
" Quenby terkena luka tembak." Ucap Aleandro.
" Apa??? Siapa yang melakukannya?" Tanya Nathan sambil menahan amarahnya.
" Daddy dan ayahnya Fico." Ucap Maximus.
" Ceritakan lebih detail." Pinta Nathan.
" Daddy dan ayahnya Fico sebenarnya bermusuhan dan daddy ingin menembak begitu pula sebaliknya hingga Quenby menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya." Ucap Aleandro.
" Sekarang ada di mana musuhnya?" Tanya Nathan
" Itu kak." Ucap Yohanes sambil menunjuk ke arah tuan Saverio dan Fico.
" Kenapa masih di sini? Apakah belum cukup mencelakai aku dan istriku?" Ucap Nathan dengan tatapan tajam.
" Lebih baik kalian pergilah?" Usir Aleandro dengan tatapan tajam.
" Kamu Fico, aku tidak akan pernah menyetujui sampai kapanpun hubunganmu dengan adik kesayanganku Quenby terlebih membuat adik ipar kami koma." Ucap Maximus.
" Begitu pula dengan keluarga besar kami" sambung Yohanes.
" Fico, kamu sudah dengarkan perkataan mereka, lebih baik kita pergi dari sini." Ucap tuan Saverio sambil menahan amarahnya.
" Tapi dad..." Ucapan Fico terpotong oleh tuan Saverio.
" Tidak ada tapi - tapian, kamu sudah sehatkan? Lebih baik kita pulang." Perintah tuan Saverio sambil menggenggam ke dua tangannya menahan amarahnya.
" Baik dad." Ucap Fico patuh.
Tuan Saverio dan Fico berjalan ke arah pintu ruangan VVIP namun baru beberapa langkah Fico di panggil oleh orang yang dicintainya membuat Fico membalikkan badannya dan menatap Quenby dengan sendu.
" Kak Fico." Panggil Quenby lirih sambil tangannya perlahan di angkat ke atas.
" Quenby biarkan mereka pergi." Perintah Aleandro sambil menahan tangan Quenby.
" Kalian pergilah." Usir Maximus
" Kak Aleandro dan kak Maximus bukankah mommy pernah mengatakan pada kita semua jika ada orang yang mau bertobat dengan tulus kita harus memberikan kesempatan ke dua?" Tanya Quenby.
" Memang benar tapi bukankah kamu juga tahu kalau mereka keluarga psychophat?" Tanya Aleandro.
" Quenby tahu kak tapi kenapa kita tidak bisa memaafkan kesalahannya selama orang itu bertobat dan mengakui kesalahannya." Ucap Quenby
" Semua manusia tidak sempurna pasti pernah melakukan kesalahan walau kesalahan berbeda - beda asalkan orangnya menyesali atas perbuatannya kenapa kita tidak memaafkan kesalahan kak Fico?" Ucap Quenby.
" Tapi kesalahan mereka sudah fatal." Ucap Aleandro.
" Kesalahan apa?" Tanya Quenby.
" Gara - gara ayahnya Fico kamu tertembak sedangkan Fico gara - gara Fico membuat Nathan dan Maya koma." Ucap Aleandro
" Aku terkena luka tertembak karena aku tidak ingin daddy dan paman Saverio terluka karena itulah aku menjadikan tubuhku sebagai tamengnya." Ucap Quenby
" Aku tahu karena gara - gara kak Fico membuat Nathan dan adik iparku terluka bahkan membuat Maya masih koma ( sambil menatap Maya yang masih setia memejamkan matanya dengan banyak selang di tubuhnya dari balik kaca tempered ukuran 150 m x 150 mm berbentuk transparan sebagai pembatas ruang perawatan vvip dengan ruang icu ) tapi apakah kak Aleandro, Kak Maximus dan Nathan serta Yohanes tidak lupa jika saja kak Fico tidak mengatakan kalau Kevin masih hidup mungkin saja Kevin masih berkeliaran sampai sekarang dan mencelakai Nathan dan Maya." Sambung Quenby.
Ruang pembatas itu dimaksudkan agar ruang perawatan vvip bisa melihat keluarganya di rawat di ruang ICU, sebenarnya dulu tidak ada tapi karena banyaknya musuh yang ingin mencelakai keluarga besar Thomas Alexander maka daddy Thomas Alexander sengaja membuatnya.
__ADS_1
Semuanya langsung terdiam sedangkan Fico hanya tersenyum karena Quenby mau membela dirinya sedangkan tuan Saverio baru kali ini ada seorang gadis yang bersikap dewasa dan mau memaafkan kesalahannya dan juga kesalahan putra kandungnya.
" Nathan, apakah kamu masih ingat waktu Nathan makan ternyata Nathan diberi obat tidur oleh Kevin setelah itu langsung tertidur dengan pulas?" Tanya Quenby
" Masih ingat kak dan aku juga tahu dari kak Maximus kalau Fico ingin membunuhku ketika aku tertidur pulas." Ucap Nathan.
" Tapi tidak jadi bukan? Nathan pasti juga sudah tahu kalau kak Fico juga diberikan obat tidur oleh Kevin?" Tanya Quenby.
" Iya Nathan juga sudah tahu." Ucap Nathan
" Kalau kak Fico tidak memberitahukan mungkin saja Kevin mencari waktu yang tepat untuk mencelakai keluarga kita." Ucap Quenby
" Sudahlah aku mau ke ruang icu dulu menemani istriku." Ucap Nathan yang selalu kalah dalam hal berdebat dengan kakaknya.
" Semoga Maya lekas sadar." Ucap Quenby.
" Terima kasih kak." Jawab Nathan sambil berjalan keluar ruang perawatan dan berjalan ke arah samping yang kebetulan ruang perawatan bersebelahan dengan ruang icu
" Kak Aleandro aku ingin susu coklat hangat bisakah minta tolong belikan?" Tanya Quenby penuh harap.
" Kenapa tidak menyuruh Yohanes?" Tanya Aleandro.
" Aku lagi ingin dibelikan sama kakakku yang tampan ini." Rayu Quenby.
" Aish, kalau ada perlunya merayu, Maximus temani kakak ke kantin." Perintah Aleandro.
" Baik kak." Jawab Maximus patuh
Aleandro dan Maximus keluar dari ruang perawatan sedangkan Fico sedari tadi berdiri bersama tuan Savero tanpa banyak bicara hanya mendengarkan obrolan mereka.
' Quenby berbeda dengan wanita lain seandainya saja Quenby jadi istriku aku laki - laki yang paling beruntung." Ucap Fico dalam hati sambil menatap Quenby tanpa berkedip.
" Yohanes mana mommy dan daddy?" Tanya Quenby.
" Daddy lagi merajuk dan mommy lagi merayu daddy supaya ngga ngambek." Ucap Yohanes.
" Aish... Aish... Nanti aku adukan ke daddy supaya kamu di jewer, sepertinya asyik juga kalau telingamu jadi panjang gara - gara di jewer daddy." Ucap Quenby yang sangat suka mengusili adik kembarnya.
" Aish kakak nyebelin." Ucap Yohanes.
"Dari dulu memang nyebelin, oh ya besok jam 8 pagi gantiin aku meating di kantor ya." Quenby
" Ok." Jawab Yohanes singkat tanpa menolak permintaan Quenby.
" Tolong panggilkan mommy donk."Pinta Quenby.
" Tapi.." Ucapan Yohanes terpotong oleh Quenby.
" Kamu lihat di samping? Nathan menunggu Maya sadar sambil menatap ke arah sini lewat kaca jadi kakak tenang saja aku tidak apa - apa." Ucap Quenby
Yohanes menghembuskan nafasnya perlahan dirinya tahu kakaknya agak keras kepala kemudian menganggukkan kepalanya.
" Kabarin aku jika ada apa - apa." Ucap Yohanes.
" Ok." Jawab Quenby singkat.
" Jika terjadi sesuatu dengan kakak kesayanganku kami sekeluarga akan membunuh kalian berdua." Ancam Yohanes sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.
__ADS_1
" Yohanes tidak boleh begitu.." Ucap Quenby.
" Baik kak." Jawab Yohanes patuh dan pergi meninggalkan mereka.
" Paman dan kak Fico maafkan keluargaku." Ucap Quenby sambil menatap mereka berdua.
" Tidak apa - apa aku mengerti kenapa keluargamu seperti itu." Ucap Fico yang masih berdiri jauh dengan tuan tuan Saverio.
" Paman duduklah di kursi dan kak Fico duduklah di ranjang pasti pegel berdiri terus." Ucap Quenby sambil tersenyum.
" Apakah kamu tidak takut pada kami?" Tanya Fico
" Tidak, duduklah." Jawab Quenby dengan nada lembut.
Merekapun berjalan ke arah ranjang Quenby dan duduk sesuai perkataan Quenby, Fico menggenggam tangan Quenby sambil menatapnya dengan sendu.
" Maafkan daddyku dan aku yang telah mencelakai keluargamu." Ucap Fico.
" Sstttt... Sudah lupakan, kak Fico bagaimana apakah ada yang sakit?" Tanya Quenby sambil membalas genggaman Fico.
" Tidak ada, terima kasih sudah menjagaku." Ucap Fico.
" Syukurlah kalau baik - baik saja, sama - sama kak." Jawab Quenby
" Kak Fico." Panggil Quenby
" Ya." Jawab Fico
" Aku sangat haus tolong ambilkan aku minum." Pinta Quenby
Tanpa menjawab Fico mengambil gelas yang sudah ada sedotannya dan diberikan ke mulut Quenby, Quenby meminumnya hingga menyisakan setengah gelas kemudian Fico meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja dekat ranjang.
" Terima kasih." Jawab Quenby sambil menguap.
" Kamu tidurlah sudah malam." Ucap Fico sambil turun dari ranjang kemudian membetulkan selimutnya.
" Paman Saverio dan kak Fico juga istirahat jangan tidur malam - malam." Ucap Quenby.
" Terima kasih." Jawab Fico sambil memajukan wajahnya ke wajah Quenby.
Quenby yang tahu akan di cium menutup matanya membuat Fico tersenyum bahagia karena Quenby mengijinkannya untuk di cium.
cup
" Selamat malam." Bisik Fico di telinga Quenby kemudian mengecup kening Quenby dengan lembut.
" Selamat malam." Jawab Quenby.
Tuan Saverio dan Fico keluar dari ruang perawatan menuju ke ruang perawatan Fico sedangkan Nathan setelah melihat kakaknya lewat kaca baik - baik saja langsung menatap istrinya yang sangat dicintainya.
" Sayang, kapan kamu sadar? Aku kangen ingin mengobrol denganmu." Ucap Nathan sambil menggenggam tangan istrinya.
" Sayang tahu tidak masa tadi kan aku jalan ke kantin bersama kak Aleandro dan kak Maximus masa semua wanita menatap kami tanpa kedip bahkan ada yang berani meminta nomer ponsel kami padahal kan kami sudah menikah. Ada juga perawat cantik yang ingin membersihkan tubuhmu menatapku tanpa kedip tapi aku tidak rela jika tubuhmu di lihat orang lain walaupun dia wanita sekalipun." Ucap Nathan
Deg
Jantung Nathan berdetak kencang ketika Maya membalas genggamannya kemudian matanya menatap wajah Maya yang masih setia memejamkan matanya membuat Nathan mempunyai ide untuk mengerjai istrinya.
__ADS_1