
Ella celingak-celinguk masuk dapur apartemen. Ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan tempat tinggalnya kini.
Sementara Ramzy entah kemana. Ketika ia keluar kamar, tak ia jumpai batang hidung pria itu. Juga tanpa pamitan.
Ella tak peduli juga. Justru ia senang dengan keadaan itu. Membuat ia lebih leluasa melihat-lihat apartemen tempatnya kini.
Kepalanya mengangguk-angguk, puas dengan semua ornamen apartemen juga perabot dan perkakasnya. Lengkap.
Sepintas tak jauh beda dari rumah pada umumnya, hanya letaknya saja yang bukan bertumpu langsung pada bumi. Tapi jauh diatas bumi. Tepatnya apartemen Ramzy ada dilantai 15.
Ella melihat bungkusan roti tawar didalam lemari es. Lengkap juga. Tersedia butter, keju juga coklatnya.
Ia inisiatif sendiri membuatkan sarapan. Selain untuk dirinya sendiri, juga untuk Ramzy.
Taraaaaaa..... Dua tangkup roti isi beda isian. Ia potong serong menjadi empat bagian. Dua untuknya dan dua untuk Ramzy. Lalu dua gelas susu nonfat juga ia siapkan.
Tak peduli apa Ramzy suka dan menerimanya, yang penting ia cukup peduli sebagai sesama penghuni satu atap apartemen. Karena biar bagaimanapun ia tetap harus baik pada pria yang harusnya jadi adik iparnya itu.
Tiba-tiba Ramzy pulang. Membawa bungkusan plastik.
"Nih!"
"Apa?"
"Kebab!"
"Aku udah buat roti isi sederhana tuh dimeja makan!"
"Itu roti udah tiga hari! Udah lama, takut jamuran juga kadaluarsa!"
__ADS_1
"Belum tuh! Kebab juga belum tentu sehat! Apalagi dikonsumsi pagi-pagi begini!"
"Jangan salah! Kebab itu sarapannya orang Timur Tengah sana! Ya ga masalah lah!"
"Ya itu bagi mereka yang terbiasa. Bagi kita orang Timur Asia, bermasalah!"
"Terserah! Makan aja masing-masing!Kepunyaan masing-masing!"
Dua orang keras kepala kembali pada posisi normal mereka. Sama-sama dingin, keras dan tak ada yang mau mengalah.
Ella mengangkat bahu. Keduanya bersitegang tapi masih duduk berhadap-hadapan didepan meja makan. Ramzy dengan kebabnya dan Ella dengan roti isi buatannya.
Hingga pada akhirnya keduanya saling tatap tajam dan melihat makanan mereka masing-masing.
"Ya udah deh, nih tukeran sepotong-sepotong!" Ramzy inisiatif lebih dulu mengalah. Membuat Ella menyeringai puas. Padahal ia juga beleneg makan 2 tangkup roti isinya dan tergiur juga melihat lelehan keju dan daging isi dikebab yang Ramzy makan.
Sejujurnya keduanya bingung dihari pertama mereka sebagai suami istri. Terlebih mereka telah men-off rutinitas mereka sebagai pekerja selama beberapa hari.
Ella ambil tindakan bersih-bersih. Karena sejatinya ia adalah wanita yang resik dan terbiasa membantu mamanya sedari kecil.
Ramzy lebih santai dan seperti biasa. Mbossy. Ia hanya duduk manis diteras balkon sambil membaca koran dan majalah. Ramzy memang orang yang haus informasi. Ia suka apapun berita. Mulai dari berita aktual hingga kriminal. Hanya berita gosip saja yang ia jarang ikuti. Kecuali tengah bosan.
Ia terkejut juga. Melihat Ella yang tanpa disuruh begitu sigap memainkan perannya sebagai istri.
Padahal untuk urusan bersih-bersih apartemen, ia biasa menyuruh OB kantor setiap minggunya. Dan juga jasa cleaning service perbulannya. Itu sebabnya apartemennya selalu rapi dan wangi.
Ella masih sibuk dengan penyedot debu. Ia agak kesulitan karena vacuum cleancer milik Ramzy lebih canggih dari kepunyaan keluarganya.
"Zy, Ramzy.....!"
__ADS_1
"Apa sih?"
"Ini tolongin gimana ini buka penyedot debunya? Mau aku buang debu2nya ketempat sampah!" suara Ella terdengar keras dari dalam ruangan. Membuat Ramzy berdecak.
"Ck. Gitu doang ga bisa!"
Ia berjalan menghampiri Ella yang masih kebingungan membolak-balikkan penyedot debu.
Ramzy pura-pura menyepelekan Ella, padahal dia sendiri tidak tahu caranya membuka wadah debunya karena tidak pernah menggunakannya sendiri.
Prak!
Wadah terbuka dan debu menghambur berantakan dilantai.
"Ish dasar! Bilang aja kalo kamu juga ga tau! Sama noraknya khan, sebelas dua belas... macam si Iteung sama si Kabayan!" gerutu Ella kesal. Tapi tak digubris Rahman.
"Tuh khan, jadi kerjaan dua kali ini!" sungut Ella mengambil lagi penyedot debu yang ada ditangan Ramzy dengan kasar.
Ramzy diam. Tapi ia langsung berdiri dan mengambil serokan. Membantu Ella yang sibuk dengan sapu kecilnya menyerok debu halus yang tadi berjatuhan.
Ella bersyukur. Ternyata Ramzy tidak sedingin yang ia pikirkan. Ramzy pria baik yang punya empati tinggi juga rupanya.
"Kenapa kamu baik padaku?"
"Karena kamu adalah kakak dari orang yang paling kukasihi!"
Ella diam. Membenarkan ucapan Ramzy. Karena memang dari awal pernikahan ini terjadi juga adalah campur tangan Adel. Dan Ella tidak kecewa pada jawaban Ramzy.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1