PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
JELANG BAHAGIA


__ADS_3

Rahman mendatangi rumah papa dan mamanya Ella. Ia memohon pada mereka untuk menjadi walinya dalam meminang Mira.


Melihat Ramzy dan Ella begitu bahagia, membuat dirinyapun iri ingin segera berumah tangga. Selain merasa semakin tua dan butuh seseorang yang mendampingi, Rahman juga semakin merasa bahwa Mira memanglah gadis yang Tuhan kirimkan untuknya. Itu sebabnya ia tak ingin berlama-lama juga menunggu hari H tiba.


"Kamu mau acara yang bagaimana, Man?"


"Biar sepaket ajalah pake WO, ma! Jadi ga ribet buat urus ini-itu!" tutur Rahman ketika ditanya mamanya Ella.


"Keluarga Mira udah dikabari?"


"Mira yatim piatu pa! Hanya Ahmad saudara satu-satunya. Ada juga adik lelaki bapaknya yang akan menjadi wali nikah kami nantinya. Makanya, Rahman ingin kalian juga ikut mendampingi kami yang memang tidak punya banyak saudara!" cerita Rahman membuat Ella yang tengah ada dirumah orangtuanya itu ikut terenyuh juga. Selain kini Ramzy dan Rahman telah menjadi teman, Rahman juga yang baik dan menghibahkan perusahaannya untuk dia urus bersama papa mamanya membuat Ella akhirnya ikut buka suara.


"Aku dan Ramzy yang akan mengurus acaranya nanti!"


"Sungguh? Terimakasih ya La! Terima kasih banyak atas kebaikan dan kebesaran hati kalian! Aku doain, kalian bahagia selalu, banyak rezeki dan segera punya momongan!"


"Aamiin!" papa dan mama Ella tersenyum. Lega rasanya kini Ella telah bisa sedikit santai dan akhirnya mau menerima Rahman sebagai 'saudara'.


Memang, hingga detik ini kedua orangtuanya tak mengetahui rahasia hidup yang pernah terjadi antara Ella dan Rahman. Hanya Ramzy saja yang tahu dan Allah Ta'ala tentunya.


Takdir Tuhan tidak bisa kita rubah, kecuali nasib. Itupun berubah jika si manusianya sendiri yang ingin merubahnya kearah yang lebih baik.


Yang pasti Ella kini tak ingin menyimpan dendam berkepanjangan yang membuat luka hatinya menganga terus tak kunjung sembuh.


Ia tahu, Rahman telah mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatan buruknya. Baik didunia dan diakhirat nanti. Dan dia pun manusia biasa, yang sadar kalau dirinya pun tak luput dari dosa.


Baginya, melihat kisah hidup dirinya, Rahman, Ramzy dan almarhumah Adelia,... semua punya kisah yang berbeda. Dan itulah keajaiban Tuhan. Jodoh, rezeki dan maut, semua telah Dia atur sedemikian hebat-Nya. Maha Besar Allah dengan segala Firman-Nya.


.....


"Sayang, liat aku yang!" Cekrek.

__ADS_1



Ramzy memotret istrinya dengan kamera barunya. Akhir-akhir ini ia begitu gandrung menekuni hobby barunya yaitu memotret.


"Kamu cantik sayang! Tapi agak pucat! Kulihat juga akhir-akhir ini kamu malas dandan yang! Kalaupun dandan asal aja, kenapa ya?" ucap Ramzy sambil merangkul istrinya yang sedang sibuk mengurus tempat dan segala macam persiapan pernikahan Rahman dan Mira esok hari.


"Entahlah yang! Males banget bawaannya."


"Jangan-jangan....."


"Jangan-jangan apa? Jangan ngomong yang aneh-aneh bikin parno deh!" Ella menempas ucapan Ramzy yang menatapnya dengan pandangan jenaka.


"Kita khan nikah udah hampir dua bulan! Dan aku liat,... mmmm... kita lancar jaya belum dapet 'hambatan'... pertempuran makin sengit malahan. Mulai dari jam ronda malam sampe serangan fajar, aku bisa tembus wilayah lawan yang! Auwww..... Sayaaaang, sakit perutku kamu cubit! Iiish... hik hiks!"


"Kamu ih yang, malu bahas begituan disini. Didengar orang tauuuu!"


"Ya khan kita udah nikah ini, yang! Kalo dulu waktu gadis dan bujangan ngomong gituan, orang illfeel dengernya!"


"Tapi ga harus diumbar juga yang, aku maluuu!" bisik Ella ditelinga Ramzy. Membuat suaminya itu memeluk tubuhnya erat sambil tertawa lepas.



"Hei, hei! Ini bukan pelaminan kalian ya! Ini pelaminanku dan Mira! Tolong jangan buat aku iri dengan kemesraan kalian!"



"Wow, pengantennya baperan, ngambek!"


"Hahaha... Gimana gaess, persiapan sudah beres belum untuk besok hari H ku?"


"Beres! Tinggal duduk manis besok didepan penghulu, Man! Inget, jangan salah ucap ijab kabul. Malu sama umur!"

__ADS_1


"Apa hubungannya ijab kabul sama umur! Hehehe.. ! Thanks ya... kalian adalah saudara-saudaraku yang luar biasa! Aku bahagia, bisa jadi saudara kalian berdua!"


"Siapa juga yang mau jadi saudara kamu! Aku baik karena aku sayang Mira! Itu aja. Jangan ge'er ya!"


Ramzy merangkul erat istrinya yang masih saja jutek pada Rahman.


"Jangan terlalu membenci Rahman! Nanti anakku lahir malah lebih mirip dia, yang!" tutur Ramzy membuat Ella mencubit hidung mancungnya sambil terkikik.


Rahman tersenyum kikuk. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil berlalu melipir meninggalkan pasangan yang romantis luar biasa itu. Tak ingin berlama-lama ia menjadi nyamuk diantara keduanya.


....



Mira terkejut sekali. Ketika mobil pengantin cantik telah menjemputnya yang baru saja dimake-up oleh perias yang datang dirumah kontrakannya.


Mira sama sekali tidak tahu soal persiapan nikah. Karena semua itu sudah diurus Rahman. Dan dia hanya tinggal mengikuti saja. Tak usah risau apalagi masalah keuangan. Karena ada 'donatur' kaya yang meng'endorse' kata Rahman padanya.


"Kak Rahmannya mana, pak?" tanya Mira pada pak supirnya.


"Sudah ditempat acara, mbak! Pak penghulu juga sedang dijemput. Tinggal mbak dan Ahmad yang belum kesana!"


"Oh, ya udah! Tapi acara pernikahannya dimana pak? Saya pengantinnya malah ga tahu, nikahannya dimana! Kacau khan?"


"Hehehe.... ! Jangan khawatir mbak! Ayo kita berangkat sekarang, gimana?"


"Ya udah, saya terserah kak Rahman aja deh!"


Mira dan adiknya masuk mobil pengantin yang mewah itu dengan perasaan berdebar tak karuan.


Ia bagai mimpi. Didandani begini cantiknya. Akan dinikahkan seorang pria yang katanya miskin dan yatim piatu juga. Bahkan hingga detik ini, tiada acara lamaran apalagi seserahan. Mereka hanya mengurus surat-surat ke KUA setempat dan cuss ijab kabul, mungkin di kantor KUA, pikir Mira.

__ADS_1


Lumayan senang hatinya ketika ada mobil bagus datang dan menjemputnya. Kemungkinan Rahman sewa dirental kendaraan. Begitu, harapannya.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2