PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
MEMORI ITU......


__ADS_3

"Mas, bandara ya!"


"Baik, pak!"


Rahman masuk kemobil taksi. Kini ia sudah merelakan apapun yang Allah berikan dalam kehidupannya selanjutnya.


Setelah membereskan mengoper alih kepemilikan perusahaan mengganti namanya dengan nama Ella, ia niatkan akan pindah ke Surabaya. Ia membeli perkebunan dan peternakan dipinggir kota Surabaya yang ada di sekitar pedesaan. Tak peduli meski harus hidup sendiri tanpa cinta. Kini ia benar-benar berpasrah.


Cici baru beberapa hari menjadi pengantin baru. Dia nikahkan dengan mas Tarom, duda tanpa anak yang kini bekerja sebagai supir grab car miliknya. Sebenarnya ia sudah mengganti nama kepemilikannya juga dengan nama Cici. Tapi ia menyuruh Cici mengatakan kalau mobilnya itu hanyalah titipan darinya. Agar suami barunya itu tidak seenaknya narik penumpang dalam mencari nafkah dan memberikan tanggung jawabnya pada Cici yang kini telah jadi istrinya. Cici menyetujui usulan Rahman bahkan ia menangis terharu karena Rahman memintanya untuk tak lagi memanggilnya tuan, tapi cukup nama karena Cici sudah seperti kakak baginya.


"Ah, cepat jalan, cepat.... !"


Tiba-tiba seorang perempuan masuk kedalam taksi Rahman dan memerintahkan pak sopir jalan. Membuat Rahman tersentak dan menatap kesal perempuan itu.


"Nona, maaf! Saya sudah terlebih dulu naik taksi ini. Jadi silakan nona keluar dan cari taksi lain!" perintahnya tapi masih dalam batas kesopanan.



"Tolong cepat jalan! Cepaaaaat!" gadis itu justru teriak keras.


Tapi tiba-tiba pintu mobil digedor seseorang dari luar.


"Hei keluar, ayo cepat keluar! Kalau tidak mau, aku bakar mobil ini!" suara keras terdengar dari luar.


Seorang pria tinggi besar menarik pintu dan menarik kasar gadis itu keluar mobil. Hingga sang gadis berteriak-teriak memarahi.


"Hei, aku tidak ada hubungan lagi dengan orang yang bernama Peter itu!! Pergi kalian, baj*ngan!! Aku sudah putus dengan dia! Cari saja dia ditempat perjudian! Dia yang berhutang kenapa aku yang kalian kejar!" teriaknya keras. Tapi tetap 2 lelaki itu menarik dan memaksanya ikut dengan sangar kasar.


Rahman yang melihat itu tak tega juga. Ia sedikit mengerti permasalahan gadis itu setelah gadis itu sendiri yang berkicau menjelaskan pada 2 preman yang mengejarnya.


"Hei! Jangan kasar pada wanita, bang! Kalian bisa bicara baik-baik bukan? Jangan menarik-narik tangan orang seenakmu itu!"


"Jangan sok jadi pahlawan! Jangan ikut campur!"


"Aku ga ikut campur! Tapi tidak suka melihat pria kasar bertindak sesuka hati pada perempuan!"

__ADS_1


Bug. Hampir saja wajah Rahman tersambar pukulan dari salah seorang preman itu. Untungnya Allah melindungi wajahnya. Hingga dalam seperkian detik ia bisa menghindar menarik kepalanya yang hampir saja berdenyut nyeri kena hantaman.


Rahman melayangkan tonjokannya kepada preman itu.


Bug. bug. bug.....Tiga pukulannya cukup membuat hidung salah seorang itu bercucuran darah dan terhuyung pusing tiba-tiba.


"Kau mau juga? Mari kita tanding!"


"Hei, kenapa kau ikut campur?"


"Kau duluan, temanmu mau menonjok mukaku! Wajar khan aku membalas?"


"Lihat nanti hai perempuan setan! Urusan kita belum selesai!" Ancam preman itu berlalu pergi sambil menarik tangan kawannya yang berdarah-darah hidungnya.


"Mas, jalan!"


"Tunggu, aku ikut!"


Rahman hanya menghela nafas. Mengalah pada akhirnya.


"Baik pak!"


"Kamu,... kak Rahman? Iya, kamu kak Rahman khan?"


Rahman terkejut. Ternyata gadis yang duduk disampingnya itu mengenalnya. Ia tahu namanya. Membuatnya sedikit mengeryit dan memicingkan mata guna mengingat siapa gadis ini.


"Aku Mira, Kak! Pasti kakak lupa sama aku. Iya khan?"


"Maaf, Mira! Mungkin faktor U mempengaruhi memori ingatanku!"


"Hahaha... berapa usiamu kini kak?"


"34 tahun!"


"Belum tua. Bahkan masih terlihat seperti umur 27 tahun!"

__ADS_1


"Hahaha...suwe! Penghinaan ini!"


"Kemana tujuan kita pak?" tanya pak supir membuat Rahman bertanya tujuan Mira.


"Aku ikut kakak aja!"


"Eh? Kemana kamu mau pergi? Pulang kerumahmu? Dimana? Kasih tahu alamatnya pada pak supir!"


"Aku tidak mau pulang dulu! Para rentenir itu pasti masih berada disekitar rumahku. Gara-gara si Peter sialan itu!"


"Siapa itu Peter? Suamimu? Pacarmu?"


"Aku baru 22 tahun kak, belum menikah! Peter mantan pacar tapi gila karena pinjam uang online memakai namaku dan juga akun emailku! Sarap emang tuh orang!"


"Ck ck ck! Kasian!"


"Hahaha... Kasian emang aku! Eh kakak mau kemana? 10tahun tak bertemu membuat kakak terlihat pangling seperti orang kaya. Woow... ini juga CHANNEL asli? Beneran jadi orang kaya sekarang!"


"Hahaha... bukan orang kaya. Tapi kacung orang kaya! Ini baju pinjaman, Mir! Betewe kapan itu 10 tahun kamu kenal aku?"


"Kakak beneran ga ingat aku? Aku udah tumbuh dewasa kak! Udah cantik khan sekarang?"


"Maaf Mira! Aku beneran lupa!"


"Aku anak bu Kasnah, pemilik warung nasi yang dulu sering kakak hutangi. Bahkan kakak sering jadi pekerja cuci piring kami karena tak sanggup bayar hutang. Waktu itu kakak masih muda 24 tahun usianya. Dan aku 12 tahun kala itu. Kakak yang sering mengajariku mengerjakan PR. Ingat?"


Rahman merenungi. Ya. Ketika umurnya 24 tahun, ia sedang dimasa susah-susahnya. Hidup sebatang kara mengembara tak tentu arah. Tak punya keluarga, pekerjaan juga rumah. Hidupnya menggelandang dipasar-pasar. Menjadi gembel dengan meminta belas kasih pemilik toko dengan modal kepercayaan. Menjajakan kantong keresek seharga 500 rupiah demi mendapatkan sedikit laba untuk menyambung hidupnya. Tidur diemperan toko-toko diatas jam 12 malam. Lalu sebelum adzan subuh berkumandang harus segera bangun dan bersihkan lapak tidurnya jika tak ingin disiram seember air atau dimarahi habis-habisan oleh siempunya toko. Hhh...


Ya. Semua itu terjadi ketika harta warisan kedua orangtuanya habis ia pakai foya-foya dengan teman-teman sesatnya. Dan satu persatu temannya menghilang mengetahui ia telah 'habis' tak lagi berharta. Bahkan banyak yang pura-pura tak kenal dia. Membuatnya diusia 21 tahun menyandang status 'tunawisma', 'gepeng' karena sempat juga mengemis tapi berhenti, malu pada diri sendiri karena merasa masih muda dan bisa bekerja.


Tiga tahun menjadi kuli panggul dan bekerja serabutan apapun yang orang sekitar pasar suruh. Hingga Allah ternyata kembali memberinya kebahagiaan, setelah pihak departemen sosial mencarinya dan seorang lawyer merangkap notaris menerangkan kalau ia adalah seorang pemilik tunggal sebuah perusahaan besar.


Usia 25 tahun, ia menapaki kedewasaan dengan fikiran matang dengan berbagai macam ujian. Membuatnya mengerti banyak arti hidup ini. Juga kerasnya kehidupan.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2