
" Mati dan hidup seseorang tidak ada yang tahu semua adalah rahasia Tuhan, tante tahu bagaimana perasaanmu dan juga perasaan saudara - saudaramu tapi kita tidak bisa mengubah takdir. Sekarang yang terpenting kamu doakan oma dan opa agar di ampuni segala dosa - dosanya dan diringankan langkahnya," ucap mommy Laras.
" Terima kasih tante," ucap Quenby
" Sama - sama sayang, pesan tante jangan kamu membenci Dita karena Dita masih kecil dan dia tidak tahu kalau ibunya sangat jahat," ucap mommy Laras.
" Baik tante,' ucap Quenby patuh.
" Sekarang tante dan paman akan ke kamar Dita untuk membujuk Dita," ucap mommy Laras.
" Maya ikut tante karena Maya merasa bersalah membentak Dita," ucap Maya.
" Lebih baik kamu istirahat, Quenby juga karena kalian belum sembuh dari luka tembak," ucap mommy Laras.
" Tapi mom..." ucapan Maya terpotong oleh mommy Laras.
" Maya sayang, ingat di dalam perutmu ada lima bayi jadi kamu istirahat dan biarkan urusan Dita sama tante dan paman," ucap mommy Laras.
" Benar kata tante Laras, kamu istirahat dan jangan biarkan dirimu stres memikirkan Dita karena dirimu lagi hamil anak kembar. Saat ini kemungkinan Dita merasakan kehilangan ibu kandungnya karena bagaimanapun mereka masih ada hubungan darah," sambung daddy Alvonso dengan kata - kata bijaknya.
" Tante mengerti akan perasaanmu, mungkin saja karena pengaruh hormon kamu hamil maka tanpa sadar kamu membentak Dita hal itu membuatmu merasa bersalah terhadap Dita. Jadi lebih baik kalian berdua istirahat biarkan urusan Dita, paman dan tante yang akan mengurusnya." ucap mommy Laras sambil tersenyum.
" Baik tante dan paman terima kasih atas nasehat tante dan paman," ucap Maya.
" Sama - sama sayang," ucap mommy Laras.
Quenby dan Maya berdiri kemudian pergi meninggalkan mommy Laras dan daddy Alvonso di ruang kerja, mereka berdua masih berada di dalam ruang kerja milik daddy Thomas.
" Mommy harap kejadian yang di alami Clara dulu jangan sampai terjadi pada Dita," ucap mommy Laras.
" Kalau Clara sama Dita sepertinya berbeda mom, kalau Clara dulu dekat dengan ibunya jadi ibunya selalu mengajarkan hal yang buruk bahkan waktu kecil di suruh minum darah segar. Benar - benar ibu gila mengajarkan anak seperti itu, jika ingat hal itu perut daddy terasa mual walau dulu daddy suka membunuh para penjahat tapi daddy tidak pernah meminum darah orang." ucap daddy Alvonso bergidik ngeri.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kalau ingin tahu cerita tentang Clara bisa di baca di novelku : Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Berbeda memang tapi tetap harus berhati - hati jangan sampai kecolongan seperti dialami oleh kita waktu itu," ucap mommy Laras.
" Benar mom, nanti kita bicarakan lagi dengan Thomas dan Gloria," ucap daddy Alvonso.
" Iya dad, " jawab mommy Laras.
__ADS_1
" Daddy ada ide," ucap daddy Alvonso.
" Ide apa dad?" tanya mommy Laras.
" Anak angkat kita Baron dan Charli berkerja sama dengan Dennisa putri bungsu kita memproduksi kalung, anting dan gelang di mana jika orang memakainya kita bisa tahu percakapannya dan dengan siapa dia bicara. Daddy berpikir kenapa kita tidak meminta ke putri kita Dennisa untuk memberikan ke Dita agar bisa mengetahui apa yang dilakukan Dita dan dengan siapa Dita bicara," ucap daddy Alvonso.
" Ya ampun kenapa mommy bisa lupa ya? Ya sudah kita ketemu Dennisa dan memberikan kalung, anting dan gelang untuk Dita." ucap mommy Laras sambil berdiri.
Daddy Alvonso hanya tersenyum melihat istri yang dicintainya sangat menggemaskan dan mereka pun keluar dari ruang kerja tersebut dan berjalan ke arah tangga. Mommy Laras dan daddy Alvonso menaiki anak tangga satu demi satu menuju ke lantai dua di mana kamar Dennisa berada.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kalau ingin tahu cerita tentang Baron, Charli dan Dennisa bisa di baca di novelku : Perjalanan Cinta Sang Psychophat
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tok Tok Tok
Ceklek
Max membuka pintu kamarnya dan melihat ke dua mertuanya sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum membuat Max ikut tersenyum menatap mertuanya kemudian membuka pintu kamarnya dengan lebar.
" Mommy, daddy," panggil Max
" Ada apa mom?" tanya Dennisa sambil berdiri di samping suaminya.
" Boleh kami masuk?" tanya mommy Laras.
" Ya ampun mommy kok pakai ijin segala, masuk mom dad," ucap Dennisa sambil mempersilahkan ke dua orang tuanya masuk.
Mommy Laras hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam dengan diikuti oleh daddy Thomas sedangkan Max menutup pintunya dengan rapat sesuai perintah daddy Alvonso.
Jantung Max berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tapi karena tidak biasanya ke dua mertuanya datang ke kamar mereka, Max berfikir apakah dirinya melakukan kesalahan.
Tapi Max merasa tidak melakukan kesalahan sedikitpun karena dirinya sudah berubah untuk tidak menjadi seorang psychophat kecuali keluarganya disakiti barulah jiwa psychophat yang sudah lama mati akan bangkit kembali terlebih dirinya sudah tidak lagi menyiksa istrinya seperti waktu itu.
" Max dan Dennisa kalian ingat dengan Clara?" tanya mommy Laras tanpa basa basi.
" Clara? Ingat mom, memang kenapa mom?" tanya Dennisa
" Bukannya Clara sudah mati mom?" tanya Max bersamaan.
" Memang benar Clara sudah meninggal hanya saja mommy dan daddy tidak ingin kejadian Clara juga dialami oleh Dita anak angkat Nathan dan maya terlebih sekarang ini Maya sedang hamil," ucap mommy Laras menjelaskan.
__ADS_1
" Aku kok jadi ingat sama kak Alviana waktu hamil di dorong oleh Clara," celetuk Dennisa.
" Iya benar sampai semua keluargamu menuduhku yang melakukannya." ucap Max sambil tertawa.
Max tidak marah ataupun menyimpan dendam terhadap keluarga besar Alvonso karena telah menuduhnya mendorong kakak iparnya yang bernama Alviana. Max sangat tulus mencintai keluarga besar daddy Alvonso karena telah merubah dirinya yang sangat jahat yaitu sangat suka menyiksa orang hingga orang itu mati.
" Maafkan kami Max, jika ingat itu kami merasa bersalah padamu karena telah menuduh dirimu," ucap daddy Alvonso.
" Tidak apa - apa dad, Max mengerti kok," ucap Max.
" Karena itu mommy tidak ingin kejadian Clara tidak terulang lagi di keluarga besar paman Thomas dengan kehadiran Dita," ucap mommy Laras mengalihkan pembicaraan agar tidak mengungkit masa lalu.
" Lalu apa yang harus kita lakukan mom, dad?" tanya Dennisa.
" Tadi daddy cerita sama mommy kalau kamu kan berkerja sama dengan Baron dan Charli memproduksi kalung, anting dan gelang di mana jika orang memakainya kita bisa tahu percakapannya dan dengan siapa dia bicara jadi daddy berpikir kenapa kita tidak memintamu untuk memberikan ke Dita agar bisa mengetahui apa yang dilakukan Dita dan dengan siapa Dita bicara," ucap daddy Alvonso.
" Apakah kamu membawa satu set perhiasan anak?" sambung mommy Laras menanyakan ke Dennisa.
" Kebetulan Dennisa bawa mom," ucap Dennisa sambil berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaian.
" Bagus berikan pada mommy," ucap mommy Laras.
" Iya mom, oh ya tadi anak - anak cerita kalau Dita menangis dan Maya tanpa sadar membentak Dita," ucap Dennisa sambil memberikan satu set perhiasan anak yang sangat lucu ke mommy Laras.
" Iya benar karena itu mommy sama daddy mau membujuk Dita agar tidak membenci Maya," ucap mommy Laras sambil menerima satu set perhiasan anak.
" Anak jaman sekarang susah ya mom," keluh daddy Alvonso
" Susah kenapa dad?" tanya mommy Laras.
" Kalau jaman dulu orang tua marah maka anak - anak diam dan patuh tapi kalau jaman sekarang orang tua marah maka anak - anak bilang mommy jahat atau daddy jahat terus membenci kita," ucap daddy Alvonso menjelaskan.
" Apa yang dikatakan daddy benar adanya dulu Alviana nakal mommy memarahi Alviana dan Alviana hanya bisa diam tanpa berani membantah tapi sejak Dennisa mempunyai anak jika mereka bertengkar dan Dennisa memarahi mereka maka mereka bilang mommy galak, jaman dulu sama jaman sekarang memang berbeda anak - anak semakin pintar tapi kalau dimarahi kadang tidak terima," ucap Dennisa.
'' Memang kamu nakal kenapa?" tanya Max kepo
" Mommy bilang makan es krim satu kali tapi aku nakal makan es krim sampai 4 kali alhasil aku sakit dan mommy memarahi," ucap Dennisa.
" Maaf kami mau ke kamar Dita kalian lanjutkan mengobrol nya," ucap mommy Laras yang terpaksa menghentikan obrolan anak dan menantunya.
" Baik mom," jawab Dennisa dan Max serempak.
Mommy Laras dan dady Alvonso berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu tersebut dan berjalan ke arah kamar Dita. Mommy Laras mengetuk pintu kamar Dita sambil memanggil namanya. Di ketukan ke empat barulah Dita membuka pintunya. Mommy Laras dan daddy Alvonso melihat mata bengkak Dita tampak kalau Dita habis selesai menangis.
__ADS_1
" Dita sayang boleh opa dan oma masuk ke dalam?" tanya daddy Alvonso dengan nada lembut.