
POV SELI
Seli seperti biasa mengajar anak - anak murid taman kanak-kanak hingga terdengar suara bel tanda waktunya makan bersama. Seperti biasa para murid antri untuk mencuci tangan dan setelah selesai masing - masing duduk di kursi sambil membuka kotak makanan. Cintya berjalan ke arah Seli sambil tersenyum manis dan Seli pun membalas senyuman manisnya.
" Ada apa Cintya?" tanya Seli dengan nada lembut.
" Mommy, tidak membawakan bekal untukku?" tanya Cintya dengan mata berkaca - kaca.
( ' Aduh kenapa aku bisa lupa? Gara - gara memikirkan perjodohan aku jadi lupa,' ucap Seli dalam hati ).
" Bawa kok, ini bekalnya," ucap Seli.
Seli terpaksa memberikan bekalnya karena tidak tega melihat mata Cintya berembun sedangkan Cintya perubahan wajahnya yang semula sedih kini langsung berubah tersenyum bahagia membuat Seli menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" Mommy tidak makan?" tanya Cintya.
" Mommy belum lapar, Cintya makan bersama teman - teman ya," ucap Seli yang terpaksa menyebut dirinya mommy karena jika menyebut nama Ms. Seli takutnya Cintya menangis sambil memberikan kotak bekal makanan tersebut.
" Baik mommy," jawab Cintya patuh sambil menerima kotak makanan milik Seli.
( ' Benar kata kak Sela lebih baik aku menerima perjodohan ini karena jika tidak Cintya akan terus menyebutku mommy dan pria yang menyebalkan itu tidak lagi seenaknya memelukku,' ucap Seli dalam hati ).
Setengah jam kemudian acara makan dan minum sudah selesai dan anak - anak kembali belajar hingga satu jam kemudian bel pun berbunyi tanda waktunya pulang sekolah.
Singkat cerita kini Seli harus mengantar kembali Cintya ke perusahaan milik Presdir Albert karena dirinya di telepon untuk di antar membuat Seli lagi - lagi menghembuskan nafasnya dengan berat.
( ' Haruskah, aku pindah kerja? tapi tidak lucu juga kali hanya gara - gara ini aku harus pindah kerja." ucap Seli dalam hati ).
__ADS_1
" Mommy kok mobilnya belum jalan?' tanya Cintya.
Cintya terkejut dari tadi dirinya belum menyalakan mesinnya kemudian Cintya menyalakan mobilnya dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran sekolah menuju ke perusahaan.
Singkat cerita kini Seli sudah sampai perusahaan dan langsung mengetuk pintu ruangan Presdir Albert setelah mendapatkan jawaban Seli membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Presdir Albert sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Seli mendengus kesal.
" Mommy, kenapa wajah mommy masam?" tanya Presdir Albert usil.
" Oh ya mulai sekarang jangan panggil aku mommy," ucap Seli
" Memang kenapa mom?" tanya Presdir Albert dan Cintya serempak.
" Sebentar lagi aku akan menikah jadi mulai besok dan seterusnya maaf aku tidak bisa mengantar Cintya," ucap Seli sambil membalikkan badannya.
Duarr Duarr
Ibarat bunga baru mekar dengan indahnya tiba - tiba langsung layu itu yang dirasakan saat ini oleh Presdir Albert. Entah kenapa ada yang hilang dalam dirinya ketika Seli mengatakan hal itu.
( ' Enak saja aku jadi istri yang ke sekian, mentang - mentang wajah tampan dan kaya seenaknya mempermainkan perasaan wanita," ucap Seli dalam hati ).
Grep
" Hiks... Hiks... Hiks...Kenapa tidak mau menjadi mommynya Cintya?" tanya Cintya sambil terisak
Seli terdiam entah kenapa hatinya terasa sangat sakit tapi berusaha di tepisnya karena bagaimanapun dirinya tidak ingin di sebut pelakor membuat Seli melepaskan pelukan Cintya kemudian berlutut dan menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar.
" Cintya kan sudah ada mommy dan daddy jadi mulai sekarang dan seterusnya Cintya memanggil Ms. Seli jangan mommy lagi," ucap Seli dengan nada lembut.
__ADS_1
" Tapi Cintya ingin punya mommy lagi biar mommynya banyak," ucap Cintya polos.
" Cintya kan sudah punya mommy banyak jadi sudah cukup ya jangan nambah - nambah lagi," ucap Seli sambil menahan kemarahan dan kebencian pada Presdir Albert.
" Memang kenapa?" tanya Cintya polos.
" Kalau mommynya banyak takutnya salah satu mommynya Cintya suka marah - marah dan suka mukul ." ucap Seli.
" Semua mommynya Cintya baik kok sama Cintya," jawab Cintya polos.
Seli menatap ke arah Presdir Albert untuk meminta bantuan tapi yang ada malah mengangkat ke dua bahunya seakan mengatakan pikir saja sendiri hal itu membuat Seli menatap tajam ke arah Presdir Albert sedangkan yang di tatap tajam tidak perduli.
" Siapa tahu pas ada mommy baru ternyata mommynya suka marah - marah dan suka mukul bagaimana? Memang Cintya mau?" tanya Seli dengan wajah serius.
" Huhuhuhu... Tidak mau," ucap Cintya sambil terisak.
" Nah makanya jangan mencari mommy baru lagi ya." ucap Seli sambil menghapus air mata Cintya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.
" Baik mommy," jawab Cintya.
" Mulai sekarang dan seterusnya panggil lah Ms. Seli," pinta Seli.
" Tapi Cintya ingin mommy Seli menjadi mommynya Cintya," pinta Cintya.
Seli menghembuskan nafasnya dengan perlahan setelah beberapa saat Seli menganggukkan kepalanya sebagai setuju dirinya di panggil mommy karena yang terpenting dirinya sudah mengatakan kalau dirinya sebentar lagi akan menikah.
" Mommy pulang dulu ya," pamit Seli sambil mengusap rambut Cintya.
__ADS_1
" Baik mommy," jawab Cintya.