Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Pemuda Tampan


__ADS_3

Maya yang merasa familiar dengan suara wanita itu spontan memalingkan wajahnya ke arah samping begitu pula dengan ke enam adik iparnya.


" Rena dan Rina." Panggil Maya.


" Kenapa terkejut? Dasar wanita mu..." Ucapan Rena terpotong ketika seseorang menampar pipinya.


plak.


" Tutup mulut kotormu!!!" Bentak Cantika putri bungsu yang tidak suka jika ada keluarganya di hina oleh orang lain.


" Brengs*k dasar wanita ****** beraninya menampar kakakku!!" Bentak Rina dan bersiap tangannya menampar pipi Cantika.


Grep


" Jangan sekali - kali menampar adikku." Ucap dokter Kasandra.


Dokter Kasandra menangkap tangan Rina kemudian menekannya ke arah belakang.


" Akhhh... sakit..." Teriak Rina.


Rena yang melihat adiknya kesakitan bersiap memukul dokter Kasandra tapi tangannya di tahan oleh Cantika adik nomer tujuh yang tadi menampar dirinya.


bruk


bruk


Dokter Kasandra dan Cantika langsung mendorong tubuh Rena dan Rina hingga terjatuh ke lantai hingga dua security datang ke tempat kejadian karena mendengar ada keributan.


" Berhenti, ada apa ini?" Tanya salah satu security.


Ke tujuh wanita itu menatap ke arah security membuat ke dua security menundukkan kepalanya.


" Usir ke dua wanita ini keluar." Perintah Quenby.


" Baik nona." Jawab ke dua security dengan serempak sambil masing-masing menarik tangan Rena dan Rina.


" Hei kenapa kami di seret seharusnya mereka di seret!!" Teriak Rena merasa tidak bersalah.


" Mulai sekarang dan seterusnya ke dua wanita ini dilarang datang ke mall ini." Ucap Quenby dengan nada dingin.


" Baik nona." Jawab ke dua security dengan patuh.


" Ayo nona." Ucap salah satu bodyguard sambil menarik tangan Rena

__ADS_1


" Tapi mereka...." Ucapan Rena terpotong oleh security.


" Mereka pemilik mall ini jadi nona - nona jangan mencari masalah." Ucap security memotong ucapan Rena


" Lepaskan kami, kami bisa jalan." Ucap Rena dengan nada ketus.


Ke dua security melepaskan mereka berdua yang berjalan ke arah keluar sambil membawa dendam terhadap Maya dan keluarganya. Sepeninggal Rena dan Rina mereka melanjutkan ke counter pakaian.


" Oh ya kita jadi membeli pakaian untuk anak panti asuhan dan memberikan makanan buat orang-orang yang di pinggir jalan?" Tanya Cantika istri Aleandro


" Jadi donk." Jawab Cantika istri Robert.


" Jadi." Jawab ke empatnya serempak


Merekapun memilih pakaian ukuran bayi hingga dewasa setelah selesai belanja dan membayar belanjaan mereka, mereka pergi ke arah supermarket untuk membeli kebutuhan pokok dan berbagai jenis cemilan.


" Ide Cantika membuat tabungan bersama untuk panti asuhan bagus juga." Puji Cantika istri Aleandro.


" Iya kak, kebetulan waktu itu aku punya teman tinggal di panti asuhan dan mereka hidup dari sumbangan dari para donatur." Ucap Cantika istri Robert.


Hati mereka merasa tersentuh mendengar ucapan Cantika membuat mereka menyisihkan kelebihan uang mereka untuk memberikan orang - orang yang membutuhkannya. Selesai berbelanja mereka berjalan ke arah parkiran sambil membawa 7 troli.


" Untung kita keluarga besar ya kalau tidak bagaimana cara membawanya." Ucap Quenby.


" Tapi mobilnya tidak cukup, bagaimana membawanya? Tanya dokter Kasandra.


" Memang punya siapa mobil bok itu?" Tanya Cantika istri Aleandro


" Milik kak Robert, aku dan kak Robert setiap sebulan sekali pergi ke panti asuhan dan juga memberikan makanan untuk orang-orang yang tidak mampu." Ucap Cantika menjelaskan.


" Tapi kenapa mobilnya parkir di sini?" Tanya Quenby


" Semalam aku cerita sama kak Robert kalau aku dan ke enam kakakku mau pergi ke panti asuhan dan membagi-bagikan makanan langsung deh pagi-pagi bilang kalau nanti mobil box nya akan datang dan parkir di mall.


Ke enam kakaknya hanya menganggukkan kepalanya sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam box dengan di bantu dua orang anak buah Robert.


" Untuk makanan yang akan dibagi-bagikan untuk orang-orang pinggir jalan letakkan dekat pintu biar gampang ngambilnya." Ucap Cantika istri Robert.


" Ok." Jawab mereka serempak.


Setelah menghabiskan waktu lima belas menit akhirnya mereka selesai memasukkan semuanya ke dalam mobil box. Ke 7 wanita cantik itupun pergi meninggalkan mall tersebut dengan diikuti oleh mobil box.


Di tengah jalan mereka melihat banyak pengemis dan pengamen meminta sumbangan dan belas kasihan dari kendaraan yang berhenti di lampu merah. Ke tujuh wanita cantik itupun menepikan mobilnya begitu pula dengan mobil box itu.

__ADS_1


Ke tujuh wanita cantik itu keluar dari mobil dan berjalan ke arah mobil box untuk mengambil makanan untuk para pengemis dan para pengamen. Mereka sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih, tanpa sepengetahuan mereka seseorang menatapnya dengan tatapan kagum sambil memperhatikan salah satu dari ke tujuh wanita cantik tersebut.


Setelah selesai mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan karena kebetulan lampu berubah menjadi hijau. Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di panti asuhan.


" Selamat datang." Ucap pemilik panti asuhan.


" Apa kabar Bu?" Tanya Cantika istri Robert dengan nada lembut sambil memeluk pemilik panti asuhan.


" Baik." Jawab pemilik panti asuhan singkat sambil membalas pelukan Cantika istri Robert.


" Kenalkan Bu, ini kakak - kakakku." Ucap Cantika sambil mengenalkan ke enam kakaknya baik kakak kandung maupun kakak sepupunya.


Merekapun saling berkenalan setelah selesai mereka masuk ke dalam panti asuhan sambil membawa barang-barang yang tadi dibelinya. Ke tujuh wanita cantik itu bermain bersama dengan anak-anak panti asuhan hingga Quenby melihat seorang pemuda tampan melihat mereka dengan posisi duduk menyendiri di pojokan. Entah keberanian dari mana Quenby mendekati pemuda tampan tersebut.


" Kok menyendiri?" Tanya Quenby.


Pemuda tampan itu hanya diam dan hanya memandangnya dengan tatapan berbeda tapi Quenby melihat ada kesepian di matanya.


" Ayo ikut." Ajak Quenby sambil menarik tangan pemuda tampan tersebut.


Entah kenapa pemuda tampan itu menuruti permintaan Quenby dan mengikuti langkah Quenby.


" Quenby, siapa pria itu?" Tanya Cantika istri Aleandro.


Ke lima adik iparnya menatap pemuda tampan tersebut membuat pemuda tampan tersebut menarik tangannya dan bersiap untuk pergi.


" Tunggu, kenapa pergi? Bantu kami untuk menghibur anak-anak panti asuhan." Pinta Quenby sambil menahan tangan pemuda tampan tersebut.


" Aku adalah pria jahat, apakah kalian tidak takut padaku?" Tanya pemuda tampan tersebut.


" Tidak." Jawab ke 7 wanita itu serempak.


" Kenapa tidak takut?" Tanya pemuda tampan itu sambil menatap ke arah Maya.


" Aku percaya, kakak adalah pria baik." Ucap Maya dengan nada yakin.


" Begitu pula denganku, aku percaya kakak bukan orang jahat." Ucap Quenby.


" Betul." Jawab ke lima wanita itu serempak.


" Eh tunggu semalam aku membuat syal dan bingung mau aku berikan untuk siapa, bagaimana kalau aku berikan untuk kakak." Ucap Quenby sambil mengeluarkan syal buatannya dan diberikan ke pemuda tampan itu.


Pemuda tampan itupun menerima pemberian Quenby dan langsung memakainya karena kebetulan lagi musim dingin membuat Quenby tersenyum bahagia.

__ADS_1


" Tambah tampan, boleh tahu nama kakak?" Tanya Quenby.


" Nama kakak..." Ucapan pemuda tampan itu terpotong oleh deringan telepon miliknya.


__ADS_2