
Hari Minggu. Ella masih sendirian dirumah. Gabut juga ia kesana kemari tiada kawan ribut, yakni Ramzy. Karena Ramzy belum pulang dan hapenya juga tak aktif. WA Ella hanya ceklis satu saja.
Ini sudah hampir pukul 7 malam. Ella mulai jenuh juga kesepian. Nonton televisi, semakin lama semakin bosan. Terlebih berita lokal yang isinya kejahatan terus merajalela membuatnya malas mendengar apalagi melihatnya.
Suara kalkun-kalkun Ramzypun seperti mengerti kalau tuannya tidak ada dirumah. Karena mereka sunyi senyap saja, tak bersuara.
Ella mematikan TV. Masuk kamar. Diambilnya wudhu karena waktu sholat Isya baru saja tiba. Ia bukanlah seorang muslim yang taat. Sholatnya pun masih bolong-bolong. Tapi bila ia sedang sedih, boring ataupun malas, ia selalu pergi berwudhu. Membuat batinnya terasa tenteram dan adem.
Mungkin karena suasana yang syahdu membuat sholatnya begitu khusu'. Bahkan ia sempat mengirimkan beberapa kali surat al-Fatihah untuk almarhumah adiknya seusai sujud terakhirnya.
Klotak. Prang!!!!!!!
Seperti suara barang pecah. Membuat Ella bergegas keluar dari kamarnya masih dengan mukena putih dibadan.
"Aaa...astaga!!!!" suara seseorang berteriak.
"Ramzy!!!! Ini aku, Ella! Lagian kedapur koq ga nyalain lampu sih!?"
Keduanya hampir bertubrukan membuat Ramzy spontan menjerit kaget.
Klik.
Ella menyalakan lampu dapur hingga ia bisa melihat wajah lusuh Ramzy.
"Hati-hati, pecahan gelas Ella!"
"Udah, biar aku yang bersihin Zy. Kamu duduk aja disana! Kamu mau makan?"
"Uhuk, uhuk.... hatchiiii!!!"
"Kamu sakit, Zy?"
Yang ditanya tidak menjawab. Hanya berlalu setelah mengambil segelas air putih. Masuk kedalam kamarnya tanpa suara.
"Uhuk, hatcii.... hatciii!!!" terdengar lagi suara batuk Ramzy dan bersinnya dari dalam kamarnya. Membuat Ella menghela nafas.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Ramzy seolah menjauh darinya. Seakan sedang memasang pagar pembatas diantara mereka. Ella sedih dan resah.
Ia membersihan pecahan-pecahan gelas kaca yang berserakan dilantai setelah kembali dari kamar menaruh mukenanya.
Suara batuk dan bersin Ramzy silih berganti. Tak tega juga Ella mendengarnya.
"Zy! Ramzy....!!" Ella mengetuk pintu kamar Ramzy.
"Hm!"
"Buka pintunya. Aku boleh masuk khan?" tanya Ella.
Hening. Tak ada jawaban.
Ella mencoba membuka gagang pintunya. Eh... Ternyata tak dikunci.
"Aku masuk ya?"
Ia terkejut melihat ada bekas muntahan dilantai. Padahal Ramzy bukanlah tipe pria jorok. Sementara si empunya kamar terbaring diranjang tidurnya.
"Zy!"
"Kamu muntah, Zy?"
"Iya. Maaf, kamu keluar aja La! Biar nanti aku lap sendiri kalo badanku udah baikan!" kata Ramzy dengan suara pelan dan gemetar.
Ella agak sedikit panik. Cepat-cepat ia mengambil lap lantai juga karbol pembersih. Melapnya segera tanpa banyak kata supaya Ramzy merasa nyaman dikamarnya.
"Kamu udah makan? Udah minum obat belum? Zy?"
"Minum obat tapi langsung muntah!" jawaban Ramzy baru terdengar lama sekali.
Ella kembali beralih pada Ramzy lagi. Keringat Ramzy mengucur deras di wajahnya.
"Zy, kita ke dokter yuk?"
__ADS_1
"Ga papa Ella! Nanti juga baikan sendiri!"
"Apa sih? Mana ada sakit baik sendiri! Ya harus diobati segera. Kamu bisa dehidrasi kekurangan cairan!"
"Biarinin aja aku La! Jangan kamu peduliin! Udah, tidur aja dih sana... Istirahat, besok kerja khan?"
Hhhh.... Ella menghela nafas. Ramzy keras kepala juga orangnya.
Ella membuka lemari pakaian Ramzy. Mencari kaos ganti yang berbahan nyaman dan menyerap keringat. Ia juga mengambil sepotong celana panjang Ramzy.
Dengan sigap, Ella membuka kancing kemeja Ramzy. Membuat pria itu merah wajahnya seketika. Tapi tak berkutik karena lemas tak berdaya.
"Maaf! Ini bukan pertama kali aku membuka pakaianmu. Anggaplah aku cewek mesum, tapi ini kulakukan demi kebaikanmu!" katanya sambil melap dada Ramzy yang basah keringat. Memakaikannya kembali kaos t-shirt yang tadi ia ambil.
"Kenapa kamu baik padaku, Ella!? Jangan buat aku bingung dengan dirimu dan perasaanku!"
"Aku baik, karena kamu suamiku! Ini kewajibanku!" Ramzy diam mendengar jawaban Ella. Matanya hanya terpejam merasakan tangan Ella juga membuka celananya perlahan.
"Maaf, ganti juga celanamu!" Ella berkata agak terdengar gemetar.
Ia kikuk sekaligus panik melihat sesuatu menyembul dari balik underwe*ar Ramzy. Dengan buru-buru ia memakaikan celana kekaki Ramzy.
"Biar aku sendiri, Ella! Maaf ya, jadi ngerepotin kamu!" Ramzy perlahan menarik celananya ke atas. Ia menyadari kalau libidonya ikut naik akibat sentuhan lembut Ella padanya. Ya. Kini ia adalah lelaki normal. Yang juga punya hasrat biologis jika dipancing. Meskipun saat ini kondisinya sedang sangat tidak fit.
Ella mengalihkan perhatiannya. Mengambil parfum dimeja kamar Ramzy. Lalu menyemprotkannya pada 'suaminya' itu.
"Ayo!" katanya sembari mengangkat tubuh Ramzy mengajaknya bangun.
"Kemana?"
"Rumah sakit! Jangan bandel, ikuti kata istrimu ini!"
Kini Ramzy menurut. Tubuhnya bersandar ditubuh Ella setengah dipapah. Ia memang lemas luar biasa. Bahkan kepalanya seperti berputar-putar ketika berdiri.
Untung Ella menyangganya yang terhuyung-huyung hingga tidak membuatnya jatuh kelimpungan kelantai.
__ADS_1
"Sebentar lagi taksi onlinenya datang! Tunggu ya, aku ambil tas dulu dikamar!" suara lembut Ella membuatnya mengangguk setelah didudukkan di kursi ruang tamu.
đź’•BERSAMBUNGđź’•