Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Albert Ardiansyah


__ADS_3

Seli tersenyum kemudian berdiri dengan tegak sambil menundukkan kepalanya sebentar ke arah Presdir Albert sedangkan Presdir Albert hanya diam hanya memandang dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Seli berjalan hingga dirinya memegang gagang pintu kemudian membukanya meninggalkan mereka berdua menuju ke arah lift sedangkan Presdir Albert hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


( ' Bodoh kamu Albert, kenapa kamu menyuruh Cintya kalau istriku banyak dan suaminya banyak? Terang saja Seli tidak akan mau menerimaku dan kini dia mengatakan kalau dirinya sebentar lagi menikah.... Akhhhhhhhhhhh..... apa yang terjadi dengan diriku? Apa mungkin aku jatuh cinta dengan Seli? dan tidak rela jika Seli menikah dengan pria lain?" tanya Presdir Albert dalam hati ).


" Paman kenapa?" tanya Cintya yang melihat pamannya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Tidak apa - apa? oh ya sebentar lagi mommy dan daddy akan menjemputmu," ucap Presdir Albert.


" Baik paman," jawab Cintya patuh.


Tidak berapa lama pintu di ketuk seseorang dan Presdir Albert memerintahkan untuk masuk ke dalam ruangannya.


Ceklek


Seorang pria tampan membuka pintu dengan lebar kemudian masuk seorang wanita cantik dan berjalan dengan anggun ke arah Cintya diikuti oleh pria tampan tersebut.


" Mommy, daddy," panggil Cintya sambil merentangkan ke dua tangannya.


" Hallo cantik," panggil mommynya Cintya sambil merentangkan kedua tangannya.


Grep


" Hari ini nakal tidak?" tanya mommynya Cintya sambil memeluk putri kandungnya.


" Cintya tidak pernah nakal mommy, benarkan paman Albert?" tanya Cintya sambil memalingkan wajahnya ke arah Presdir Albert.


" Tentu sayang, kamu tidak pernah nakal," jawab Presdir Albert.


" Benarkan mom, kalau Cintya tidak pernah nakal," ucap Cintya.


" Iya mommy percaya," ucap mommynya Cintya.


" Maaf kak, besok kami mau pergi ke luar kota jadi putri kami tidak bisa di pinjam," ucap pria tersebut.


" Adik sepupu tega sekali dirimu," gerutu Presdir Albert.


" Apalagi kakak ada - ada aja mengaku sudah menikah dan putri kami memanggil kakak dengan sebutan daddy," ucap adik sepupunya sambil menggelengkan kepalanya karena dirinya tidak mengerti jalan pikiran kakak sepupunya.


" Tahu tuh paman, untung Cintya pintar tidak keseleo memanggil paman dengan sebutan daddy," ucap Cintya polos.


" Kakak sepupu ngajarin putri kami untuk berbohong," ucap adik sepupunya sambil memijat keningnya pusing memikirkan tingkah kakak sepupunya.

__ADS_1


" Ayolah Albert Ardiansyah, kamu kan tahu banyak gadis dan wanita yang mengejarku karena aku sangat tampan dan kaya makanya aku gunakan cara seperti ini," ucap Presdir Albert narcis.


" Aish kakak sepupuku narcis dan memanggilku dengan sebutan nama lengkap Albert Taylor," ucap Albert Ardiansyah


" Kak Albert memang tidak ada keinginan untuk menikah?" tanya adik iparnya berusaha mengalihkan pembicaraan karena dirinya tahu suaminya dan kakak sepupunya senang berdebat.


" Jujur sebenarnya ingin tapi mereka kebanyakan menyukai uangku saja terbukti ketika aku bilang sudah mempunyai anak mereka bilang tidak apa - apa dijadikan istri yang ke sekian." ucap Presdir Albert.


" Di mana - mana yang namanya wanita jika pria itu sudah menikah maka wanita itu tidak mungkin mau merusak rumah tangga pria itu walau sekaya atau setampan apapun," ucap adik iparnya.


" Benar apa yang kamu katakan karena itulah aku meminta pertolongan Cintya untuk mengusir hama," jawab Presdir Albert.


" Kok Cintya mengusir hama paman? perasaan Cintya tidak pernah mengusir kok," ucap Cintya sambil berfikir dengan jari telunjuk kanannya diletakkan di keningnya.


" Maksud paman, dengan adanya kamu para wanita tidak dekat dengan paman," ucap Presdir Albert sambil menahan senyum melihat tingkah ponakannya.


" Oh," jawab Cintya walau dirinya masih belum paham kenapa paman melakukannya.


" Oh ya kata Cintya kamu dekat dengan wanita?" tanya adik iparnya.


" Ada namanya Seli gurunya Cintya tapi sepertinya tidak mungkin," ucap Presdir Albert.


" Kenapa tidak mungkin?" tanya adik iparnya


" Kalah cepat," ledek Albert Ardiansyah


" Rese kamu dek," ucap Presdir Albert.


" Oh ya kata papi, kakak mau dijodohkan sama salah satu cucu paman Thomas," ucap adik iparnya.


" Benar, sebenarnya aku ingin menolaknya tapi kalian tahu sendiri sikap papiku sangat keras sama seperti opa," ucap presdir Albert.


" Kakak juga sangat keras ngikutin paman Alvonso," ucap Albert Ardiansyah.


" Karena aku anaknya makanya nurunin, kamu juga sama sangat keras sama seperti paman Arlan," ucap presdir Albert tidak mau kalah.


" Aku anaknya otomatis nurunin lah," ucap Albert Ardiansyah yang juga tidak mau mengalah.


" Kakak coba saja dulu siapa tahu cocok," ucap adik iparnya berusaha mengalihkan pembicaran sambil memeluk suaminya dengan erat tanda supaya jangan berdebat yang tidak perlu.


" Iya kalau cocok kalau tidak?" tanya presdir Albert


" Kakak kan belum menyobanya apalagi yang aku dengar cucu - cucu opa Thomas tampan - tampan dan cantik - cantik," ucap adik iparnya.

__ADS_1


" Kan cucu - cucu opa Thomas sangat banyak siapa tahu aku dapatnya wanita gendut dan jelek makanya jodohin aku pria yang sangat tampan dan kaya raya ini," ucap presdir Albert narcis.


" Gini aja kak, kalau kakak tidak cocok bilang saja sama paman Alvonso dan tante Kelly, minta membatalkan pertunangannya," usul adik iparnya.


" Hmmmm.... ( sambil berfikir ) ... Bagus juga idemu," ucap presdir Albert.


" Siapa dulu istriku," ucap Albert Ardiansyah bangga.


" Iya... iya sekarang pergilah aku mau melanjutkan pekerjaanku yang tertunda," usir presdir Albert.


" Kami memang mau pergi, ingat besok putri kami Cintya tidak bisa di pinjam kalau mau ponakan yang lainnya," ucap Albert Ardiansyah.


" Iya... Iya... sekarang pergilah," usir presdir Albert lagi.


" Lain kali aku tidak mau membantumu," ucap Albert Ardiansyah sambil berdiri.


" Tidak perduli kan sebentar lagi aku mau bertunangan jadi aku pakai wanita itu untuk mengusir para wanita yang tidak punya rasa malu ingin menempel ku," ucap presdir Albert.


Albert Ardiansyah ingin mengatakan sesuatu untuk membalas ucapan kakak sepupunya tapi istrinya menggenggam tangannya tanda untuk diam karena istrinya pusing mendengar perdebatan mereka.


" Oh ya hampir lupa ini bekal untuk makan siang titipan tante Kelly," ucap adik iparnya.


" Terima kasih adik ipar," ucap presdir Albert sambil tersenyum.


" Senyummu jelek," ucap Albert Ardiansyah.


" Biarin," jawab presdir Albert singkat.


" Sudah... Sudah... Ayo Cintya salam buat paman Albert." ucap adik iparnya presdir Albert sekaligus mommynya Cintya sambil menggendong putrinya.


" Baik mommy," jawab Cintya.


" Paman, Cintya pulang dulu," pamit Cintya sambil mengulurkan tangan kanannya.


" Hati - hati sayang," jawab presdir Albert sambil membalas uluran tangannya.


" Terima kasih paman," jawab Cintya.


Cintya mengecup punggung tangan presdir Albert sedangkan Albert Ardiansyah hanya bersalaman khas para cowo kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Presdir Albert turun dari kursi kebesarannya kemudian presdir Albert mencuci tangan terlebih dahulu setelah selesai Presdir Albert membuka paper bag tersebut.


Presdir Albert mengeluarkan kotak makanan dan melihat makanan kesukaannya barulah presdir Albert mulai menyantap makanan siangnya tapi sebelumnya berdoa terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2