
"Mas! Aku punya salah, gimana ya... biar bisa mengurangi kesalahanku?"
"Waduh? Bikin salah apa yang?"
Ramzy menatap wajah istrinya serius. Ia yang tadinya asyik menikmati potongan buah semangka merah, langsung mode on menyimak penuh kemata Ella.
Suasana malam selepas maghrib memang waktu untuk mereka berdua berbincang di taman belakang rumah mereka.
Ella lalu menceritakan perihal tadi siang. Dimana ia dan Mira bertemu di food court Lamborgie. Kemudian melihat Rahman tengah makan siang dengan dokter Astari.
"Aku koq bicara kayak bocah ABG ya mas, ke mbak Astari? Jujur, sekarang aku malu sendiri sama ucapanku tadi pada dokter itu! Salah ya aku?"
"Hahaha.... sayangku my Ella! Tadi Rahman sudah cerita sama aku. Dia dan dokter Astari juga sejujurnya ga ada hubungan apa-apa diantara mereka. Sebatas teman, sahabat masa kecil dan memang mengarah menjadi saudara.
Dokter Astari justru minta nomor pribadi kamu sama Mira. Katanya pingin kenal lebih dekat lagi sama kamu!"
"Eh? Iyakah? Sama Mira dikasih?"
"Dikasih, kata Rahman! Tadi mereka bertiga lanjut ngobrol setelah kamu pamit pulang!"
"Uffh...syukurlah! Aku fikir bakalan ada keributan huru-hara rumah tangga. Hhh... makanya, niat aku menegur semuanya supaya tidak ada yang emosi. Gitu mas! Tapi ujungnya, malah aku yang malu sendiri. Huhuhuu...!"
"Hehehe....! Sini, sini! Papi Zy bangga banget sama mami Ella! Tapi lain kali jangan terlalu nge-gas juga yang! Ngeri juga kalau kamu bisa terseret urusan ranjang orang!"
"Iiiiih, jangan sampe yang! Itu karena aku merasakan juga kesalnya Mira, mas! Suaminya sering menutupi dirinya terlalu dalam. Nah itu pun janjian makan siang gak telepon Mira, kasih kabar. Pas ke gep, mereka lagi asyik tertawa-tawa senang kelihatannya! Istri mana yang gak kebakaran jenggot, mas!"
"Kalau aku yang seperti itu bagaimana?"
"Apanya? Mas makan siang sama perempuan lain selain klien? Hanya berduaan, mesra-mesraan gitu? Mmmm.... Siap-siap aja aku datang bawa pasukan!"
"Hahaha.... Rafa Rafi bodyguard maminya!"
"Iya dong! Papinya harus siapkan mental ya?"
"Hahaha.... ampun mami Ella sayang! Ga laah...! Ish, ga mau macam-macam aku! Senangnya sebentar, sengsaranya seumur hidup itu!"
__ADS_1
"Hehehe... Khan mau senang-senang!"
"Ga lah! Aku gak akan begitu, inshaaAllah! Aku sudah sangat bahagia, yang! Mau apalagi. Cukup nikmati yang Allah beri dengan beribu syukurku karena mempunyai kalian, yang!"
"hoak... Oegh...!!!" tiba-tiba Ella merasa mual. Perutnya seperti dikocok. Sakit dan seolah naik ke ulu hati. Ingin muntah rasanya.
"Yang? Kamu ga papa khan?"
"Kayaknya aku masuk angin, yang!"
"Sini kupijat pundaknya!"
"Hoek... Hoeek ..!! Aduh yang, maaf!" Ella setengah berlari kearah kamar mandi. Diikuti segera oleh Ramzy yang mengambilkan segelas air hangat untuk istrinya.
"Yang? Kamu.... udah datang bulan belum?"
"Mas?... Aku....Aku terakhir halangan eh? Ah mas jangan nakut-nakutin! Maaas!"
"Hahahaha... beneran khan yang?"
"Aaah.... Anak kita baru juga 8 bulan, maaaas!!!"
"Mas Ramzyyyyy.....!!! Aaaah, aku masa' hamil lagi? Ya Allah! Hoek....Hoek, hoek!"
"Minum dulu sayang!" Ramzy mengusap-usap punggung Ella lembut. Seraya menyodorkan segelas air putih hangat pada Ella.
"Yang!"
"Hm?"
"Masa' aku hamil lagi?"
"Ga apa-apa! Khan ada suaminya!"
"Aaah, maaas! Baru 8 bulan lalu perutku di bedah mas! Hik hik hiks...!"
__ADS_1
"Cup cup cup... Allah sayang kita, my Ella! Supaya kita banyak anak dan tidak kesepian dihari tua. Yang penting, kamu sehat yang! Jaga asupan gizinya! Aku akan selalu ada disampingmu, sayang! Muacht!"
"Mas!"
"Sini! Papi Zy gendong mami Ella sayang! Hup!"
Ella dipangku Ramzy. Dibawanya istrinya masuk kamar. Ramzy menaruh tubuh ramping Ella keatas ranjangnya.
Dikecupnya Ella dari dahi, kedua belah mata, pipi kiri dan kanan, bibir...terus menyusir kearah bawah.
"Aku sayang kamu Ella! Terima kasih banyak untuk semuanya yang kamu berikan untuk kebahagiaanku! Allah Maha Tahu isi hatiku ini. Betapa bahagianya aku, yang!"
Ella mengatupkan bibir dan memejamkan matanya. Suara Ramzy yang lembut membuat hati dan jiwanya tenang kembali.
Betul kata Ramzy. Anak adalah anugerah yang terindah dari Yang Maha Kuasa. Siap tidak siap, ia dan Ramzy harus menerimanya jika benar ketentuan ini. Ketentuan ia hamil lagi.
"Tapi aku belum tentu hamil mas!"
"Iya sayang! Besok siang, aku antar kr klinik Bryan. Kita periksa sama-sama! Okey?"
"Iya."
"Jangan terlalu difikirkan yang! Kalau pun hamil alhamdulillah, Rafa Rafi punya adik cepat. Kalau hanya masuk angin pun yang penting kembali sehat."
"Iya mas!"
"Sini. Biar mas pijit-pijit badannya pakai minyak aroma therapi. Mami baringan aja!"
"Makasih mas Ramzy sayang!"
"Muacht! Hehehe....!"
Ella sesekali menggeliat antara enak dan kegelian. Ketika tubuhnya serasa digelitik suaminya.
Memang Ramzy kadang serius kadang bercanda dalam memijat bagian-bagian tertentu tubuh Ella.
__ADS_1
Tapi perlahan tubuhnya menghangat dan agak enakan kembali berkat pijatan tangan Ramzy. Membuatnya tanpa sadar terlelap tidur dan hanyut dalam mimpi indah menjaring ikan-ikan di kolam pemancingan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•