
" Boleh, mau bicara apa?" tanya Seli yang masih berdiri di depan pintu
" Masuklah dulu ke dalam," ucap Presdir Albert sambil berjalan ke dalam kamar tamu.
" Tapi..." ucapan Seli terpotong oleh Presdir Albert
" Pintu kamar silahkan di buka dengan lebar dan aku janji tidak akan berbuat macam - macam," ucap Presdir Albert.
Seli menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya. Seli dan Presdir Albert berjalan ke arah sofa dan duduk saling berhadapan hanya di batasi oleh meja.
" Presdir Albert, mau mengatakan apa?" tanya Seli.
" Panggil Albert," ucap Presdir Albert
" Tidak sopan kalau memanggil nama, bagaimana kalau kak Albert?" tanya Seli
" Silahkan," jawab Presdir Albert
" Ada apa kak?" tanya Seli karena dirinya kurang nyaman berduaan di kamar walau pintu kamar tamu di buka dengan lebar.
" Kalau boleh tahu kenapa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Presdir Albert
" Aku menerima perjodohan ini karena ..." ucap Seli menggantungkan kalimatnya karena dirinya bingung antara jujur atau tidak.
" Karena apa?" tanya Presdir Albert.
" Jika aku katakan yang sebenarnya apakah kak Albert marah?" tanya Seli menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
" Tidak, katakanlah," ucap Presdir Albert
" Sebenarnya aku mau menerima perjodohan ini karena aku ... " ucap Seli menggantungkan kalimatnya lagi karena dirinya masih ragu.
" Apakah ada hubungannya dengan Cintya yang ingin menjadikanmu sebagai mommynya?" tebak Presdir Albert
" Ya benar," jawab Seli sambil menundukkan wajahnya karena dirinya merasa bersalah.
" Aku ingin kamu jujur, bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Presdir Albert
" Aku tidak tahu tapi yang pasti aku merasa nyaman sekaligus senang," ucap Seli yang masih bingung dengan perasaannya.
" Apa yang membuatmu senang?" tanya Presdir Albert.
__ADS_1
" Aku sangat senang karena ternyata kak Albert belum menikah," jawab Seli dengan jujur.
" Berarti kamu ada perasaan denganku," ucap Presdir Albert
" Aku tidak tahu," jawab Seli sambil menguap.
'' Maaf kak,'' sambung Seli
" Tidak apa-apa, sepertinya kamu sudah mengantuk, istirahatlah," ucap Presdir Albert sambil turun dari sofa.
" Baik kak," jawab Seli sambil turun dari sofa.
Seli berjalan ke arah kamarnya namun tiba - tiba dirinya terpeleset membuat dirinya nyaris terjatuh ke arah depan kalau saja Presdir Albert tidak menarik tangan Seli dan menabrak dada bidang Presdir Albert kemudian Presdir Albert memeluk pinggang Seli.
Deg
Deg
Ke dua jantung mereka berdetak kencang dan mata saling menatap hingga Presdir Albert menatap bibir Seli. Presdir Albert tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Seli membuat Seli memejamkan matanya.
" Semoga mimpi indah," bisik Presdir Albert kemudian menegakkan tubuhnya.
Seli membuka matanya dan wajahnya bersemu merah menahan rasa malu karena dirinya mengira akan di cium oleh Presdir Albert sedangkan Presdir Albert hanya tersenyum melihat wajah merah Seli.
Grep
Seli melepaskan ke dua tangan Presdir Albert kemudian membalikkan badannya namun Presdir Albert memeluk tubuh mungil Seli dari arah belakang dan Seli dapat merasakan bokongnya terasa ada yang mengganjal.
" Kak Albert, ada benda apa yang tersembunyi di bawah perut kak Albert? Rasanya mengganjal maaf... mengganjal di bokongku," ucap Seli polos.
" Eh... ehm.... Itu adalah senjata pelindung nyawaku. Bisa membesar, bisa mengeras dan bisa melembut..." jawab Presdir Albert dengan wajah bersemu merah.
Seli melepaskan pelukan Presdir Albert kemudian membalikkan badannya dan menatap wajah tampan Presdir Albert yang bersemu merah.
" Senjata apa itu kak? Kak Albert, apa kak Albert bisa memperlihatkannya padaku? Aku ingin memilikinya agar aku bisa melindungi diriku sendiri saat aku terancam bahaya," jawab Seli penuh semangat.
" Eh.. Bukannya tidak boleh, kita bisa mempergunakannya bersama, tapi setelah kita resmi menikah," jawab Presdir Albert dengan wajah masih bersemu merah.
" Kenapa menunggu menikah? Terus hubungan menikah dengan senjata itu apa?" tanya Seli dengan wajah kecewa karena dirinya ingin melihatnya.
" Hoam.... Kakak sangat mengantuk," ucap Presdir Albert mengalihkan pembicaraan sambil berjalan ke arah ranjang.
__ADS_1
" Baiklah kak, selamat tidur semoga mimpi indah," ucap Seli sambil berjalan ke arah pintu.
" Kamu juga semoga mimpi indah," ucap Presdir Albert.
Seli menganggukkan kepalanya kemudian memegang gagang pintu sedangkan presdir Albert berbaring di ranjang sambil memandangi punggung Seli hingga tidak terlihat di balik pintu kamar tamu membuat Presdir Albert menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" Fiuh... Untung aku bisa mengalihkan pembicaraan kalau tidak bingung aku menjawabnya," ucap Presdir Albert bernafas dengan lega.
Presdir Albert turun dari ranjangnya kemudian melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Walau sudah malam dirinya tidak betah jika tidak mandi hingga sepuluh menit kemudian Presdir Albert sudah selesai mandi dengan tubuh yang segar.
" Terpaksa mandi air dingin karena adik kecilku mendadak bangun ketika memeluk Seli, biasanya jika ada gadis atau wanita yang pura - pura terjatuh dan sengaja memelukku kenapa adik kecilku tidur dengan tenang? tetapi kenapa ketika Seli tidak sengaja terjatuh dan aku memeluknya adik kecilku langsung bereaksi? Apalagi ketika Seli mengatakan itu membuatku ingin melakukannya di ranjang ini tapi untungnya aku bisa menahan diri," ucap Presdir Albert.
Presdir Albert membaringkan tubuhnya di ranjang dan tidak berapa lama dirinya tertidur dengan pulas sedangkan di kamar berbeda tepatnya di kamar Seli.
Seli sulit memejamkan matanya terbayang dirinya ketika Presdir Albert membisikkan sesuatu di telinganya membuat dirinya malu.
" Aduh aku malu sekali tapi kenapa aku merasa kecewa ya?" tanya Seli pada dirinya sendiri.
" Sudahlah aku sangat mengantuk, apalagi aku harus bangun pagi karena besok aku berangkat mengajar anak - anak," ucap Seli
Seli memejamkan matanya setelah hampir setengah jam akhirnya dirinya dapat tertidur dengan pulas berbeda dengan Sela.
Sela duduk di balkon sambil menatap ke arah langit - langit dengan air mata tidak berhenti keluar.
" Aku harus melakukan sesuatu karena dengan menangis tidak ada gunanya," ucap Sela akhirnya.
Sela turun dari kursi kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah meja dekat ranjang untuk mengambil ponselnya kemudian Sela mengetik sesuatu setelah selesai mengetik Sela meletakkan kembali ponselnya ke atas meja kemudian berjalan ke arah balkon untuk menatap ke arah langit untuk melihat bulan dan bintang - bintang yang bertaburan.
" Sudah malam, kenapa tidak tidur? tanya Presdir Axel tiba - tiba datang dari balkon samping yang hanya di batasi tembok seukuran pinggang orang dewasa
" Aduh Presdir Axel bikin kaget," ucap Sela sambil menghapus air matanya kemudian turun dari kursi dan menatap wajah tampan Presdir Axel.
" Panggil namaku Axel," pinta Presdir Axel
" Tidak sopan, bagaimana kalau kak Axel," tanya Sela.
" Silahkan, aku lihat kamu habis menangis. Ada apa?" tanya Presdir Axel
" Aku tidak menangis hanya kelilipan debu," ucap Sela berbohong.
" Kak Axel belum tidur?" tanya Sela mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Belum mengantuk, kamu kenapa belum tidur?" tanya Presdir Axel balik.