
" Sayang, boleh tidak aku godain suster?" Tanya Nathan sambil menatap wajah pucat istrinya tapi masih terlihat cantik.
Nathan tersenyum karena tangannya digenggam oleh istrinya kemudian mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
" Sayang, jika kamu tidak bangun juga aku mau godain perawat cantik itu yang selalu menggodaku." Ucap Nathan
" Coba saja kalau berani." Ucap Maya sambil membuka matanya dan menatap tajam suaminya.
" Pffftttt hahahaha..." Tawa Nathan pecah melihat istrinya akhirnya sadar.
cup cup cup
Nathan memajukan wajahnya ke wajah istrinya dan mengecup kening, pipi dan bibir istrinya kemudian menatap istrinya dengan kerinduan.
grep
" Maaf sayang, aku tidak berani melakukan itu karena aku sangat mencintaimu. Aku melakukan itu agar dirimu cepat sadar." Ucap Nathan sambil memeluk istrinya dengan erat.
" Sayang aku tidak bisa bernafas." Ucap Maya
" Maaf sayang, aku akan panggil dokter dulu." Ucap Nathan kemudian memencet bel yang menempel di dinding berada di atas kepala Maya.
" Aku senang banget kamu sudah sadar." Ucap Nathan setelah selesai memencet bel.
" Sebenarnya aku sudah sadar ketika suamiku masuk ke dalam ruangan tapi aku pura - pura memejamkan mata." Ucap Maya sambil menahan tawa
" Kamu nakal ya godain suami sendiri." Ucap Nathan sambil menggelitik pinggang istrinya.
" Hahaha... Geli.... Geli.... Maaf..." Ucap Maya sambil tubuhnya menggeliat.
" Nanti kalau sudah sembuh aku akan memberikan hukuman." Ancam Nathan.
" Tidak takut paling hukumannya yang enak - enak." Ucap Maya sambil tersenyum.
" Mana ada hukuman yang enak - enak." Ucap Nathan sambil salah satu alis matanya dinaikkan ke atas.
" Ada donk, hukuman ranjang." Goda Maya sambil mengedipkan matanya.
" Aish kamu belajar dari mana kata - kata itu?" Tanya Nathan
" Mbah google." Jawab Maya
" Kita ngomongin yang lain saja." Ucap Nathan
" Memangnya kenapa?" Tanya Maya.
" Karena..." Ucapan Nathan terpotong oleh suara pintu ruang icu terbuka.
Seorang dokter cantik dan perawat cantik datang sambil menatap Nathan tanpa berkedip sedangkan mata Nathan hanya memandangi wajah cantik istrinya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya dokter cantik itu.
" Cek istriku, istriku sudah sadar dari koma." Ucap Nathan tanpa menatap dan mengatakan kata tolong pada dokter cantik tersebut.
__ADS_1
' Baik tuan." Ucap dokter cantik itu dengan wajah kecut.
' *Si*l, padahal sampai aku bela - belain masuk shift malam dan berdandan cantik tapi tuan Nathan tidak melirik sekalipun.' Ucap dokter cantik itu dalam hati sambil mengecek kondisi Maya*.
' Aku juga tidak kalah cantik dengan istrinya bahkan lebih cantik kan aku tapi kenapa tuan Nathan tidak menatapku sama sekali." Ucap perawat itu dalam hati.
Setelah lima menit kemudian dokter tersebut melepaskan selang yang menempel di tubuh Maya kecuali selang infus.
" Kondisinya sudah mulai membaik dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut sambil menatap wajah tampan Nathan yang masih setia memandangi istrinya.
" Satukan dengan ruang perawatan kak Quenby." Perintah Nathan sambil tersenyum manis ke arah Maya.
" Baik tuan." Jawab dokter tersebut.
" Sayang, kak Quenby memang sakit apa?" Tanya Maya dengan nada kuatir.
" Nona Quenby..." Ucapan dokter tersebut terpotong oleh Nathan sambil menatap tajam ke arahnya.
" Silahkan pergi." Usir Nathan dengan pandangan menggelap berbeda dengan menatap mata Maya yang penuh kasih sayang.
" Tapi tuan..." Ucapan dokter tersebut lagi - lagi terpotong oleh Nathan.
" Apakah, kamu tidak ingin berkerja lagi sebagai dokter?" Tanya Nathan
" Maaf tuan, saya akan pergi." Ucap dokter tersebut sambil pergi meninggalkan mereka berdua dengan diikuti oleh perawat tersebut.
" Ada apa sayang?" Tanya Maya curiga.
" Tidak apa - apa sayang." Ucap Nathan sambil tersenyum.
Maya menyimpannya dalam hati dan tidak bertanya karena dirinya tidak menyukai keributan terlebih selama ini Nathan selalu membahagiakan dirinya dan tidak pernah menyakiti dirinya seperti mantan suaminya yang bernama Kevin di tambah keluarga suaminya yang sangat menyayangi dirinya sebagai anggota keluarganya.
" Aku tahu, di hatimu pasti bertanya - tanya dengan sifat ku yang suka berubah - ubah." Ucap Nathan yang bisa menebak isi hati istrinya.
" Jujur iya." Ucap Maya tanpa mau menutupi karena dalam rumah tangga harus ada kejujuran.
" Apakah kamu menyesal menikah denganku?" Tanya Nathan sambil menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan sendu.
" Kenapa aku menyesal? Justru aku sangat bahagia bisa menikah dengan suamiku yang sangat tampan dan kaya raya." Ucap Maya sambil tersenyum.
" Oh kamu menikah denganku karena aku sangat tampan dan kaya raya?" Ucap Nathan sambil tersenyum
" Iya donk." Ucap Maya sambil menggengam tangan suaminya.
" Ish... Ish... Istriku ternyata matre." Ucap Nathan sambil tersenyum.
" Pffftttt... Hahahaha." Tawa pecah Maya
Nathan ikut tertawa dalam hatinya sangat bersyukur istrinya mau menerima dirinya apa adanya terlebih dirinya juga tahu Maya bukan wanita matre karena selama menikah Maya tidak pernah menghamburkan uang membeli barang - barang yang tidak perlu sama seperti ipar - iparnya.
" Sayang." Panggil Maya
" Ada apa sayang?" Tanya Nathan sambil membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
" Aku ingin..." Ucap Maya menggantungkan kalimatnya sambil dua jari telunjuknya di satukan lalu dipisahkan kemudian disatukan lagi seperti itu terus.
" Ada apa sayang?" Tanya Nathan.
Nathan yang mendengarkan ucapan Maya hanya menatap Maya dengan tatapan bingung sambil berfikir.
" Kan anak kita belum lahir, kok bisa anak - anak kita merindukan papinya? Memang sayangku dengar anak - anak kita mengatakan papi kami sangat merindukan papi." Ucap Nathan menirukan suara anak kecil.
" Pffftttt... Hahaha.." Tawa Maya pecah
" Hahahaha..." Tawa Nathan ikut pecah
Ceklek
Serentak mereka berdua serentak diam dan menatap ke arah pintu, mereka melihat dua perawat membuka pintu kemudian mereka menundukkan kepalanya sebentar.
" Maaf tuan dan nyonya kami akan mendorong brangkar milik nyonya Maya untuk dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap salah satu perawat dengan nada sopan.
" Silahkan suster." Jawab Maya sambil tersenyum.
Ke dua perawat itu membalas senyuman Maya kemudian mendorong brankar milik Maya menuju ke ruang perawatan dengan diikuti oleh Nathan.
ceklek
Pintu ruang perawatan di buka dengan lebar membuat Quenby terpaksa membuka matanya untuk melihat siapa yang membuka pintu ruang perawatan dan ternyata brankar Maya yang di dorong oleh dua perawat dan diletakkan bersebelahan dengannya.
" Kak Quenby." Panggil Maya.
" Maya, kamu sudah sadar? Syukurlah aku ikut senang." Ucap Quenby.
" Iya aku sudah sadar, kamu kenapa?" Tanya Maya dengan nada kuatir.
" Hanya terluka sedikit, kamu tahu tidak adikku menangis ketika kamu tidak sadar." Ucap Quenby sambil mengalihkan pembicaraan.
' Maaf aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.' Ucap Quenby dalam hati.
" Oh ya, aku belum pernah melihat suamiku menangis." Ucap Maya sambil menatap suaminya yang sedang menatap tajam ke arah Quenby karena telah membongkar rahasianya.
" Jangan menatapku dengan tatapan jelek mu, ingat aku kakakmu." Ucap Quenby yang tidak takut dengan tatapan tajam adik kembarnya.
" Hanya beda beberapa menit, sebenarnya aku tidak tega melihatmu menangis makanya sebagai saudara yang baik hati akhirnya aku tendang biar kakak keluar duluan." Ucap Nathan dengan nada santai.
" Aish, kamu memang adikku yang nyebelin." Gerutu Quenby.
Nathan dan Maya hanya tersenyum mendengar gerutu an Quenby dan tidak berapa lama mereka mulai menguap.
" Sudah malam, tidurlah." Ucap Nathan sambil memperbaiki selimut Maya.
" Ok, sayangku mau tidur dimana?" Tanya Maya.
" Tidur di ranjang yang kosong." Jawab Nathan.
" Tidurlah di sebelahku." Pinta Maya sambil menggeser kan tubuhnya agar Nathan tidur di sebelahnya.
__ADS_1
" Ok." Jawab Nathan sambil naik ke atas ranjang dan berbaring di samping istri tercintanya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah tertidur dengan pulas bersamaan pintu ruangan terbuka oleh seorang pria dan masuk ke dalam dan diikuti dua pria lainnya sambil menatap Nathan, Maya dan Quenby secara bergantian dengan tatapan tajam.