PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
RIBUT LAGI


__ADS_3

Mira mendengar suara motor suaminya memasuki teras rumah mereka. Diliriknya jam didinding. Pukul 7.25 WIB.


Katanya Maghrib juga udah pulang. Tapi ini molor malahan sampai lewat Isya! Gerutu hati Mira.


"Assalamualaikum!" Rahman memberikan senyuman pada Mira. Membuat Mira memonyongkan bibirnya tapi masih menjawab salam.


"Waalaikumsalam!"


"Kenapa disambit manyunan? Hahaha...!" goda Rahman pada istrinya. Disodorkannya plastik berisi martabak yang tadi ia beli dijalan.


"Martabak keju sama martabak telur spesial buat istriku tercinta!"


"Hilih! Kata-kata manis pasti ada maunya! Kalau engga', pasti habis berbuat salah!"


"Hhh... haish! Manis salah, pahit lebih salah lagi! Wanita selalu benar ya!?"


"Habis ga seperti biasanya, kakak nih!"


"Biasanya seperti apa?"


"Kaku, dingin. Harus selalu aku ingatkan untuk berkata manis pada istri! Tiba-tiba, pulang berkata manis, bawa oleh-oleh martabak pula!"


"Memangnya aku ga pernah seperti itu, dek?"


"Jarang! Apalagi semakin kesini semakin jarang!"


"Hahaha...., maaf kalau begitu yang! Aku mandi dulu ya? Lengket badan seharian disekap digudang!"


"Disekap digudang?" Mira hanya bertanya pada 'rumput yang bergoyang'. Karena suaminya itu sudah berlalu masuk kamar mandi.


Terpaksa Mira harus sabar menunggu suaminya selesai mandi.


"Deeek, cel*na dal*m kakak mana?"


"Cari sendiri dilemariiii! Kebiasaan deh, harus aku sediain terus! Emang tugas istri itu seperti pembantu ya?"


"Hahaha... maaf yang! Iya, aku ambil sendiri!" kata Rahman dari balik kamar.


"Ambilnya jangan diberantakiiiin! Awas aja kalo pas Mira tengok, amburadul semua!"

__ADS_1


"Iya sayaaaang!"


"Heleh! Dasar!" gerutu Mira yang tetap duduk disofa ruang tamunya.


Ia membuka martabak telurnya. Lalu mengambil sepiring nasi dan segelas air putih diantaranya.


Rahman telah keluar dan duduk disamping istrinya dengan senyum dikulum.


"Wangi khan? Coba cium, dek! Kakak wangi khan?"


"Iya."


"Senyum dong, jangan marah-marah terus. Nanti adek cepat,"


"Cepat tua? Cepat mati? Gitu?"


"Ya Allah dek! Jangan mempermainkan kata-kata seperti itu. Kakak ga ingin kita ribut, baikan. Ribut, baikan! Capek tau!"


"Jadi kakak capek rumah tangga sama aku?"


"Bukan begitu juga! Udah ah, aku makan dulu ah, lapar!" Rahman mengambil piring berisi nasi dan menyendok serta memasukkan sepotong martabak telur kedalam piringnya.


Tak ingin dia bertanya, kenapa istrinya itu tidak memasakkan untuknya. Takut akan bertambah panjang keributannya.


"Ga juga! Tadi aku juga belikan Agnes 10 kotak! Kasihan, kerja lembur tanpa perencanaan!"


"Hah? Sepuluh kotak? Buat si Agnes?"


"Iya, dek! Buat adik-adik pantinya. Khan kamu juga tahu kalau dia itu tinggal dipanti asuhan dengan 17 orang adik-adiknya!"


"Terus,.... dia kakak antar juga sampai rumahnya?"


"Iya. Tadi aku pinjam mobil Ramzy untuk kegudang di Cengkareng. Jadi sebelum kekantor ambil motor, aku antar dulu Agnes sampai depan panti, yang!"


"Sweet nyaaaa!"


Rahman menghentikan makannya. Menatap wajah istrinya yang terlihat datar.


"Maaf yang! Apa kamu sedang cemburu sama Agnes?"

__ADS_1


"Idih? Kege'eran! Siapa juga yang cemburu! Lagipula anak itu jauh level sama aku. Aku, biar muda begini... sudah pintar cari uang sendiri! Banyak cowok yang memujiku karena kehebatanku mengelola bisnisku!"


"Alhamdulillah, yang! Kamu memang istriku yang hebat!"


"Iya lah! Malah kalau aku mau bandel, mantan pacarku hari ini malah minta izin save nomorku dan mohon dibalas nanti chatnya. Tapi aku bilang, aku punya suami! Buat apa, kalau cuma buat iseng aja!"


"Hebat dong, yang!" Rahman meneguk air yang ada digelas hingga tandas.


"Udah? Gitu doang? Ga cemburu gitu, istrinya mau dirayu lagi mantan pacarnya?"


"Hhhh... Mira sayang! Kakak tahu itu hanya masa lalu. Dan kakak tahu, kamu sayang dan cinta kakak. Sama seperti kakak. Mencintaimu dan menyayangimu setulus hati. Seperti apapun cobaan diluar sana yang ingin menghancurkan kita, semoga mereka tak bisa!"


Mira diam. Menatap suaminya dalam-dalam.


"Kakak cinta aku?"


"Ya Tuhaaaan, pertanyaan apa itu dek?"


"Tapi kakak seperti mulai bosan dengan aku! Kakak jarang memanggilku sayang, jarang manja-manja seolah kakak tak butuh aku. Kakak malah terlihat cuek, dingin dan seperti tak punya hati sama aku!"


"Begitukah sikap kakak dimatamu, Mira?"


"Iya. Memang begitu khan?"


"Kamu tidak mengerti sifat dan sikap kakak? Berapa besar cinta kakak sama kamu? Tak dapat Mira rasakan getarannya?"


"Getaran apa? Tidak ada kata sayang, kata cinta yang selalu kakak ucapkan padaku. Apa kakak menyadari, betapa mahalnya kata itu untuk sekedar kakak ungkapkan padaku? Padahal hanya kata, kak! Apa susahnya, sayang...I love you, aku cinta mati sama kamu. Aku sangat mencintaimu seumur hidupku. Apa susahnya?"


Hhh.... Rahman menghela nafas panjang. Bangkit berdiri dan berjalan menuju teras rumahnya.


"Khan, khan... kebiasaan! Pasti deh!"


"Ga yaaaang, penat tubuhku seharian bekerja Mira sayang! Tidakkah kamu tahu, itu bukti nyata cintaku padamu? Aku bekerja mencari nafkah untuk kehidupan kita semua. Itu adalah bukti cintaku padamu Mira!"


"Mencari nafkah dan memberi nafkah pada istri itu adalah kewajiban suami, kak!"


"Begitu pandangan Mira?"


"Iya!"

__ADS_1


Rahman menepuk dahinya. Bingung ia hendak berkata apa lagi. Hanya langit malam gelap tak berbintang yang mengerti perasaannya saat ini.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2