
Ada pepatah bilang, "Jodohmu adalah cerminan dirimu." Mungkin ada benarnya.
Sama seperti Rahman dan Mira. Mereka saling cinta. Berniat membangun rumah tangga yang bahagia. Berharap bahagia bersama mencapai keluarga sakinah, mawaddah warrohmah.
Tapi meskipun tekad, cinta dan cita mereka berada ditujuan yang sama, tapi masih ada keragu-raguan dan ketakutan pada diri sendiri kalau pasangan kita tidak bisa menerima kita sepenuhnya, sehingga pada akhirnya berusaha menutupi dan menjadi kebohongan tersendiri yang menurut kita adalah pilihan yang terbaik.
Seperti itulah kondisi rumah tangga Rahman dan Mira.
Keduanya pada akhirnya takut membuka diri satu sama lain. Hingga yang satu menjadi tidak berani menceritakan dirinya dan masa lalunya, sedang yang satu juga menutupi kebohongan karena merasa khawatir pasangannya tidak dapat diajak kompromi.
Hingga yang terjadi adalah kesalahfahaman diantara mereka berdua semakin melebar.
"Kak! Aku ga suka caramu tadi memperlakukanku didepan kak Ella, Kak Ramzy dan Agnes!" tegur Mira protes pada suaminya ketika Rahman baru saja pulang dari kantor pukul 5 sore.
Rahman hanya bisa menghela nafas. Ia sudah menduga, pulang kerumah pasti akan diinterogasi istri tercintanya karena pertemuan tadi siang diresto samping kantornya.
"Please yang! Aku baru pulang kerja, cobalah mengerti. Kasih dulu suamimu ini minum! Tawarin makan, atau paling engga' senyumanmulah yang memabukkan!"
"Jangan alihkan pembicaraan! Ayo, jawab pertanyaanku! Kenapa kakak bisa sedekat itu dengan Agnes, sedangkan kak Ramzy justru B aja! Kenapa? Terus, ada apa antara kakak dengan almarhumah Adel dulu? Apa kalian pernah pacaran? Kenapa kak Ella ga larang kalian, secara Adel adalah adiknya dan kakak dulu adalah orang yang...."
"Memperkos*nya!"
__ADS_1
Merah wajah Mira. Ia lagi-lagi lepas kontrol menyinggung perasaan suaminya yang ia anggap baperan.
"Maksud Mira bukan begitu, kak!"
"Mira! Kakak tau, Mira kecewa sama kakak. Kakak bukan pria romantis. Bahkan Mira terang-terangan komplenin kakak didepan teman-teman kakak."
"Jadi kak Ella sama kak Ramzy itu sekarang teman kakak gitu? Kakak sama sekali ga berfikir, bisa jadi mereka sedang memanfaatkan kakak karena dendam mereka dimasa lalu?" Mira kembali nge-gas. Kesal campur aduk rasanya melihat kepolosan suaminya yang padahal sudah tua dan harusnya lebih pengalaman makan asam garam menurutnya.
"Mira!!" Rahman membentak istrinya. Tak lagi bisa mentolelir perkataan Mira.
"Kakak ini naif apa bodoh?"
"Apa maksudmu, adek?" Rahman berusaha menekan pengucapannya. Ia memahami karakter danjiwa muda Mira. Semakin ia tentang, Mira pasti akan semakin ngotot kekeuh mempertahankan argumentasinya.
"Mira sayang! Kakak mengenal Ella dan Ramzy jauh sebelum kamu mengenal mereka. Mereka memang terlihat cuek seperti itu. Tapi mereka baik. Kakak sudah mengenal mereka luar dalam hati mereka!"
"Oh,.... jadi kakak memahami mereka? Tapi kakak tidak memahami aku? Kakak merasa tidak apa-apa melihat istrinya seperti si oneng istrinya tukang bajaj si Bajuri yang sinetronnya booming waktu aku SD? Puas ya, lihat istrinya seperti si pandir bodoh yang cengo' karena tidak bisa mengimbangi obrolan kalian!?"
Rahman merangkul tubuh Mira. Berharap amarah Mira meredam.
"Awas! Jangan peluk-peluk!"
__ADS_1
"Mira sayang, bukan begitu!"
"Jelas-jelas seperti itu! Kakak fikir aku ini bocil yang lebih baik diam, ga usah ikutan nimbrung dengan obrolan berkelas kalian? Gitu khan?!"
"Bukan sayang!"
"Jangan peluk aku! Pergi saja sana,... ikut saja tinggal sama pasangan bahagia itu! Sana jadi kutil mereka! Khan mereka pasangan ideal panutan kakak! Apalagi istrinya tuh, kakak khan pernah 'mencoba' kak Ella!"
"Mira!!!! Astaghfirullah! Jaga ucapan Mira!"
Rahman kesal. Ia masuk kedalam kamarnya.
"Mau kemana? Pasti mau kabur khan? Kebiasaan! Setiap kita ada masalah pasti kakak kabur melarikan diri!"
"Aku mau tidur! Puas!?"
"Selesaikan dulu masalah kita!"
"Mira! Apa perselisihan ini suatu masalah besar bagimu? Mulutmu yang tajam dan asal ceplos lah itu masalah yang harus kamu sadari!"
Mira terdiam. Tumpah airmatanya. Sementara Rahman menghempaskan tubuh penatnya keatas kasur busa springbed kamar mereka.
__ADS_1
Rahman kini sudah terbiasa dengan tingkah polah Mira jika sedang seperti ini. Dan ia berusaha memahami meski tidak bisa ia mengerti, betapa sulitnya mengubah keserampangan istrinya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•