PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERDEBATAN PANJANG YANG MELELAHKAN TAPI BERAKHIR DENGAN KEBAHAGIAAN


__ADS_3

"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Rahman.


"Ya engga'lah! Gila apa aku," jawab Mira setengah teriak. Pecah tangisnya.


Dipeluknya Rahman yang terlihat tenang tapi menghanyutkan.


"Aku ingin kejujuran Mira! Mira kecewa khan punya suami seperti aku?"


"Engga', engga'! Mira bahagia punya suami kakak!"


"Bohong! Mira pasti bohong!... Kakak tahu Mira kecewa. Kakak tidak bisa jadi seperti yang Mira inginkan! Kakak tak bisa menjadi seperti yang Mira pinta. Kakak sangat menyadari itu. Bahkan dari awal kita berniat melangkah kejenjang pernikahan."


"Jangan ngomong gitu kaaak!"


"Kakak udah bilang, kita ini terlalu jauh perbedaannya. Kakak udah tua, 34 tahun sebentar lagi 35 tahun. Mira baru 22 tahun akan 23 tahun. Mira gaul, sedangkan kakak norak. Mira ramah, supel dan periang. Kakak jarang bisa masuk dalam pergaulan Mira. Itu sebabnya kakak meminta Mira berfikir berkali-kali diawal!"


"Jadi kakak dari awal ga ada cinta sama aku? Begitu?... Kakak nikah sama aku cuma untuk status saja gitu? Status suami? Begitu?" Mira semakin menangis histeris. Membuat Rahman menelan salivanya.


"Kamu selalu bilang begitu, Mira! Kamu selalu separuh hati juga memandangku. Itu sebabnya kita sering salah faham seperti ini!" jawab Rahman pelan.


"Kak! Apa kakak marah besar sama Mira hanya karena kejadian tadi? Jawab kak!"


"Mira! Kamu itu istriku. Selama aku masih suamimu, keselamatan jiwa ragamu ada ditanganku Mira! Aku memang pendosa dimasa lalu. Aku memang bukan orang bener ditempo dulu. Tapi sedikit-sedikit aku mengerti tugas dan kewajiban seorang suami karena kini aku adalah seorang suami."


"Kakak memiliki cinta ga sama istri sebagai seorang suami? Dan cinta itu adalah poin utama untuk pasangan suami istri. Bukan hanya hak dan kewajiban saja yang harus kakak ingat!"


"Mira cinta kakak?"

__ADS_1


"Mira cinta kakak. Itu sebabnya Mira mengajak kakak menikah. Bahkan Mira tak peduli, apakah kakak punya uang atau tidak. Mira ingin membangun rumah tangga bahagia!"


"Bukankah Mira mengajak kakak menikah juga dengan berbagai alasan? bukan hanya cinta? Tapi Mira lelah dengan kehidupan dan kisah kasih Mira dimasa lalu?"


"Itu salah satunya! Dan kakak sendiri? Srperti orang yang tidak punya prinsip dan pendirian! Umur kakak tua tapi kakak seperti kanak-kanak. Sulit diatur dan dimengerti! Bahkan cinta sendiri tidak kakak fahami!"


"Apa itu cinta menurut Mira?"


"Cinta itu kasih dan sayang! Yang harus terus dipupuk dan disemaikan meskipun kita ini sudah pasangan yang halal. Jadi kakak belum mengerti cinta?"


Rahman menatap wajah istrinya.


"Tadi aku ingin menghajar tiga pria tengil itu karena hatiku remuk redam, istriku mereka lecehkan seenak dengkul mereka. Aku bisa saja mengajak mereka duel satu lawan satu demi membela harkat, martabat dan harga diri istriku kalau aku tak berfikir panjang, takut istriku semakin malu lihat tingkahku yang sudah tua tapi masih suka buat keonaran ditempat umum. Itu apa Mira? Apa aku tidak terlihat mencintaimu?"


Rahman meleleh airmatanya.


Mira mendekati Rahman yang terlihat terguncang kini perasaannya. Ia meraih jemari suaminya. Menangis bersama Rahman.


"Ya aku salah. Aku sejak awal tidak bisa terbuka menceritakan diriku dan masa laluku sama kamu. Ya aku salah, memang! Hampir semua orang menyalahkanku. Aku akui itu kesalahanku! Wajar kamu memiliki rasa ketakutan dan setengah hati mempercayaiku. Aku mengerti! Aku faham, Mira! Tapi aku memang sensitif ketika kamu mengusik Ella dan keluarganya. Ya mungkin aku terlihat aneh! Saudara bukan, tapi sebegitunya aku marah padamu yang adalah istriku sendiri yang seharusnya lebih aku lindungi dibanding Ella. Ya aku salah! Tapi aku lebih bersalah pada dia dimasa lalu. Dan itu tidak bisa dihapus begitu saja. Tidak Mira! Bersyukur aku bisa berteman dengan Ramzy yang pada akhirnya membuat batinku kini lebih tenang."


Mira diam menunduk sementara airmata terus menetes.


"Hapeku masih di cowok berengsek itu!" Mira panik. Baru tersadar kalau handphonenya masih disimpan Dika.


"Nanti kita beli yang baru!"


"Bukan masalah hapenya kak! Tapi yang jadi masalah, banyak nomor klien disitu. Hhhh....! Maaf kak, aku tidak menceritakan pertemuanku sama dia!"

__ADS_1


Rahman merangkul tubuh istrinya. Mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


"Mira! Kakak sangat menyayangimu! Kalau kamu ingin bahagia, bilang ya,... meskipun itu pahit untukku...semisal perceraian, dan ada orang yang Mira lebih sayangi dan mencintai Mira sepenuh hati! Aku akan..... melepaskanmu!"


"Apa sih? Ucapan apa itu? Kakak kalau sekalinya bicara, menyakiti perasaanku!"


"Itu bukti cintaku padamu, Mira! Pergilah jika kamu memilih dia!"


"Itu bukan 'cinta'! Kalau cinta, pertahankan Mira sampai tetes darah penghabisan! Bukan menyerah! Huhuhuhuuu.... huaaaaa, kakak jahat! Kakak ingin melepaskanku begitu saja!"


"Hahahaha.... Mira sayang! Kamu koq malah sedih? Malah nangis kejer begitu?"


"Kakak jahaaaat, kakak justru itu ga cinta akuuuuuu!!! Aku benciiiiiiiii..... Huhuhuhu huaaaaa hik hik hiks!"


"Cup cup cup, eh malu Mir. Suara tangismu terdengar sampai seberang jalan tuh! Cup cup, udah sayang!"


"Ga mauuuuuuu...!!! Ga mauuuuuuuu, ga rela aku kalau kakak ikhlas melepasku! Aku maraaaaah! Aku ingin dipertahankan suamiku! Ingin suamiku memohon-mohon untuk tidak bercerai, bukannya legowo menerima perceraian. Ga mauuuuuuuu.....!!!!"


Mira semakin kencang tangisnya. Membuat Rahman tertawa melihat istrinya yang masih kekanakkan tapi sangat ia sayangi itu.


Ia memeluk erat tubuh Mira.


"Maaf sayang, kalau aku menyakitimu! Maaf! Beribu-ribu maaf, ya? Aku sayang dan cinta Mira! Tiada lain. 🎶Aku tau kutak kan bisa. Menjadi sperti yang engkau pintaaa.... Namun selama, aku bernyawa, aku kan mencoba.... Menjadi sperti yang kau pinta🎶"


Suara merdu Rahman membuat Mira semakin sedih. Dipeluknya erat tubuh suaminya itu. Hatinya bergumam janji, akan mencintai dan percaya suaminya sepenuh hati.


💕BERSAMBUNG💕

__ADS_1


__ADS_2