
Ella duduk dikursi. Sementara papa dan mamanya duduk dipinggiran ranjang tidurnya.
Matanya basah mendengar cerita papa dan mamanya tentang kisah cinta mereka. Sangat tragis dan... mengecewakan Ella.
Papanya menangis sesegukan meminta maaf padanya yang telah begitu lama 'dibohongi'. Mama memohon pada Ella untuk bisa mengerti keadaan mereka dahulu.
"Papa, mama..... Sebegitu hebatnya kalian menyimpan rahasia ini sampai hari ini! Bahkan sampai detik ini diusia Ella yang akan 32 tahun? Bahkan Adel, sampai akhir hayatnya tidak mengetahui "rahasia" kalian ini? Hebat! Hebat!!!"
"Ella..."
"Hebatnya kalian, menyimpan semuanya. Padahal selama ini.... aku sangat menyanjung kalian! Menjunjung cinta suci nan sejati kalian!... Ternyata, papa itu lelaki yang sama saja seperti pria-pria hidung belang diluar sana!"
"Ella! Jangan bicara seperti itu pada papamu!" mama berteriak memarahinya.
"Mama! Sebegitu besarnyakah cintamu pada pria yang pernah berbagi hati serta cintanya padamu dan pada wanita itu?"
"Ella! Papamu tidak seperti itu!"
__ADS_1
"Biar, ma! Biarkan Ella mengungkapkan kekesalannya. Biarkan semua kekecewaannya pada papa ia utarakan!"
"Hahaha...hebatnya! Sangat hebat kalian para pria bajingan! Kalian sangat bisa mengendalikan para wanita dengan alasan cinta suci dan kesetiaan! Tapi dibelakang kalian memperlakukan istri-istri kalian seperti budak pemuas nafsu kalian!
Dan kau, papa...! Kalau kau cinta mama, kenapa tidak sedari awal keluargamu menyuruhmu menikah lagi, kau berinisiatif pergi melepaskan diri membawa mama serta. Kenapa harus menikah dulu, dan wanita itu ternyata memberimu keturunan seorang anak perempuan lagi. Dan orangtuamu mengusirnya, baru kau pun ikut minggat meninggalkan mereka sampai saat ini! Kenapa? Kenapa harus sampai kau bagi dulu dirimu pada wanita lain selain mamaku baru kau punya pemikiran pergi? Kenapa???"
Ella begitu histerisnya. Sementara mamanya menghambur kearah Ella. Berusaha menenangkan putri tercintanya yang terlihat kalap dan sangat tidak stabil kondisi kejiwaannya.
"Sudah Ella! Itu bukan salah papa sepenuhnya!" ratap mama berurai airmata. Sedang yang tengah dihakimi Ella hanya menggelosor kelantai. Menangis sesegukan dipinggir ranjang.
"Lantas itu salah siapa? Salah mama? Salahkah mama yang divonis Allah tidak bisa memberi keturunan seorang anak laki-laki? Salah mama sehingga pria ini bisa dengan mudahnya memberi opsi menerima pernikahan lagi asal dengan wanita pujaannya dijaman sekolah? Itu semua salah mama kah? Ella tanya, jawab ma!"
"Apa kalian tahu? Apa kalian tahu kalau anakmu ini, yang harus menanggung beban penderitaan akibat perbuatan kalian? Kalian tahu, ada apa dengan aku, ma, pa?... Kalian tidak tahu! Karena bertahun-tahun lamanya, aku juga menyimpan rahasiaku pada kalian juga pada almarhumah Adelia! Dan kini baru kutahu,... kenapa aku harus 'terpilih' mendapat nasib buruk ini? Kenapa? Yang dulu selalu aku pertanyakan dalam hati. Kenapa aku harus jadi perempuan 'hina'. Ternyata semua adalah karena dosa dari pria ini rupanya!"
Plak.
Mama menampar pipi Ella. Membuat Ella menatap sedih netra mamanya yang penuh kaca juga genangan airmata.
__ADS_1
"Sebegitu cintanya kah mama sama orang ini? Sampai mama menamparku, ma! Sampai mama tidak bisa mengendalikan diri karena aku menghinanya didepanmu?"
"Jangan teruskan, Nak! Mama tahu kamu kecewa! Mama tahu, kamu shock Ella! Tapi jangan diteruskan ucapanmu itu! Hik hikhiks Dosa besar sayang! Jangan durhaka pada papa, Nak! Papa tidak sejahat yang Ella fikir!"
"Lantas apakah pria yang memperkos*ku juga tidak jahat menurut mama? Apa bisa mama berfikir juga seperti itu?"
"A apa?? Apa maksud Ella?"
Mama dan papanya terperanjat. Menahan nafasnya dengan mata berfokus pada Ella.
"Kalian tidak tahu khan,.... dosa pria ini aku yang tanggung! Aku diperk*sa pria bejad dibumi perkemahan sewaktu pulaang dari mengantarkan buku panduan gugus Pramuka Adel. Kalian masih ingat? Kenapa sejak itu aku berubah? Kalian masih mengingatnya? Kenapa aku tidak mau bicara pada Adel, dan aku hanya mengurung diri dikamar? Kalian tahu apa penyebabnya aku jadi jadi seperti itu? Tidak khan? Karena aku sangat menghormati kalian! Karena aku tidak ingin kalian ikut sedih berkepanjangan. Karena aku selalu menjaga perasaan kalian! Tapi kalian,..... terutama pria ini! Yang kujaga perasaannya. Yang kujunjung tinggi setinggi langit diangkasa. Ternyata,........."
Kedua orangtua itu merangkul Ella. Pecah tangisan ketiganya. Pecah semua kaca dihati mereka. Berhamburan segala rasa, terburai bagaikan serpihan dan kepingan yang tak jelas bentuk rupanya.
Ella mundur. Ella menjauh dan pergi berlari kelantai atas. Masuk kedalam kamarnya. Menangis ia sejadi-jadinya. Meratapi nasib yang dulu dan kini.
Menyesali pada apa yang telah terjadi. Apakah bisa ia putar kembali? Ingin rasanya ia merubah semua takdirnya dimasa lalu. Karena rasa sesak didada membuatnya jatuh limpung tak berdaya.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•