PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BETAPA DUNIA INDAH KARENA CINTA


__ADS_3

Setelah kepergian papa dan mama Ella, rumah keluarganya ia berikan sepenuhnya pada Agnes Maharani.


Ella ingat pesan papa. Untuk menyayangi Agnes seperti ia menyayangi almarhumah Adelia. Terlebih melihat Agnes yang hidupnya jauh dari kata layak, Ella yang berfikir telah memiliki segalanya dari papa dan mama, meminta Agnes untuk mengurus peninggalan berharga itu.


Banyak kisah dan sejarah hidupnya dirumah itu. Banyak cerita indah juga duka serta airmata terukir disana. Tak kan pernah bisa terlupa dari ingatan.


"Sayang!.... "


"Mas!... Kenapa mas?"


Ella kaget melihat suaminya pulang dengan wajah seperti orang yang linglung.


"Mama..."


"Kenapa mama? Ada apa sama mama Shinta, mas?"


"Mama drop lagi yang! Stroke nya parah. Hhh... Aku ingin membawa mereka bersama kita. Apa...kamu mengizinkan yang? Aku ingin merawat mereka dihari tua mereka sekarang ini. Papa ingin tinggal di yayasan panti jompo di Singapura! Tapi aku koq ga tega, yang! Apalagi kini mama kondisinya memprihatinkan!"


Ella menatap wajah suaminya. Mengelus-elus jemari tangan Ramzy yang terasa dingin karena bingung.


"Bawa saja mereka kesini mas! Mama Papa adalah kewajiban mas!"


"Tapi kamu tahu sendiri khan watak papaku yang! Beliau itu keras kepala sekali! Mama mau ikut aku, tapi Papa melarang!"


"Papa mungkin malu sama kita!"


"Sepertinya dia malu sama aku. Sadar diri sekarang, selama ini dia lupa punya anak, yang!"


"Maaas, jangan ngomong begitu! Papa pasti sayang kamu! Sayang sekali. Tapi mau untuk mengungkapkan rasa sayangnya sama kamu."

__ADS_1


"Sayang apaan? Dia mana peduli anaknya? Apa sedang sedih hatinya, apa sedang ingin dimanja! Ga ada papa perhatiannya!"


"Hehehe.... Siniii aku yang manjain!" Ella mengelus-elus kepala Ramzy membuat suaminya malu sendiri dan merona merah wajahnya.


"Malu yang! Macam aku ini anak TK yang hilang di mall deh! Hehehe.... Rafa-Rafi mana?"


"Muacht!" Ella mengecup pipi suaminya dengan senyum manis dan tatapan lembut.


"Rafa-Rafi sedang main ditaman kompleks yang! Ya udah. Sekarang mandi, makan.... setelah itu kita video call-an sama papa setelah sikembar pulang. Siapa tahu setelah liat dua cucunya yang ganteng, papa mau ikut kita dirumah ini. Khan ada banyak kamar juga dilantai atas! Jadi papa ga harus merasa ga enak ganggu kita! Ada suster yang jaga mami juga khan...."


"Iya ya? Kamu hebat yang! Muacht makasih, my Ella ku yang jenius!"


"Ih mujinya setinggi langit, jadi ngeri-ngeri sedap dengarnya!"


"Hahaha ngeri-ngeri sedap itu kalo makan bakso beranak di puncak menara Eiffel yang! Aku mandi dulu ya?"


Papa terlihat lelah di video tab Ramzy. Mama terbaring diatas ranjang besi rumah sakit. Tengah tertidur dengan lelapnya.


Ramzy bersama Ella dan kedua buah hati mereka hanya bisa menyupport dan menyemangati beliau dari jarak jauh.


"Papa.... Apa ga sebaiknya papa tinggal bersama kami? Mama pasti senang sekali melihat Rafa dan Rafi, Pa!" kata Ella dengan suara lemah lembutnya berusaha mengambil hati mertuanya, setelah mengobrol panjang lebar kesana kemari.


"Papa ga mau menyusahkan kalian!"


"Kenapa pa? Ramzy dan Ella khan anak papa mama? Bukan orang lain juga. Apalagi Rafa Rafi juga kangen oma dan opanya."


"Hehehe... Teleponlah papa dan mama setiap hari jika kalian tak sibuk, Ella!"


"Pa...! Papa pasti kesepian disana, apalagi kondisi mama kini sedang kurang sehat. Pulanglah pa, ke Indonesia! Kita tinggal sama-sama. Izinkan Ramzy dan Ella mengurus kalian berdua!"

__ADS_1


"Maaf sayang! Sudah tradisi leluhur kami, kami bertekad tidak ingin menyusahkan keturunan kami. Terima kasih atas tawaran dan kebaikan Ella pada papa dan mama! Papa sangat menghargai itu!"


Ramzy hanya bisa menghela nafas.


"See!..... Itulah papaku, Ella! Manusia paling keras kepala. Dan selalu begitu meski kini sudah tua dan melemah!"


Ramzy yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan papanya dan Ella, kini angkat suara setelah komunikasi via panggilan video jarak jauh itu berakhir.


Ella memandang suaminya yang terlihat jengkel.


"Kakek nenek mas dulu meninggal dimana?" tanyanya membuat Ramzy diam dan berfikir.


"Kakek dari papa.... sepertinya juga di Singapura. Tapi kalau nenek meninggal di Selangor Malaysia. Kalau dari pihak mama, mereka sepertinya meninggal dunia ketika aku masih kecil. Tapi jauh juga dimakamkannya. Yang pasti bukan di Jakarta!"


"Keluarga mas keluarga yang sedikit anaknya ya mas?"


"Iya. Makanya aku pingin punya banyak anak, Ella! Aku tidak ingin seperti mereka. Kesepian dihari tua."


"Mas mau punya anak berapa memangnya?"


"Kalo Tuhan mengizinkan.... 12 juga boleh! Hahahaha.... iya maaf iya! Hihihi..... 3 kali kembar lagi juga boleh deh yang! Hahaha.... Rafaaaa, Rafiiiii.... tolongin Papi niiiih! Mami galak niiiih cubit-cubit Papiiiii..... Hahaha!"


"Rafaaaa, Rafiiiii..... Papi jahat niiiih sama Mamiiii! Tolongin mamiiii....! Hihihi...!"


Keduanya tertawa-tawa setengah berlari kejar-kejaran. Saling cubit sayang ditengah canda yang sebenarnya terlihat receh, tapi makin menguatkan cinta keduanya.


Betapa dunia indah, jika penuh cinta dan kasih sayang. Seperti Ramzy dan Ella, yang selalu berusaha saling menguatkan satu sama lain.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2