
Leo dan Max hanya tersenyum kemudian mereka menggunakan drone untuk melacak keberadaan mommy Gloria dan daddy Thomas sedangkan di tempat yang sama tiga pelayan terikat dengan erat di kursi dengan di keliling oleh tuan Saverio, Aleandro, Maximus, Fico, Aska dan Robert sedangkan Alvonso, Alvian dan Arlan.
" Siapa kalian?" Tanya tuan Saverio sambil menatapnya dengan tatapan membunuh.
Hening
Hening
" Kalian semuanya keluar kecuali Fico dan Aska." Perintah tuan Saverio
" Tapi dad..." Ucapan Aleandro terpotong oleh tuan Saverio.
" Tidak ada penolakan." Ucap tuan Saverio.
" Baik dad." Jawab Aleandro, Maximus dan Robert serempak.
" Baik paman." Jawab Alvonso, Alvian dan Arlan serempak.
Mereka pun serempak membalikan badannya dan berjalan ke arah pintu kecuali Fico dan Aska yang masih berdiri di sisi kanan dan kiri tuan Saverio.
" Tutup pintunya dengan rapat dan geledah kamar ke tiga pelayan ini siapa tahu menemukan petunjuk yang lain." Perintah tuan Saverio.
__ADS_1
" Baik dad." Jawab Aleandro, Maximus dan Robert serempak.
" Baik paman." Jawab Alvonso, Alvian dan Arlan serempak.
Mereka pun keluar satu persatu hingga pintu itu tertutup dengan rapat, sepeninggal mereka semua tuan Saverio mengeluarkan pisau lipat yang sudah lama tidak dipergunakan dari saku belakang celana panjangnya.
" Aska, daddy tahu kamu adalah seorang psychophat dan daddy juga tahu kamu sangat dendam terhadap mereka atas kematian oma, opa, daddy Thomas dan mommy Gloria karena itu mari kita berpesta menyiksa mereka sampai mereka mengaku siapa yang menyuruhnya." Ucap tuan Saverio sambil tersenyum devil ke arah ke tiga pria tersebut.
" Baik dad." Jawab Aska sambil mengeluarkan pisau lipat yang sudah lama tidak dipergunakan dari saku belakang celana panjangnya.
'' Apakah aku boleh dad?' Tanya Fico yang sudah lama tidak menyiksa dan membunuh orang sejak dirinya kenal dengan Quenby begitu pula dengan tuan Saverio.
" Tentu saja." Jawab tuan Saverio.
Mereka bertiga belum mengetahui kalau daddy Thomas dan mommy Gloria masih hidup, Fico mengeluarkan pisau lipat yang sudah lama tidak dipergunakan dari saku belakang celana panjangnya kemudian berjalan ke arah salah satu dari mereka begitu pula dengan tuan Saverio dan Aska.
Hal itu tentu saja membuat ke tiga pelayan tubuhnya gemetar menahan rasa takut teramat sangat hingga salah satu dari mereka menggigit lidahnya membuat pria itu langsung mati seketika.
Tuan Saverio yang melihat salah satu menggigit lidahnya langsung menarik dasinya kemudian menyumpal mulut salah satu pria itu agar tidak menggigit lidahnya seperti temannya.
" Fico, gunakan dasi mu untuk menyumpal mulutnya." Perintah tuan Saverio.
__ADS_1
Fico melirik sekilas pria yang sedang di dekati oleh Aska mulutnya mengeluarkan darah segar membuat Fico mengerti dan langsung menutup mulut pria itu dengan menggunakan dasinya sedangkan Aska hanya berdecak kesal karena mangsanya sudah ma*i.
" Si*l baru juga ingin bermain - main." Ucap Aska dengan nada kesal.
" Fico, lebih baik kamu temani istrimu biarkan pria itu sama Aska." Perintah tuan Saverio.
" Tapi dad..." Ucap Fico terpotong oleh tuan Saverio.
" Istrimu sedang sedih temani istrimu apalagi istrimu akan bertambah sedih jika saja mengetahui kalau suaminya menyiksa dan membunuh di hari pernikahannya." Ucap tuan Saverio.
" Baik dad." Jawab Fico patuh sambil melipat kembali pisau lipatnya dan menyimpannya di dalam saku belakang celana panjangnya dan pergi meninggalkan mereka berempat.
" Siapa menyuruh kalian?" Tanya tuan Saverio mengulangi perkataan yang tadi.
Hening
Hening
" Hehehe... Aku lupa jika mulut kalian kami tutup." Jawab tuan Saverio Sambil terkekeh geli.
Aska hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan tuan Saverio dengan wajah tanpa ekspresi, datar dan dingin
__ADS_1
" Aska biar daddy dulu kalau tidak ada jawaban juga baru kamu bertindak." Ucap tuan Saverio.
" Baik dad." Jawab Aska patuh tanpa berani membantah.