
"Hai Dik!"
"Hei bro! Sini!"
Mira menoleh kearah suara yang memanggil Dika. Dua orang cowok berjalan sambil senyam-senyum kearah mereka. Bahkan yang seorang terlihat mengerlingkan sebelah matanya pada Mira.
Tanpa disuruh, dua orang itu langsung duduk dikursi dekat Mira dan Dika.
"Gimana bro? Lumayan khan cewek gue?" kata Dika berkelakar pada keduanya. Yang hanya dijawab dengan tawa sengau dan acungan jempol keduanya.
"Apaan sih? Maksud lu apa sih Dik? Eh, sini'in hape gue!"
"Santai aja Mira! Jangan takut, mereka temen-temen aku!" jawab Dika begitu cueknya.
Salah seorang dari mereka berdiri masuk kepintu bartender dan keluar kembali setelah 15 menit dengan sebotol minuman. Seperti,... minuman keras.
Deg.
"Dika! Sini hapeku! Plis, aku harus pulang, tokoku ga ada yang jaga!" Mira meminta dengan suara diperlembut.
"Sebentar Mira sayang, kenapa sih buru-buru? Khan karyawanmu banyak! Ga mungkin tokomu ga ada yang jaga."
Mira menatap Dika. Berusaha berbicara lewat sinaran matanya yang memohon. Membuat Dika lebih berani mendekati Mira dengan merangkul bahunya.
Spontan Mira mengelak.
__ADS_1
"Aku bukan perempuan murahan seperti yang kau duga. Aku wanita bersuami!" tukas Mira mulai kembali membentak Dika dengan suara kerasnya.
"Maaf,.... tangan Anda tidak sopan pada istri saya tercinta!"
"Kakak!?" Mira terpekik.
Antara kaget dan senang karena suaminya tiba-tiba menarik tangan Dika. Dipitingnya lengan mantan pacarnya itu kebelakang. Membuat Dika teriak kesakitan.
"Istrimu sendiri yang datang menemuiku! Bukan salahku juga khan?!" kata Dika kembali berteriak sakit setelah Rahman memperbesar tenaganya menekan tangan Dika.
Seorang dari temannya hendak maju dan terlihat hendak mengayunkan bogemnya pada Rahman.
"Stop! Kalau kau tidak mau orang ini patah tangannya! Dan ini bukan urusanmu juga karena dia sudah kurang ajar pada istri saya!" bentak Rahman dengan suara lantang.
Pria itu berhenti setelah melihat wajah Dika yang meringis kesakitan.
Suasana terlihat ramai. Beberapa pengunjung kasak-kusuk berbisik membuat aparat keamanan datang dan melerai mereka.
"Bawa mereka keluar, pak! Mereka yang buat onar cafe ini!" kata Rahman dijawab anggukan sekuriti cafe.
Dika dan dua temannya digiring keluar oleh dua orang sekuriti bertubuh tinggi besar.
"Kak!"
"Mira ga papa khan?" tanya Rahman langsung dipeluk erat istrinya yang menangis histeris.
__ADS_1
"Ssttt....! Jangan nangis, sayang! Kamu aman sekarang!"
"Kak, maafkan Mira kak!"
"Yuk, kita keluar dulu cari angin!" ajak Mira setelah menenangkan istrinya beberapa belas menit.
Rahman meminta bill kepada pelayan. Setelah membayar sejumlah uang dari makanan dan minuman yang Mira serta Dika makan tadi, keduanya pergi meninggalkan cafe dengan diiringi tatapan pengunjung lainnya.
Mira hanya diam dibonceng suaminya. Meski tak menangis sehisteris tadi, tapi airmatanya terus meleleh. Mengingat betapa menyedihkannya dirinya diperlakukan 'mantan kekasih'nya tadi.
Alih-alih mengajak ketemuan dengan dalil bisnis, Dika ternyata melecehkannya sekali lagi. Bahkan kini lebih hina dengan mengajak serta teman-temannya. Entah apa maksudnya. Mira tak faham.
Rahman tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia diam membuat Mira semakin ketakutan melihat respon suaminya kini.
Rahman membawa motornya pulang. Adzan dzuhur berkumandang tepat ketika ia membuka sepatunya dan masuk kedalam rumahnya.
Mira mengikuti Rahman dari belakang. Keduanya duduk disofa panjang ruang tamu dengan wajah saling pandang.
"Kak, maafin Mira kak! Sungguh Mira ga ada niat untuk janjian sama Dika! Mira pikir, dia beneran ingin mengajak kerja sama bisnis. Mira pikir,... Mira bisa seperti kak Ella yang bisa bisnis bersama kakak dan kak Ramzy!"
"Jadi dia itu Dika, mantan pacar pertamamu itu?"
Deg.
Mira hanya bisa mengangguk dan menunduk. Banjir airmata tapi tak ada suara.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•