
Mira belum pulang. Padahal ini adalah hari ulang tahun Rahman. Seperti dirinya, Mira juga lupa hari lahir suaminya karena terlalu fokus pada pekerjaan barunya.
Rahman menaruh obat dan vitamin yang tadi siang ia beli diapotik untuk Mira konsumsi. Berharap Mira mau meminumnya supaya mereka cepat diberi momongan.
Mira pulang pukul delapan kurang. Memang lebih cepat dari biasanya. Membuat Rahman yang baru selesai Isya menyambut kepulangan istri tercintanya itu dengan suka cita.
Dikecupnya pipi Mira dengan lembut.
"Tubuhku lengket, kak!" ujar Mira. Terlihat wajahnya agak suntuk.
"Cape ya?"
"Hooh! Mandi dulu ya?"
"Aku sudah siapkan air hangat di bathtube yang!"
"Makasih ya kak!"
Rahman tersenyum. Dia memang sudah menyiapkan rendaman air hangat dengan taburan kelopak bunga mawar dari buket bunga yang Cipluk beri padanya. Untuk pengharum mandi Mira ditambahkan esensial yang menyejukkan.
Mira mandi dengan hati bahagia. Suaminya hari ini begitu romantisnya. Menyediakan rendaman air hangat dan helaian kelopak mawar merah yang indah juga wangi.
Andaikan kak Rahman setiap hari romantis seperti ini! Hmmmm..... sweetnya! bisik hati Mira bahagia berendam diair kembang kelopak bunga mawar merah.
Rahman menyiapkan makan malam yang sengaja ia buat simpel saja. Mie goreng spesial lima telur bebek dan udang yang ia beli di resto tadi, Rahman pindahkan dari wadahnya ke piring pinggan.
Sengaja ditatanya sedemikian rupa agar terlihat istimewa. Sate ayam dan juga sop buntut kambing ikut tersaji diatas meja makannya yang bertaplak merah marun berteman vas bunga porselen yang berisi bunga mawar dan kroisan segar yang rahman beli dijalan. Ditambah lilin pemanis suasana.
__ADS_1
Mira terpesona melihat semuanya.
"Apa hari ini hari spesial ya?" tanyanya dengan senyum kebingungan.
Rahman hanya menatap wajah Mira yang tampak segar karena baru selesai mandi.
"Ayo pakai baju dulu, sayang! Kita makan bersama. Ahmaaad! Ayo makan!"
Ahmad yang keluar dari kamarnya ikut kaget melihat meja makan yang terlihat indah penuh makanan.
"Ada acara apa ini? Asiiik, makan besar!"
"Cuci tangan dulu, terus duduk sini. Kita tunggu kak Mira selesai berpakaian!"
"Kakak ulang tahun ya? Selamat ya, moga panjang umur dan makin sukses! Makin banyak uangnya!"
"Aamiin.... Makasih dek doanya!"
Keduanya terlihat duduk manis menunggu Mira yang masih sibuk memakai pakaian.
"Mau kasih selamat atas pencapaianku kerja hebat ya kak?" kata Mira dengan senyum lebar melihat surprise yang Rahman berikan.
"Kak Rahman hari ini ulang tahun, kak Mira sama sekali gak tahu?" semprot Ahmad menatap garang kakaknya.
Mira terdiam menatap Rahman. Ia segera menghambur ketubuh suaminya itu. Merangkulnya erat dengan diiringi dengusan Ahmad.
"Maaf kakak! Mira lupa, kalau hari ini kakak ulang tahun! Maaf ya?"
__ADS_1
"Dasar deh! Kalo Ahmad yang punya istri macam kak Mira, kakak jitak kepalanya biar sadar sama kelakuannya!"
"Apa sih kamu? Bocil tau apa!!!"
"Hehehe.... sudaah, jangan ribut! Ayo kita makan!"
"Kakak ga beli kue tart?" tanya Ahmad.
"Malu Mad! Kakak udah tua. Udah 36 tahun sekarang!"
"Hehehe... khan kue tart untuk semua umur! Tapi seharusnya yang beli itu memang kak Mira!" katanya lagi. Membuat kakaknya mendelik padanya.
"Besok kakak beli kalo Ahmad mau kue tart deh!"
"Maaf kak! Mira beneran lupa. Sumpah! Kakak mau kado apa? Besok Mira beliin! Hehehe..."
"Kakak mau anak dari Mira!"
"Hah? Dikira bikin anak itu gampang apa! Ish, jangan ngomong-ngomong anak didepan Ahmad, kak!"
"Memang kenapa kalau ngomong anak didepan aku? Aku juga nunggu kak Mira punya anak. Aku mau cepat punya adik kecil dari kak Mira!"
"Nah tuh! Ahmad aja nunggu kita cepat punya anak!"
Merah wajah Mira diserang suami dan adik kandungnya sendiri. Padahal, baru saja ia ingin izin pada Rahman untuk suntik KB lagi, mengingat pekerjaannya yang semakin banyak.
Hhhh.....
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1