
Rahman memandang kamarnya yang kosong. Mira belum pulang dari kantornya. Dan ini sudah sering istrinya lakukan dengan alasan 'banyak pekerjaan'.
Padahal ada 'masalah' sedikit yang ingin ia tanyakan perihal suntik KB Mira diawal menikah.
Sejak Mira 'bekerja' diperusahaannya sendiri, ia menjadi berubah. Memang ke arah yang lebih baik dari segi penampilan.
Mira semakin cantik dan mempesona setiap harinya. Bahkan kini mulai mengenal perawatan rutinitas disalon kecantikan setiap akhir pekannya.
Dan Rahman tak berdaya untuk menghentikan langkahnya.
"Mumpung aku masih muda, kak! Ini adalah kesempatan emas yang tak bisa kulewatkan begitu saja. Tolong kakak mengerti perasaan dan semangat Mira, ya?!" begitu ungkapnya setiap kali Rahman mengingatkan Mira dimeja makan ketika sarapan, untuk tidak terlalu keras dalam bekerja bahkan sampai lembur setiap harinya.
Mira selalu pulang sekitar pukul 9 malam. Makan malam diluar dan sibuk dengan urusan pekerjaannya. Membuat Rahman kadang merasakan kesepian dan kangen celotehan ketus Mira.
Setiap malam, hanya gitar kesayangan yang menemaninya melewati malam menunggu Mira pulang. Bagaikan pria kesepian, duduk dipojok teras dengan memeluk gitar. Bernyanyi bebas walau kadang Ahmad ikut menemani.
🎶Padamu pemilik hati yang tak pernah kumiliki
Yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta dengan segenap rasa dihati
Slalu ku mencoba menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku dibalik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
__ADS_1
Untuk menemani disaat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma bila engkau tak punya ikatan
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Dibalik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani disaat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Sebuah mobil Ferrari merah metalik berhenti tepat didepan teras rumahnya. Turun seorang wanita anggun bergaun terusan berwarna putih tulang. Berjalan anggun setelah melambaikan tangan dan tersenyum manis pada orang yang berada didalam mobil itu.
"Mira!" Rahman mengucapkan nama istrinya dengan suara lebih mirip desahan, karena saking pelannya.
"Mira!!!"
"Kak Rahman? Ish ngagetin deh! Ngapain duduk dipojokan? Mana nenteng gitar butut lagi! Udah persis pengamen jalanan deh!" kata Mira asal. Membuat Rahman sedikit meninggi tensi darahnya lalu berjalan masuk mengikuti Mira.
"Siapa itu tadi?"
__ADS_1
"Ooooh, pak Darco kak!"
"Darco siapa? Kenapa aku baru dengar namanya?"
"Please deh kak! Kendalikan rasa cemburumu! Aku capek, aku lelah! Jangan cecar banyak pertanyaan! Dan lagi, aku kerja beneran lho ini! Bukan main-main lobi sana-sini ketawa-ketiwi gak jelas sama laki-laki!"
"Aku bertanya wajar sayang! Kamu pulang kerja pukul 9 malam. Diantar lelaki lain yang tak kukenal! Dan pertanyaanku normal menurutku!"
"Dia adalah kien baru SOFTELLA DEPT STORE. Kami habia meeting makan malam di hotel FLORENCIA kak! Dan aku juga ditemani kak Meynar dan Vicky Pranoto. Aku ga berbuat macam-macam seperti fikiran kotormu!"
"Aku ga berfikir kotor yang! Aku hanya tanya! Dan ini sudah hampir seminggu, kesibukanmu di SOFTELLA sangat menyita waktu luar biasa. Kamu tidak ingat toko onlinemu yang juga butuh perhatianmu! Belum lagi Ahmad yang sebentar lagi ujian kenaikan kelas! Prioritasmu kini hanya fokus pada SOFTELLA, Mira!"
"Khan dari awal aku udah bilang, kak! Aku akan fokus pada SOFTELLA. Khan kakak sendiri juga menyemangatiku untuk tidak mengecewakan kak Ella yang sudah memberiku kepercayaan mengurus perusahaan ini."
"Tapi bukan berarti kamu lupa kewajibanmu sebagai seorang istri, Mira!"
"Aku tidak pernah melalaikan kewajibanku! Mana pernah aku menolak ajakanmu untuk rutin melakukan 'kegiatan malam'? Aku selalu ingat jam makan siang dan mengirimkan foodgrab untuk Ahmad juga. Lalu, dimana letak kesalahanku kak? Kalaupun aku pulang malam akhir-akhir ini, wajar saja menurutku! Karena aku harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku. Aku harus banyak belajar soal bisnis dan tata cara pemasaran! Kamu khan juga seorang pengusaha, kak! Pasti lebih faham seharusnya!"
"SOFTELLA itu perusahaan departement store yang stabil ketika Ella menghibahkannya padamu! Jadi tidak harus terlalu keras kamu mengembangkannya, Mira! Kamu bisa belajar perlahan dan seiring waktu!"
"Tapi ini kesempatan bagiku kak! Mungkin ini cara Tuhan memberiku kebahagiaan. Karierku melesat kak! Dan kumohon pengertianmu untukku!"
"Mira.... ! Kamu terlalu berambisi ingin meraih semua dengan cepat dan mudah!"
"Bukan begitu, kak! Banyak klien mengajak kami kerjasama. Dan klien itu bukan klien kaleng-kaleng kak! Tapi klien yang punya nama besar dibidang tekstil industri dan tata busana. Ini kesempatan besar yang langka, kak Rahman!"
Rahman akhirnya mengalah. Menghela nafasnya dengan sangat lelah. Karena begitu capeknya ia menasehati istrinya yang baru terjun kedunia bisnis yang sebenarnya.
Ia lebih faham bagaimana dunia bisnis yang sesungguhnya. Mira hanyalah melihat fatamorgana didepan sana dengan mata polosnya. Padahal kenyataannya, dunia bisnis itu lebih kejam dibanding realita. Dan Rahman takut Mira terlalu berani melangkah mempertaruhkan harga diri dan perusahaan yang kini ditangannya.
Hhhh....
Benar kata sebagian orang. Harta, tahta dan wanita,... bisa merubah kepribadian seseorang.
__ADS_1
💕BERSAMBUNG💕