PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
KEJADIAN TAK DIDUGA


__ADS_3

"Aduuuh....!"


"Kenapa sayang?" Ramzy terkejut mendengar rintihan Ella ditengah malam buta.


"Sakit mas perutku!" kata Ella dengan suara lirih. Membuat Ramzy langsung bangkit, panik seketika.


Ia sadar, kalau Ella pasti kesakitan sekali. Karena istrinya itu nyaris tak pernah mengeluh meski beban berat dan sakit yang masih bisa tertahan.


"Sakitnya seperti apa? Mules?"


"Iya. Sakit seperti cucian diperas gitu, mas! Aduuuh, ya Allah!"


Tambah panik Ramzy melihat wajah Ella basah penuh keringat.


"Yang,... ini baru bulan ke-enam khan? Ga mungkin dong my babies pengen keluar sekarang?" Ia mengelus-elus lembut perut Ella seraya meniup ubun-ubun istrinya.


"Masuk 7 bulan seminggu lagi, mas!" jawab Ella semakin terbata-bata karena rasa sakit yang luar biasa.


Ramzy mengambil handphonenya. Menelpon dokter Bryan, dokter kandungan yang biasa mereka kunjungi tiap bulannya.


Ternyata dokter Bryan menyarankan Ella untuk segera dibawa ke kliniknya. Berarti kondisi Ella cukup darurat juga.


"Mbooook! Mbooook, maaf ganggu! Ella sakit perut, kami mau kerumah sakit dulu ya!" Ramzy membangunkan mbok Surti.


Mereka pergi ke klinik pukul 2 dini hari.


Saking paniknya Ramzy sampai lupa membawa Ella masuk ke mobilnya.


"Paak, bu Ella belum masuk mobil iniii!"


"Astaghfirullah, lupa aku! Maaf yang!"


Ramzy langsung menghentikan laju mobilnya yang sudah hampir keluar dari gerbang rumahnya, lalu mundur dan keluar dari mobil berlari menuju Ella.


Ella hanya bisa tersenyum tipis ditengah rasa sakitnya yang hebat.


"Mas, mas... jangan panik mas! Uuhffff!"

__ADS_1


"Maaf! Maaf sayang!" Tangannya mengapit tubuh istrinya yang lengket basah keringat.


"Mas, maaf, badanku basah gini!"


"Ga papa! Jangan mikirin itu! Sini, sini sandaran ketubuhku yang,... ayo masuk...hati-hati kepalanya terbentur yang!"


Ramzy cekatan sekali memasukkan istrinya kedalam mobil. Didudukkannya Ella dijok depan, dan ia bergegas masuk mobil.


"Sini, sandaran keaku aja yang! Tahan ya, kamu pasti kuat, yang! Bismillah, kita berangkat!"


Ella memejamkan matanya. Berusaha tidak panik meski rasa sakit melilit diperutnya sangat sulit ia kondisikan.


Hanya sholawatan pelan yang bisa ia lantunkan dari bibir mungilnya.


Ramzy meraih jemari istrinya. Dingin dan basah. Membuatnya menarik dan menciumi jemari Ella itu.


"Kuat ya yang! Kamu kuat, kamu istriku terhebat! Semangat!" kata-katanya mencoba menguatkan Ella tapi merebak juga airmatanya.


Ketakutannya ada didepan mata. Kata orang, melahirkan sama dengan mempertaruhkan nyawa. Dan ia sangat takut kehilangan Ella.


Ella tertawa kecil melihat suaminya seolah sedang memberikannya semangat, tapi sendirinya juga down tanpa semangat.


"Mas juga harus semangat dong! Doain kita semua sehat!"


"Aamiin, aamiin ya robbal'alamiin!"


Mobil meluncur tanpa hambatan karena jalanan nyaris sepi tanpa kendaraan.


Ella dituntunnya perlahan memasuki pintu klinik Rumah Bersalin dokter Bryan.


"Suster, tolong ambilkan kereta dorong untuk istri saya!" teriaknya tak peduli ketika melihat seorang perawat berseragam putih keluar dari dalam sebuah ruangan.


"Oh iya, pak! Bapak sudah urus dulu pendaftarannya?"


"Saya sudah telpon dokter Bryan! Kamu suster baru ya?" bentaknya membuat perawat itu pucat wajahnya. Berlari mengambil kereta dorong dan membantu Ella naik keatasnya.


"Mana dokter Bryannya?"

__ADS_1


"Sebentar lagi datang, pak! Maafkan saya!" perawat itu gugup menjawab Ramzy yang sangar.


"Maaaas, jangan marah-marah, mas!" kata Ella pelan berusaha mengingatkan suaminya.


"Maaf sayang, maaf yaaa...! Aku kesel aja, ada pasien koq yang ditanya urusan admin pendaftaran! Harusnya pasien itu diutamakan!"


Ella mengusap-usap tangan Ramzy seraya menggelengkan kepalanya dan memberi kode untuk Ramzy agar tak membahas itu.


"Iya sayang, maaf ya hehehe...!" Ramzy tersenyum malu. Dikecupnya kening Ella. Betapa ia sangat menyayangi istrinya itu.


Dokter Bryan menyambut mereka diruangannya.


"Pak Ramzy tunggu sebentar ya? Biar saya dan asisten saya periksa dulu kondisi bu Ella!"


Ramzy mengangguk. Dengan sabar ia menunggu diluar ruangan.


Istrinya baru saja mau 7 bulan. Tidak mungkin secepat ini akan melahirkan. Dokter Bryan pernah cerita, melahirkan normal itu biasanya sekitar 9 bulan 10 hari atau antara 37-42 minggu. Sedangkan Ella baru masuk 29 minggu.


"Pak! Sepertinya kita harus ambil tindakan segera! Istri bapak harus masuk ruang operasi."


"Istri saya tidak akan apa-apa khan dok? Lalu kedua putra saya apa akan baik-baik saja? Kondisi mereka baru 29 minggu!"


"Mohon doa dan supportnya! Kami pasti lakukan yang terbaik!"


"Tolong selamatkan istri dan anak-anak saya, Dok!"


Ramzy gugup melihat kereta dorong membawa Ella menuju ruang operasi. Ella harus dicaecar jam ini juga.


Kondisi kehamilan kembar membuatnya tidak kuat melanjutkan kehamilannya sampai usia 9 bulan. Ditambah Ella memang memiliki riwayat tekanan darah rendah.


"Pak! Stok darah golongan B kebetulan habis diklinik. Mohon bapak mencari bantuan donor segera!"


Seorang suster mengatakan sesuatu yang semakin membuat Ramzy tambah panik.


Kekhawatirannya menjadi berlebihan. Hingga tumpah airmatanya. Takut sekali kalau Ella sampai meninggal.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2