PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
ANTARA BERGELUT DENGAN ASMARA DAN AMARAH


__ADS_3

"Kaaak! Kak Rahman!"


"Hm..."


Mira memanggil nama suaminya dari dalam kamar. Membuat Rahman beranjak juga dari sofa, masuk kamar menghampiri Mira.


Rahman menerima 'kebahagiaan' malam itu dengan setengah hati. Menikmati indahnya hubungan halal bersama istri tercinta yang biasanya sangat ia tunggu-tunggu, tapi kini entah terasa hambar.


Padahal malam itu Mira terlihat lebih agresif dan sering memancingnya melakukan kenikmatan-kenikmatan yang dulu sangat ia kagumi dari istrinya itu.


Leher jenjang Mira, rambut-rambut halus yang tumbuh dibawah rambut dipungguk lehernya, kulit halusnya, buah d*danya yang ranum dengan put*ng pink agak kecoklatan disekitar areanya, selalu membuat nafsu bir*hinya meninggi dan mencuat lagi dan lagi.


Mira menyodorkan payud*ra indahnya untuk dihis*p Rahman. Entah, malam ini ia begitu manis menawan dalam menggoda suaminya. Tangannya menarik jari jemari Rahman dengan membantunya mengusap-usap wilayah sensitifnya. Membuat Rahman kembali terangs*ng untuk memberikan kenikmatan lebih pada istrinya.


"Yang.... aku cinta kamu!" bisiknya pada Mira.


"Aku sayang kamu! Aku ingin kamu tahu, betapa aku selalu memikirkan dirimu, Mira!"


"Aah..... aku tahu kak! Aku juga cinta kakak ....aaaah, ah...ya kak... aduuuuh...oh aah iyaa, kakak pinter banget iiih aaauw ah...."


Malam itu desahan Mira membuat Rahman kembali menggelora.


Mira tahu caranya meredam fikiran-fikiran buruk yang tadi bergentayangan dikepala Rahman. Malam itu mereka melewati dua kali permainan karena Mira sudah terlihat bermandikan peluh dan tergolek lemah tak berdaya.

__ADS_1


"Hehehe... maaf kak! Lututku lemas!" gumamnya membuat Rahman ikut merebahkan tubuhnya disamping Mira. Juga penuh keringat.


"Aku ingin punya anak, sayang! Aku ingin merasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah!" tuturnya membuat Mira diam.


"Mira.... udah tidur, ya?" ujar Rahman lagi, dengan kepala menoleh kearah wajah Mira.


"Aku belum siap kak!"


"Karena itu, kamu inisiatif menunda kehamilan dengan suntik KB tanpa bicara dulu padaku sebelum kita nikah?"


Deg.


Mira lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Rahman. Terdengar menohok hati, meskipun dengan nada suara Rahman yang lembut dan biasa saja.


"Kamu ingin menikah denganku dulu. Apa tujuannya? Boleh aku meminta jawabanmu?"


"Kakak kan tahu, aku mencintai kakak sejak kecil."


"Iya. Tapi mengapa setelah kita berencana menikah, lalu kamu ambil keputusan suntik KB? Kenapa? Tidak ingin punya anak kah? Atau.... kamu punya rencana lain, Mira?"


"Kakak...."


"Aku sudah bilang, mari kita diskusikan dulu sebelum melangkah. Dan aku tidak akan marah pada Mira, apapun itu alasannya! Kalaupun Mira ingin minta cerai sekalipun..... Aku pasti akan kabulkan!"

__ADS_1


"Kakak!!!! Bisa-bisanya kakak berkata begitu padaku!!!"


Mira bangkit dan berteriak. Kini nafasnya memburu bukan lagi karena nafsu. Tapi karena emosinya yang mencuat akibat dari perkataan santai suaminya.


"Kenapa selalu bilang cerai, cerai? Apa justru kakak yang sudah bosan sama Mira sampai buat alasan ini itu untuk menceraikan Mira?"


"Bukan begitu Mira! Kakak justru memberikan semua keputusan ditangan Mira! Kakak tidak pernah menginginkan perceraian terjadi diantara kita! Tapi kakak melihat Mira sendiri, kakak justru memperhatikan setiap langkah yang Mira ambil!"


"Kakak itu kepala rumah tangga! Kakak juga harus sadar diri, kakak banyak kekurangan juga. Bukan hanya Mira saja yang selalu buat kesalahan!"


"Ya Mira! Aku sadar, aku banyak kekurangan! Aku banyak memilih diam daripada mengumbar cerita masa laluku semuanya, sedetailnya, karena kufikir itu hanya masa lalu yang pahit dan getir, yang tidak ingin kuingat-ingat lagi keburukannya! Dan aku juga sadar diri, Mira! Aku tidak menudingmu banyak salah. Pernah kamu dengar aku bicara seperti itu?"


"Tapi itu tadi, kata-kata kakak seolah memojokkanku. Membuat aku menjadi seorang tersangka yang telah mengambil langkah yang salah!"


"Okay fine, aku minta maaf! Maaf, aku mungkin terkesan memojokkan Mira! Tapi aku cuma mau tanya, apa impian Mira dalam berumah tangga? Apa? Kita menikah, lalu kita harus apa dan bagaimana untuk bahagia?"


"Iiiih, kakaaaak! Hik hik hiks huaaaaaa... Kakak yang harusnya menuntun Mira untuk bahagia. Bukan justru sekarang malah bikin Mira bingung! Huuhuhuuuuu huaaaa!"


"Aku menuntunmu, mengingatkanmu selalu. Tapi kamu, seolah lebih tahu dan menganggapku suami yang tidak becus mengurus apapun. Itu pandanganmu padaku bukan?"


Hhhhh....


Rahman menarik nafas panjang. Istrinya menangis didalam gulungan selimut. Masih dengan tubuh bug*il ia pun bangkit dari ranjang. Menarik handuknya digagang hanger, masuk kamar mandi guna meredam hawa panas dikepalanya.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2