PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
TAWA DITENGAH KESEDIHAN


__ADS_3

Mengaji adalah salah satu cara relaksasi yang baik untuk mengungkapkan kepenatan jiwa yang melanda.


Mira, Ella, Agnes bersama Rahman, Ramzy dan juga Bryan serta para santri yang sengaja mengaji khusus almarhum papa.


Mendoakan almarhum dan almarhumah, adalah jalan terbaik untuk melapangkan kuburnya. Menghapus dosa-dosanya, serta mempermudah jalannya diharibaan Illahi Robbi.


Mira yang tadi memendam dongkol dan jengkel, perlahan mencair dan luruh juga pada Rahman, melihat serta mengamati wajah polos suaminya yang terlelap meski hanya tidur menggeletak dilantai beralaskan kasur lantai saja.


Tangannya ia usapkan dipipi Rahman yang tirus.


Betapa ia melihat, pengorbanan Rahman padanya juga pada keluarga Ella. Teringat semua perjuangannya dalam cinta dan persahabatan yang tak main-main.


Akankah kudapati sosok yang seperti ini di pria lain? bisik hatinya lumer.


Meski Rahman terkadang menyebalkan karena kelewat diam dan dingin,... tapi cinta Rahman bisa ia rasakan tulus dari dasar hatinya yang paling dalam.


Rahman tak pernah kasar memarahinya. Dimana banyak temannya yang curhat bercerita dengan tangisan memilukan, tentang suami-suami mereka yang suka main tangan.


Suaminya tak pernah melakukan itu, meski kadang justru tangannyalah yang sering kelepasan membawa amarah dan memukuli tubuh jangkung tipis itu.


Mira mengelus-elus rambut suaminya. Tersenyum menyadari, mungkin dibalik ketidak percayaan Rahman menceritakan kisah Ella padanya, hanya karena tak ingin ia terlalu ikit campur dalam urusan kak Ella...yang bisa membuat pertemanannya merenggang karena kekepoan yang membawa musibah.


Rahman terkejut. Menyadari Mira tengah mengusap wajahnya.


Jantungnya berdebar kencang. Sangat khawatir jika istrinya melakukan hal-hal yang membuatnya lepas kontrol. Pura-pura ia masih tertidur lelap. Hanya ingin tahu, tindakan Mira selanjutnya padanya.


Rahman tahu, Mira tak mungkin melakukan hal-hal yang tidak baik. Tapi temperamen dan jiwa mudanya masih sangat menggelora, membuat Rahman takut juga kalau-kalau Mira kesal dan menyakitinya.


Istrinya itu sulit ditebak jalan fikirannya. Kadang membuat Rahman ekstra keras untuk mencari cara guna meredam amarah Mira yang meledak-ledak.


"Yang! Kamu belum tidur? Ga bisa tidur ya, dikamar?"


Mira kaget mendengar suara halus Rahman. Malu juga ia tergep suaminya ketika tengah mengusap-usap wajahnya.

__ADS_1


"Iya!"


"Sini, tidur sini dipelukanku!" bisik Rahman membuatnya merah merona.


"Kakak...ih! Banyak orang lho! Jangan nakal!"


"Stttt....! Siapa yang nakal sayang? Ya udah, kamu masuk kamar lagi sana! Tidur sama Agnes sama Ella, yang! Sudah jam 1 lewat."


"Aku ga bisa tidur! Temenin masak mie yuk?"


"Bukan cari alasan untuk marahin aku didapur khan?" bisik Rahman ditelinga Mira.


"Ya itu...salah satunya! Syukurlah kakak ingatkan!"


"Hhhh.... Yaaang! Ini tengah malam yang! Besok aja marahnya dirumah yang!"


"Kakak lapar ga? Yuk, makan mie semangkuk berdua!"


"Beneran?"


"Iya!"


"Ish dasar!"


Mira berjalan kedapur diikuti Rahman. Ternyata lampu dapur menyala.


"Sttt....!! Ada orang juga ternyata didapur!" bisik Mira, menghentikan langkahnya segera. Membuat Rahman ikut memasang telinga, menguping siapa yang ada didapur di jam satu lebih seperempat itu.


"Bryan? Sedang apa kau?"


"Masak mie bang! Untuk Agnes!"


Agnes menyembulkan kepalanya dari balik pintu belakang kebun belakang papa.

__ADS_1


"Agnes?"


"Agnes maag nya kumat. Karena dari kemarin ga makan dia! Nasi habis, jadi aku inisiatif masak mie orek untuk Agnes!"


"Sekalian boleh?" goda Rahman pada Bryan.


"Oh, abang sama mbak mau juga? Okay, aku tambahi porsinya!"


"Yes, keren nih...punya adik seperti dokter Bryan!" sambut Mira membuat Bryan tersipu.


"Panggil saja aku Bryan, mbak!"


Agnes tersenyum malu melihat Mira mengedipkan sebelah matanya pada Agnes.


"Hei, hei, hei.... ribut-ribut apa ini di dapur?"


Hampir semuanya melonjak. Suara Ramzy menggema mengagetkan mereka.


"Hadeh, copot jantungku Zy!"


"Hehehe... maaf aki-aki! Aku mau cuci botol susu anak-anakku! ASI Ella keluar sedikit karena kurang asupan dari kemarin, jadi harus dibantu susu formula! Sebagai bapak yang baik, aku harus siaga membantu istriku!"


"Mira sayang! Kapan aku bisa jadi ayah siaga juga macam si Ramzy ini? Hiks!"


"Nanti. Kalau mas bisa membuktikan kepercayaan mas sama Mira!"


"Eh? Kepercayaan apa? Aku selalu percaya istriku khan?!"


"Apa? Percaya apa? Kamu ga bilang kalau Agnes itu adiknya kak Ella!!! Ha... sekalian, sini telingamu kak! Kujewer sekalian mumpung amarahku kembali timbul!"


Agnes, Bryan dan Ramzy tertawa melihat tingkah pola Mira dan Rahman yang lucu menurut mereka.


Hadeeeeuh......

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2