
Soraya refleks memeluk tubuh Sela dan menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya ketika ke dua tubuh mereka terguling - guling sedangkan Sela menatapnya tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Soraya membuat Sela mengeluarkan air mata hingga tubuh ke duanya tergeletak di lantai dengan darah keluar dari kepala, hidung dan mulut.
Teriakan Sela dan Soraya terdengar jelas oleh Seli, Presdir Albert dan Presdir Axel yang kebetulan mereka sedang membuka pintu kamar mereka untuk keluar dari kamarnya masing-masing bersamaan pintu kamar Lemos terbuka.
Sepeninggal Soraya, Lemos masuk ke dalam kamar mandi namun hati kecilnya merasa bersalah terhadap Soraya membuat Lemos berdecak kesal kemudian mandi dengan secepat kilat begitu pula dengan memakai pakaian santai.
"Ada apa?" tanya Lemos ketika melihat Seli, Presdir Albert dan Presdir Axel melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah tangga,
"Aku mendengar suara teriakan kak Sela, kak," jawab Seli setengah berteriak karena posisi mereka agak jauh.
"Apa???" teriak Lemos dengan wajah terkejut.
Lemos dengan langkah cepat menyusul Seli, Presdir Albert dan Presdir Axel hingga mereka berada di tangga dan melihat apa yang terjadi.
Serempak mata mereka membulat sempurna karena melihat Sela tergeletak dengan mengeluarkan darah segar sedangkan Soraya berusaha mengangkat tubuh Sela.
Presdir Axel dengan langkah cepat menuruni anak tangga tiga langkah sekaligus kemudian mengangkat tubuh Sela dengan di ikuti Lemos, Seli dan Presdir Albert.
"Apa yang terjadi?" tanya Lemos dengan aura mem bu nuh.
"Gadis itu pelakunya," ucap ketiga gadis serempak sambil menunjuk ke arah Soraya dan keluar dari persembunyiannya yang berada di lantai bawah.
Awalnya Seli, Presdir Albert dan Presdir Axel berada di lantai lima kini turun ke lantai empat sedangkan Sela dan Soraya yang awalnya di lantai lima di dorong hingga terjatuh ke lantai empat dan untuk ke tiga gadis tersebut setelah melihat Sela dan Soraya terjatuh dengan langkah cepat menuruni anak tangga ke lantai tiga agar mereka tidak dicurigai namun ke tiga gadis tersebut lupa kalau ada kamera cctv yang merekam kejadian tersebut.
"Apa benar yang dikatakan ke tiga gadis itu, Soraya?" tanya Lemos dengan aura dingin dan membunuh.
"Ada apa ini?" tanya Delon tiba - tiba datang.
"Bawa Sela ke rumah sakit biar aku yang berada di sini," ucap Lemos dengan nada dingin dan aura mem bu nuh.
"Untuk kalian bertiga pergilah," usir Lemos ke arah ke tiga gadis tersebut.
Tanpa membuang waktu Delon, Seli, Presdir Albert dan Presdir Axel pergi meninggalkan tersebut sambil membawa Sela yang tidak sadarkan diri sedangkan ke tiga gadis tersebut di suruh Lemos untuk pergi membuat ke tiga tersebut tersenyum devil menatap Soraya.
__ADS_1
"Apa benar yang dikatakan ke tiga gadis itu, Soraya?" tanya Lemos mengulangi perkataannya.
Soraya menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya kemudian menganggukkan kepalanya tanpa membalikkan badannya karena itulah Lemos tidak mengetahui kalau Soraya juga terluka.
Soraya terpaksa berbohong karena dirinya sudah hancur dan penyebabnya adalah pria yang berada di belakangnya sedangkan Lemos tidak bisa menahan amarahnya karena baginya keluarga adalah sebagian nafas hidupnya karena itulah bagi siapa yang menyakiti keluarganya maka orang itu akan mati.
Lemos mengambil pisau lipat dari saku celana panjang belakang yang selalu di simpannya kemudian memeluk Soraya sambil menempelkan pisau lipat tersebut di perut Soraya.
"Betapa bodohnya aku karena aku pikir dirimu berbeda karena tidak mau menerima uangku tapi kamu ternyata sama seperti wanita lain bahkan lebih jahat yaitu kamu tega mencelakai adik kesayanganku. Awalnya aku merasa bersalah tapi setelah tahu kamu yang membuat adik kesayanganku terluka maka aku tidak segan - segan untuk mem bu nuh mu." bisik Lemos tepat di telinga Soraya.
Tes
Tes
Soraya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dirinya tidak memperdulikan Lemos menuduhnya jahat dan membiarkan pisau lipat tersebut menempel di perutnya karena hatinya sangat hancur.
("Hidupku sudah hancur dan aku tidak perduli jika pria di belakangku membunuhku," ucap Soraya dalam hati).
Soraya hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa bersuara hingga air matanya jatuh mengenai tangan Lemos.
Jleb
Bruk
Soraya memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika pisau tersebut menusuk perutnya kemudian tanpa punya perasaan Lemos mendorong tubuh Soraya hingga tubuh Soraya kembali terguling - guling ke lantai yang berada di bawah bersamaan sahabat Soraya sedang menaiki anak tangga.
Delisa yang melihat tubuh sahabatnya terguling - guling di tangga dengan sigap menahan tubuh Soraya agar tidak terjatuh ke lantai bawah kemudian meminta pertolongan.
Teriakan Delisa terdengar oleh sekuriti dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Delisa sepintas melihat Lemos dan menatap dirinya dengan penuh kebencian tapi Delisa tidak memperdulikannya.
Singkat cerita Delisa sudah sampai di rumah sakit dan langsung di bawa ke UGD kemudian menghubungi keluarga Soraya dan tidak membutuhkan waktu lama keluarga Soraya datang ke rumah sakit.
Di tempat yang berbeda Sela sudah berada di ruang UGD, Delon, Seli, Presdir Axel dan Presdir Albert menunggu di ruang tunggu mereka saling diam tanpa ada bicara sedikitpun namun tiba - tiba Presdir Albert mengambil ponselnya yang di simpannya di saku jasnya kemudian mencari nomer telepon papi Alvonso dan sambungan pertama langsung di angkat.
__ADS_1
"Ada apa Albert?" tanya papi Alvonso tanpa basa basi.
"Papi, tolong retas rekaman cctv waktu pesta dan juga terjadi pagi ini di lantai lima, empat dan tiga," pinta Presdir Albert.
"Memang apa yang terjadi?" tanya papi Alvonso.
"Ada orang yang sengaja memberikan obat perang sang untuk kak Lemos dan Sela jatuh dari tangga," jawab Presdir Albert.
"Apa?? kamu dan yang lainnya bagaimana?" tanya papi Alvonso sambil menahan amarahnya.
"Semuanya baik - baik saja hanya Sela kami tidak tahu karena sekarang berada di ruang UGD," jawab Presdir Albert.
"Kebetulan ada oma, opa, paman Max dan paman Louis dan ke dua mertuamu di sini kami semua akan ke sana," ucap papi Alvonso.
Tut Tut Tut
Selesai mengatakannya papi Alvonso langsung mematikan sambungan secara sepihak kemudian Presdir Albert menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya dan berharap kakak iparnya baik - baik saja.
Di tempat yang berbeda tepatnya di kediaman papi Alvonso di mana Kelly istrinya, Max, Louis, daddy Nathan dan mommy Maya sedang berkunjung.
"Ada apa Al?" tanya daddy Alvonso setelah melihat putra sulungnya menyimpan ponselnya di kemejanya.
"Lemos diberi obat perang sang dan Sela jatuh dari tangga," jawab papi Alvonso.
"Apa???" teriak mereka serempak sambil berdiri.
"Daddy, kita pergi ke sana," ucap mommy Maya dengan wajah kuatir.
"Iya mom," jawab daddy Nathan.
"Daddy, tadi Albert bilang untuk meretas kejadian waktu pesta dan juga terjadi pagi ini di lantai lima, empat dan tiga," ucap papi Alvonso.
"Kalau begitu Nathan, Maya, Alvonso dan Kelly pergi keluar kota dengan menggunakan helikopter sedangkan mommy, Max dan Louis retas rekaman cctv waktu pesta dan juga terjadi pagi ini di lantai lima, empat dan tiga," ucap daddy Alvonso memberikan instruksi.
__ADS_1
"Ok," jawab mereka dengan patuh.
"Kalau begitu ayo kita ke lantai paling atas dengan menggunakan lift karena helikopter berada di atas," ucap papi Alvonso.