Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Satu Syarat


__ADS_3

Bokong milik Sela menabrak lantai di tambah tubuhnya di timpa tuan Axel hingga Sela jatuh ter len tang dan untunglah tuan Axel menahan kepala Sela agar tidak terbentur lantai hingga wajah mereka sangat dekat dan bibir milik Sela menyentuh bibir tuan bibir Axel.


Jantung ke duanya berdetak kencang terlebih tuan Axel kemudian tuan Axel menatap bibir Sela dan tanpa sadar tuan Axel mencium bibir Sela singkat namun tuan Axel yang merasakan pertama kali ciuman membuatnya ingin merasakan lagi.


Tuan Axel ******* bibir Sela yang terasa sangat manis hal itu membuat tuan Axel memejamkan matanya menikmati ciuman pertamanya namun tiba - tiba mulutnya terasa asin membuat tuan Axel membuka matanya dan melihat Sela mengeluarkan air matanya hingga dirinya tersadar dan melepaskan ciumannya..


Grep


" Maaf," ucap tuan Axel untuk pertama kalinya meminta maaf sambil memeluk Sela.


Entah kenapa hatinya sangat sakit jika melihat Sela menangis membuat tuan Axel untuk pertama kalinya memeluk tubuh seorang wanita begitu pula dengan Sela untuk pertama kalinya dirinya di peluk pria lain selain oleh keluarganya namun Sela tidak membalas pelukannya.


" Lepas," ucap Sela dengan nada dingin.


Tuan Axel langsung melepaskan pelukannya kemudian bangun dari tubuh Sela yang masih berbaring sedangkan Sela berusaha bangun sambil meringis menahan rasa sakit pada bokongnya membuat tuan Axel mengulurkan tangannya untuk membantu Sela berdiri. Sela yang tidak punya pilihan lain terpaksa menerima uluran tuan Axel untuk berdiri.

__ADS_1


" Apakah kamu benar ingin menjual tubuhmu?" tanya tuan Axel setelah melihat Sela sudah berdiri.


" Apakah aku serendah itu?" tanya Sela menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sambil duduk perlahan di kursi berhadapan dengan tuan Axel yang hanya dibatasi oleh meja.


" Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu mau menjual tubuhmu? Kalau tidak menjual tubuhmu lalu dari mana kamu mendapatkan uang itu?" tanya tuan Axel sambil berjalan ke arah kursi kebesarannya.


" Karena aku sangat kesal tuan menuduhku dengan menjual tubuhku, tenang saja tuan aku akan pinjam uang ke rentenir," jawab Sela berbohong lagi.


" Apakah kamu sanggup membayar cicilannya?" tanya tuan Axel sambil menatap Sela dari kursi kebesarannya tanpa memperdulikan ucapan kesal Sela.


" Tentu saja aku memikirkannya, apalagi bunga rentenir sangat tinggi apakah kamu sanggup membayarnya? Dari pada kamu membayar penalti lebih baik berkerja di tempatku menjadi sekretaris," ucap tuan Axel yang entah kenapa dirinya ingin Sela menjadi sekretarisnya.


" Kalau tuan bisa merubah peraturan tentang Surat Peringatan aku akan berkerja di perusahaan ini," jawab Sela dengan tegas.


" Kenapa harus merubah?" tanya tuan Axel.

__ADS_1


" Kalau aku di pecat aku tidak perduli tapi yang aku perdulikan adalah para pegawai karena selain mereka sudah di pecat di tambah tidak bisa berkerja di tempat lain," jawab Sela.


" Kenapa kamu perdui dengan orang lain?" tanya tuan Axel.


" Sesama manusia harus saling peduli itu yang diajarkan oleh ke dua orang tuaku," jawab Sela.


Tuan Axel langsung terdiam namun dalam hatinya yang terdalam sangat kagum dengan pribadi Sela tapi berusaha untuk di tepisnya.


" Bagaimana tuan?" tanya Sela.


Tuan Axel menghembuskan nafasnya dengan berat setelah beberapa saat berpikir akhirnya dirinya setuju untuk merubah peraturan membuat Sela tersenyum.


" Baiklah aku akan merubahnya tapi dengan satu syarat kamu tetap berkerja di perusahaan ini sebagai sekretaris pribadiku," ucap tuan Axel.


" Baik tapi dengan satu syarat juga," ucap Sela tidak mau kalah

__ADS_1


__ADS_2