Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Apa yang terjadi?


__ADS_3

" Kita harus memberikan pelajaran buat kak Maya." Ucap Rena yang sangat membenci Maya


" Kakak juga sangat membencinya padahal kakak sudah meminta maaf dan memohon tapi tetap saja tidak dimaafkan." Ucap Kevin.


" Kita harus memberikan pelajaran pada kak Maya." Ucap Rena


" Kak Kevin dan kak Rena aku ada teman yang orang tuanya suka menyewa seorang pembunuh bayaran." Ucap Rina


" Siapa? tapi bayarnya pasti mahal." Ucap Kevin


" Dia sudah sangat kaya jadi tidak perlu bayaran." Ucap Rina


" Wah enak donk tapi kalau dia sudah sangat kaya kenapa dia mau membunuh orang?" Tanya Kevin dengan nada bingung.


" Karena dia seorang psycophath, sangat suka menyiksa." Ucap Rina


" Ya sudah bagus, kamu minta tolong temanmu untuk meminta pertolongan orang tuanya untuk menyiksa dan membunuh suaminya Maya agar Maya mau kembali padaku." Ucap Kevin.


" Apa kak? Aku tidak setuju aku ingin kak Maya yang di bunuh." Ucap Rena.


" Iya aku setuju dengan kak Rena lebih baik kak Maya di siksa dan di bunuh." Ucap Rina.


Kevin menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


" Baiklah kalau begitu bunuh ke duanya." Ucap Kevin dengan nada pasrah.


" Tapi kak..." Ucap Rina menggantungkan kalimatnya.


" Tapi kenapa?" Tanya Kevin dan Rena serempak sambil menatap Rina.


" Dia tidak membutuhkan uang tapi membutuhkan penghangat ranjang karena minta dua orang jadi harus ada dua orang yang menjadi penghangat ranjangnya." Ucap Rina menjelaskan.


" Si*l, pantas saja tidak mau di bayar tapi dia meminta imbalan itu." Ucap Kevin dengan nada kesal.


" Biar aku saja kan aku juga sudah kehilangan harta berhargaku." Ucap Rena menawarkan diri.


" Jangan kak." Ucap Rina dengan nada tegas.


" Memang kenapa?" Tanya Rena penasaran.


" Kata temanku yang tidak sengaja melihat, pria itu menyiksa terlebih dahulu baru melakukan hubungan suami istri tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu membuat wanita itu berteriak kesakitan." Ucap Rina menjelaskan

__ADS_1


Kevin, Rena dan Rina mulai berfikir bagaimana mencari dua orang wanita karena Rena dan Rina tidak mau mengingat pria itu seorang psycophath gi*a.


" Kak, aku baru ingat dulu kan kak Bela jadi pacar kakak, suruh kak Bela saja." Usul Rena


" Tapi bagaimana caranya supaya dia mau?" Tanya Kevin.


" Kak Bela kan wanita matre bilang saja sahabat kakak sedang mencari pendamping dan menunjukkan mansionnya pasti langsung mau karena mansionnya sangat indah banget." Ucap Rina


" Kok kamu tahu?" Tanya Kevin


" Sebenarnya waktu itu kekasihku menjualku ke pria psychophat itu kak." Ucap Rina dengan jujur.


" Ceritakan pada kakak?" Tanya Kevin merasa sangat bersalah karena selama ini dirinya sibuk dengan mengejar Maya dan tidak pernah memperhatikan ke dua adiknya.


" Kekasihku mengajakku ke rumahnya dan tanpa curiga aku ikut pergi bersamanya kak tapi..." Ucap Rina menggantungkan kalimatnya.


grep


" Tapi apa dek?" Tanya Rena sambil memeluk adik bungsunya.


Rina pun mengingat kejadian yang ingin dilupakannya.


xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx


" Kenapa aku mau dikenalkan oleh keluargamu yank?" Tanya Rina


" Kamu sudah kelas dua SMP sedangkan aku kelas satu SMA dan sebentar lagi kamu naik kelas tiga SMP sedangkan aku naik ke kelas 2 SMA. Aku ingin nanti aku lulus SMA kita langsung menikah." Ucap Anto


" Secepat itukah? Kan aku belum lulus sekolah?" Ucap Rina


" Lebih cepat lebih baik karena aku tidak sabar ingin menikah denganmu. Apalagi jika nanti kita nikah kamu masih bisa melanjutkan sekolah." Ucap Anto berusaha merayu Rina


" Kamu maukan sayang?" Tanya Anto


" Mau sayang." Jawab Rina sambil tersenyum bahagia karena dirinya akan dikenalkan oleh keluarganya.


" Kalau begitu ayo kita pergi naik motorku." Ajak Anto.


" Ok." Jawab Rina singkat.


Sepasang sejoli yang masih muda belia pergi meninggalkan halaman sekolah menuju ke rumah Anto. Setengah jam kemudian Anto sudah sampai di rumah yang sangat besar seperti mansion.

__ADS_1


" Rumahnya sangat besar." Ucap Rina sambil menatap ke sekelilingnya dengan mata berbinar.


" Begitulah sayang, ayo kita masuk ke dalam." Ucap Anto.


Rina tidak mendengarkan ucapan Anto karena dirinya sibuk menatap mansion yang sangat megah membuat Anto kesal terhadap Rina. Dua orang bodyguard membuka pintu utama dan merekapun masuk ke dalam. Kepala pelayan mengantar mereka ke ruang keluarga kemudian kepala pelayan itupun pergi meninggalkan mereka berdua.


" Sayang, kok sepi keluargamu pada kemana?" Tanya Rina sambil berdiri memegang barang-barang yang berada di ruang keluarga.


" Mereka sedang berkumpul di atas sebentar lagi turun." Ucap Anto.


Rina hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berapa lama datang kepala pelayan dan memberikan dua gelas juice jambu dan cemilan beraneka ragam.


" Tahu saja aku haus." Ucap Rina sambil meminum juice tersebut tanpa sisa


" Sayang kamu tidak suka kan buatku saja ya?" Ucap Rina tanpa malu sedikitpun.


Tanpa menunggu jawaban Rina meminum hingga habis tidak tersisa membuat Anto hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Sayang, kamu di sini dulu ya aku mau naik ke atas dulu." Ucap Anto


" Ok." Jawab Rina singkat.


Anto menaiki anak tangga menuju ke sebuah pintu yang paling ujung dan pintunya masih tertutup . Anto mengetuk pintu sekali dan tidak berapa lama terdengar suara dari dalam pintu.


" Uangnya mintalah pada kepala pelayan." Perintah suara pria.


" Baik tuan." Jawab Anto


" Ahhhhhhh!!!" Teriak seorang wanita


Anto yang mendengar suara teriakan langsung berjalan dengan langkah cepat menuruni anak tangga. Mata Anto membulat sempurna melihat Rina seperti cacing kepanasan dengan tubuh polos tanpa sehelai benang membuat adik kecil Anto langsung menegang dan ingin memasuki tubuh Rina.


" Jangan sentuh mainan ku, kamu pergilah." Usir pria itu


" Baik tuan." Jawab Anto pergi dari tempat tersebut.


Pria itupun berjalan ke arah Rina sedangkan Rina yang melihat pria itu langsung berjalan ke arah pria itu dan langsung memeluknya.


" Tuan tolong saya, saya sangat panas dan tersiksa." Ucap Rina sambil menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuh pria itu.


Pria itupun langsung menggendong Rina seperti koala menuju ke arah kamarnya. Pria itupun melempar Rina ke arah ranjang dan langsung mencambuk Rina tanpa memperdulikan teriakan kesakitan setelah merasa sangat puas pria itupun melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun dan tanpa pemanasan pria itu langsung menyatukan tubuhnya membuat Rina berteriak kesakitan yang teramat sangat hingga satu jam lamanya akhirnya adik kecilnya mengeluarkan laharnya ke rahim Rina.

__ADS_1


Pria itupun langsung menarik adik kecilnya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping. Tidak berapa lama mereka tertidur dengan pulas. Setengah jam kemudian Rina bangun dan matanya membulat sempurna melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun di tambah rasa sakit pada tubuhnya dan bagian privasinya.


" Apa yang terjadi?" Tanya Rina sambil berfikir


__ADS_2