PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERTEMUAN MENYAKITKAN


__ADS_3

Keesokan harinya Mira dan Ella bertemu disebuah resto tak jauh dari SOFTELLA DEPT STORE, kantor pusat milik Ella.


Tadinya Rahman mengajaknya turut serta ketempat kerjanya. Tapi ia tolak dan berkata lain hari saja. Karena ia ingat telah janji temu dengan Ella. Tanpa sepengetahuan Rahman tentunya.


Meski Mira dan Rahman telah kembali seperti biasa, tapi dalam hati kecil Mira masih tersisa tanda tanya yang besar. Dan ia hanya ingin bincang-bincang bercerita bertanya ilmu dan pengalaman pada Ella secara Ella berusia lebih dewasa dibanding dia.


"Kakak apa memang sengaja planning program memiliki bayi kembar kak?" tanyanya pada Ella.


Ella menggeleng cepat.


"Sama sekali ga pake program-programan Mir! Ini kuasa Allah! Anugerah terindah banget dari yang Maha Kuasa buat kami berdua!"


"Ah senangnya!"


"Iya, seneng banget! Apalagi mas Ramzy sekarang makin posesif banget sama aku, harus hati-hati kalo jalan lah, jangan lari-lari lah, jangan makan sembarang lah! Ish pokoknya suami siaga banget dia!" Ella begitu antusias bercerita. Matanya berbinar indah mengungkapkan betapa bahagianya ia. Mira ikut tersenyum mendengar celotehan Ella.


Ditatapnya Ella dengan sangat seksama.


Memang kak Ella sangat cantik. Meskipun usianya sudah 31 tahun kini. Aku merasa sangat jauh berbeda dibanding dia. Apalagi kini auranya begitu terpancar bagaikan bidadari. Senyumnya, manis sekali. Pantas kak Rahman begitu memujanya.


Mira bergelut dengan fikirannya. Matanya tak lepas dari wajah Ella.


Ia sendiri yang seorang perempuan, begitu terpukau melihat inner beauty kak Ella. Apalagi para pria. Pantas saja kalau mas Ramzy begitu posesif menjaganya. Hingga tak ada ruang sedikitpun untuk kak Rahman mendekatinya. Begitu fikirnya.


"Kakak, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya aja. Moga bisa kujawab ya, hehehe...!"


"Kakak berhubungan dengan kak Rahman berapa lama?"


"Hah? Berhubungan dengan... Rah Rahman??? Maksud Mira?" Ella tercekat. Kaget pada pertanyaan Mira.

__ADS_1


"Maaf kak! Aku,... aku hanya mengetahui kisah kalian sedikit. Aku... hanya ingin mendengar kisah kalian dari bibir kalian, bukan dari orang lain! Maaf kak, kalau aku membuka kisah lama kakak dan kak Rahman!"


"Mira! Apa maksudmu??? Apa ga sebaiknya kamu bertanya langsung sama suamimu?" Ella tersentak. Sedikit gusar dan pucat pasi seketika wajahnya.


Mira memandang Ella agak bingung.


"Aku udah tanya, tapi kak Rahman ga mau cerita. Katanya masih belum bisa bercerita padaku kak!"


"Hhhhh...... Kamu, berani menanyakan hal ini langsung padaku? Kamu, memang mendengar sedikit cerita kami itu yang bagaimana?" Nada bicara Ella berubah. Tak lagi ramah seperti tadi. Bahkan terdengar Ella menekan ucapannya yang dingin agar tak terdengar ketus.


"Aku, aku justru tidak tahu. Dan aku ingin tahu. Sangat ingin tahu. Aku melihat sertifikat pengalihan perusahaan kak Rahman kepada kak Ella! Maaf, aku pusing dengan prasangka burukku! Aku hanya ingin dihargai sebagai seorang istri."


"Dan aku disini juga ingin kamu hargai sebagai seorang sahabat, seorang kakak!" kata-kata tajam Ella seperti menikam dadanya. Jleb.


"Salahkah aku ingin tahu kak? Apa kalian pernah menikah siri sebelumnya? Salahkah aku bertanya pada suamiku dan juga kakak?"


"Tidak. Kamu tidak salah! Tapi justru yang seharusnya yang marah dan kecewa padaku itu adalah suamiku, bukannya kamu! Tanya sendiri pada suamimu! Jangan tanyai aku!"


"Kakak!"


"Cukup! Maaf Mira! Aku harus pergi dari sini! Obrolan ini tak guna bagiku! Dan aku tidak ingin kamu menelisikku dengan pertanyaanmu yang ga penting dalam hidupku! Permisi!"


Ella pergi, meninggalkan Mira yang mematung seorang diri.


Semakin tak mengerti ia pada apa yang sebenarnya telah terjadi.


....


Tuut tuuut tuuuut


Hape Ramzy berbunyi.

__ADS_1


Iya, halo selamat siang!... Apa? Istri saya pingsan? Iya? Dimana, dibawa kerumah sakit Ampera Hospital? Oiya iya .. Terimakasih sudah menghubungi saya!


Ramzy panik mendengar kabar Ella pingsan dikantornya. Ia berlari cepat menuju pintu lift. Bergegas ke basement menyalakan mesin mobilnya.


Istrinya yang sedang hamil 5 bulan jalan itu pingsan. Otomatis ia begitu khawatir pada keadaan Ella beserta dua janinnya.


Ella masih diperiksa dokter kandungan.


"Bagaimana dok, keadaan istri saya? Bagaimana juga dengan janin-janin bayi kami?" tanyanya setelah dokter keluar dari ruangan Ella.


"Ibu Ella kelelahan. Syukurlah tidak terjadi flek juga. Dan kedua jabang bayinya hanya gelisah saja. Mungkin ibu Ella terlalu banyak pekerjaan, pak! Tolong diawasi setiap kegiatannya ya pak Ramzy!"


"Ah iya dok! Terima kasih banyak dok!"


Ramzy masuk segera kekamar rawat inap istrinya. Ditangan Ella terdapat selang infusan membuatnya tak tega melihatnya.


"Sayaaaang! Ya Allaaah.... Khan aku udah kata, ambil cuti yang! Biar si Rahman yang ambil alih dulu sampai kamu melahirkan! Atau ada Meynar yang asistenmu itu mengambil tugasmu!" Ramzy memeluk tubuh Ella yang tergolek lemah tak berdaya.


Ella tersenyum menatap wajah suaminya.


"Ga apa yang! Aku baik-baik aja!"


"Apanya yang baik-baik aja, kamu pingsan yang! Untung pingsannya dikantor, coba kalo dijalan...atau di tempat lapangan. Haish! Udah, mulai saat ini...kamu dirumah aja, jaga bayi-bayi kita!"


"Iya mas! Aku juga ingin memberikan perusahaan itu lagi pada si Rahman. Capek aku dengan semua ini!" Airmata Ella meleleh. Membuat Ramzy menatapnya sedih.


"Kenapa? Ada masalah kah? Apa? Perusahaan itu butuh suntikan dana yang?"


"Bukan! Udah ah, aku males! Aku mau oper alih lagi perusahaan itu. Itu punyanya orang itu! Biar dia dan istrinya yang urus! Aku ga mau lagi peduli yang! Hik hik hiks..."


"Iya, iya! Cup cup cup....sudah sayang hmmmm jangan sedih yaa...nanti anak-anak kita ikut sedih! Sini, sini peluk aku! Cup cup cup!!!"

__ADS_1


Ella menangis dalam pelukan suami kesayangannya. Mereka memang pasangan yang telah saling memahami satu sama lain.


__ADS_2