
" Bagiku kamu istri pertamaku dan juga istri terakhirku jadi aku tidak mungkin ada niat untuk berselingkuh dengan wanita lain." ucap Nathan dengan tegas.
" Aku percaya," jawab Maya yang merasakan bokongnya terasa ada yang mengganjal.
" Terima kasih sudah percaya padaku, oh ya tadi sayangku bilang ada cara lain apa itu?" tanya Nathan dengan suara mulai berat.
" Sayangku berbaringlah," pinta Maya tanpa menjawab ucapan suaminya.
Tanpa banyak bicara Nathan berbaring di ranjang dengan diikuti oleh istrinya, Maya mengarahkan ke dua tangannya ke arah celana panjang Nathan kemudian membuka gesper sedangkan Nathan tersenyum penuh arti karena dirinya mengerti apa yang akan dilakukan oleh Maya.
" Tunggu biar aku saja," ucap Nathan sambil duduk kemudian menahan ke dua tangan Maya.
Nathan turun dari ranjang kemudian melepaskan seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun dan terlihat jelas tongkat sakti miliknya berdiri dengan tegap sedangkan Maya menatap tubuh Nathan tanpa kedip membuat Nathan tersenyum.
" Aku tahu kalau aku tampan, lakukan sayang aku ingin merasakan lagi," ucap Nathan sambil menodongkan tongkat saktinya ke bibir Maya.
Posisi Nathan berdiri sedangkan Maya duduk di tepi ranjang, Maya memasukan tongkat sakti milik Nathan ke dalam mulutnya kemudian mulutnya maju mundur dan terkadang menjila*nya seperti memakan es krim sedangkan Nathan merasakan enak luar biasa hingga sampai ke ubun - ubun hingga lima belas menit kemudian tongkat saktinya mengeluarkan cairan kental ke dalam mulut Maya.
" Uhuk ... Uhuk.... Uhuk... " Maya tersedak kemudian langsung berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah kamar mandi.
Setelah dua menit kemudian Maya menatap horor suaminya membuat Nathan tersenyum karena melihat Maya sangat menggemaskan.
" Lain kali aku ngga mau lagi," ancam Maya sambil berjalan ke arah ranjang.
Grep
" Jangan sayang aku sangat tersiksa jika sayangku tidak melakukannya," ucap Nathan sambil memeluk istrinya.
" Tapi dengan satu syarat, jangan dimasukkan ke dalam mulutku," ucap Maya dengan nada tegas sambil membalas pelukan suaminya.
" Iya.. Iya.. Maaf aku janji tidak melakukannya," ucap Nathan
" Aku ingin tidur sayang, sayangku mandilah," pinta Maya
cup
" Baik sayang," Ucap Nathan
Nathan melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Maya mengambil satu persatu pakaian milik Nathan yang tergeletak di lantai kemudian memasukkan ke keranjang khusus pakaian kotor setelah selesai Maya berbaring di ranjang sambil menunggu suaminya datang.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Nathan sudah selesai mandi dengan tubuh segar dan memakai handuk yang menutupi tongkat saktinya, Nathan berjalan ke arah lemari dan mengambil celana pendek dan memakainya. Selesai memakai celana pendek Nathan berjalan ke arah ranjang dan berbaring di samping istrinya.
" Sayang belum tidur?" tanya Nathan sambil memeluk istrinya.
" Aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk," ucap Maya manja sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Cup
" Kenapa jadi manja begini?" tanya Nathan dengan nada lembut kemudian mengecup pucuk kepala istrinya.
" Tidak tahu sayang, mungkin anak - anak kita sangat sayang dan tidak mau jauh sama daddynya," ucap Maya
" Daddy juga sangat sayang dengan mommy dan anak - anak daddy, daddy tidak sabar menunggu kehadiran kalian." ucap Nathan sambil membelai perut istrinya yang masih rata.
Maya hanya tersenyum sambil memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama Maya tertidur dengan pulas hingga terdengar suara dengkuran halus membuat Nathan tersenyum bahagia bisa menikah dengan Maya wanita yang sangat dicintainya.
" Aku sangat mencintaimu dan juga ke lima anak kita, aku berjanji untuk selalu setia dan melindungi kalian semuanya," ucap Nathan dengan nada pelan.
Tidak berapa lama Nathan tertidur dengan pulas mengikuti jejak istrinya yang sedang bermimpi indah, mereka berdua tidur sambil berpelukan sedangkan di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Quenby dan Fico berbaring di ranjang dengan posisi tidur terlentang.
" Sayang," panggil Quenby sambil memiringkan tubuhnya kemudian menggambar pola abstrak ke dada bidang suaminya.
" Apa yang dipikirkan kak Fico?" tanya Quenby.
" Ingin memakan dirimu tapi..." ucap Fico menggantungkan kalimatnya sambil memejamkan matanya.
" Tapi kenapa?" tanya Quenby yang masih membuat pola abstrak.
" Stop, jangan diteruskan." ucap Fico sambil menahan tangan Quenby karena tombak sakti miliknya bertambah tegang akibat ulah Quenby tanpa menjawab pertanyaan Quenby.
" Kenapa?" tanya Quenby sambil menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu.
Grep
cup
Fico membuka matanya dan melihat sepasang mata Quenby berkaca - kaca membuat Fico memeluk Quenby dengan lembut kemudian mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut membuat Quenby mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.
" Sayang, aku bukannya marah tapi karena melakukan itu adik kecilku semakin tegang," ucap Fico sambil mengarahkan tangan Quenby ke bagian bawah perutnya yang sudah mulai mengeras.
__ADS_1
" Punya kakak semakin membesar," ucap Quenby polos sambil mengelus tombak sakti milik suaminya.
Grep
" Sayang, jangan nakal," pinta Fico dengan suara semakin berat sambil menahan tangan Quenby.
" Aku nakal apa?" tanya Quenby polos.
" Kamu membuat pola abstrak di dadaku dan membelai adik kecil membuatku ingin sekali memakan dirimu," bisik Fico sambil menatap bibir Quenby.
cup
Fico mendekatkan wajahnya ke wajah Quenby kemudian menciumnya dengan singkat, Fico menatap Quenby dengan berselimut gairah membuat Fico melepaskan pelukannya kemudian menaiki tubuh Quenby dengan menahan ke dua tangannya di sisi kanan dan disisi kiri untuk menahan tubuhnya.
Fico kembali menciumi bibir Quenby sedangkan Quenby mengalungkan ke dua tangannya ke leher Fico dan entah bagaimana kini tubuh ke duanya sudah polos namun ketika hendak memasukkan tombak sakti miliknya ke goa yang terdalam milik Quenby tiba - tiba Fico menarik tubuhnya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping.
" Kenapa tidak diteruskan sayang?" tanya Quenby yang ingin segera dituntaskan.
" Aku baru ingat kamu masih luka nanti saja kalau lukamu benar - benar sembuh," ucap Fico sambil turun dari ranjang.
Grep
" Apakah suamiku kecewa dan marah padaku?" tanya Quenby dengan mata berkaca - kaca.
" Kenapa kecewa dan marah?" tanya Fico sambil membalikkan badannya kemudian tersenyum.
" Lalu kenapa berhenti?" tanya Quenby.
" Akukan sudah bilang sayang karena istri yang aku cintai masih terluka jadi aku menahannya, kalau aku tetap memaksanya berarti aku suami yang hanya memikirkan dirinya sendiri." ucap Fico sambil duduk di ranjang kemudian membelai wajah istrinya dengan lembut.
" Terima kasih sayang, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu," ucap Quenby.
" Justru aku sangat bahagia bisa menikah denganmu dan di tambah keluarga besar mu mau menerimaku apa adanya," ucap Fico sambil tersenyum.
Quenby tersenyum sambil menatap wajah tampan suaminya yang tidak pernah membuat Quenby bosan untuk menatap wajah suaminya sedangkan Fico membalas senyuman Quenby.
" Sayang berdirilah," pinta Quenby
" Kenapa?" tanya Fico dengan nada bingung
__ADS_1