokter Prita secarik kartu namanya. Dan sempat ia lihat dengan jelas black card milik Rahman di dompet Gucci aslinya. Membuat dokter Prita semakin yakin, kalau Rahman bukan orang sembarangan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•