
**** Adegan Kekerasan Jangan Di Tiru *****
" Siapa menyuruh kalian?" Tanya tuan Saverio mengulangi perkataan yang tadi.
Hening
Hening
" Hehehe... Aku lupa jika mulut kalian kami tutup." Jawab tuan Saverio Sambil terkekeh geli.
Aska hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan tuan Saverio dengan wajah tanpa ekspresi, datar dan dingin
" Aska biar daddy dulu kalau tidak ada jawaban juga baru kamu bertindak." Ucap tuan Saverio.
" Baik dad." Jawab Aska.
Tuan Saverio menarik dengan kasar dasi tersebut dengan menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya menggenggam pisau lipat namun baru saja tuan Saverio menarik dasi tersebut pelayan itu hendak menggigit lidahnya untunglah tuan Saverio melihatnya.
Sreetttttt
" Akhhhhh...." Teriak pelayan pertama tersebut ketika pisau lipat itu mengenai pipinya hingga darah segar keluar dari pipinya.
Aska yang melihat hal tersebut melakukan hal yang sama, Aska menarik dengan kasar dasi tersebut dengan menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya menggenggam pisau lipat sedangkan pelayan ke dua hanya diam karena dirinya tidak mau nasibnya sama seperti temannya.
" Kenapa kamu tidak menggigit lidahmu?" Tanya Aska dengan nada kesal.
Pelayan ke dua itu hanya diam tanpa bicara sedikitpun sedangkan tuan Saverio yang melihatnya hanya bisa menahan senyum.
" Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Aska mengulang perkataan tuan Saverio
Hening
Hening
Jleb
" Akhhhhh...." Teriak pelayan ke dua tersebut ketika pisau lipat itu menusuk salah satu bola matanya hingga darah segar keluar dari matanya hingga menjadi buta.
Aska yang sedang kesal langsung menusuk salah satu bola matanya membuat pelayan ke dua itu memberontak namun ikatan ke dua tangan dan ke dua kakinya terikat dengan kuat.
" Katakan siapa yang menyuruhmu?" Tanya Aska mengulangi perkataannya lagi.
Jleb
" Akhhhhh...." Teriak pelayan pertama ketika pisau lipat itu menusuk salah satu bola matanya hingga darah segar keluar dari matanya hingga menjadi buta.
Tuan Saverio dengan tatapan elangnya melihat jika pelayan pertamanya hendak menggigit lidahnya membuat tuan Saverio menusuk salah satu bola mata milik pelayan ke dua.
" Siapa yang menyuruh kalian!!!" Bentak tuan Saverio.
" Mafia Golden...." Ucapan pelayan ke dua terpotong oleh pelayan ke tiga.
__ADS_1
" Joni jangan katakan!!" Perintah pelayan ke tiga
" Aku tidak kuat lagi, aku akan katakan tapi tolong selamatkan keluargaku." Mohon pelayan ke dua yang bernama Joni.
" Keluarga kita akan di bunuh oleh mereka jika kita mengatakannya." Ucap pelayan ke tiga.
" Apakah kamu bisa menjamin jika kita ma*i?" Tanya Joni
" Katakan siapa yang menyuruh kalian, aku bisa menjamin keluarga kalian akan selamat." Ucap tuan Saverio.
" Baik aku akan katakan orang yang menyuruh kami adalah mafia Golden...." Ucapan dia terhenti karena tanpa sepengetahuan mereka ada dua orang penembak jitu menembak kening ke dua pelayan tersebut membuat mereka langsung meninggal di tempat.
" Si*l." Ucap tuan Saverio dan Aska dengan nada kesal sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah jendela karena tembakan tersebut berasal dari arah jendela.
Tuan Saverio mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi daddy Alvonso sedangkan Aska menghubungi Aleandro sambungan pertama langsung di angkat oleh mereka.
" Tuan Alvonso, tolong retas halaman cctv dan lantai satu ada orang yang berani masuk ke mansion dan menembak dua pelayan dengan senjata tanpa suara." Ucap tuan Saverio tanpa basa basi.
" Ok." Jawab daddy Alvonso singkat.
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus dan tuan Saverio menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya sambil menatap ke arah sekeliling halaman untuk mencari penembak jitu.
" Kak Aleandro, satu orang pelayan bunuh diri dengan menggigit lidahnya dan yang duanya lagi di tembak oleh dua penembak jitu lewat jendela." Ucap Aska tanpa basa basi.
" Apa???" Teriak Aleandro dengan nada terkejut.
" Baik." Jawab mereka serempak.
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus dan Aska menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya sambil menatap ke arah sekeliling halaman untuk mencari penembak jitu bersama tuan Saverio.
" Siapa mereka? Cepat sekali geraknya." Ucap Aska
" Sepertinya mereka mengenal mansion ini makanya mereka cepat sekali menghilang." Ucap tuan Saverio.
Deg
Deg
Jantung Aska berdetak kencang bukannya jatuh cinta tapi perasaannya tidak enak membuat Aska membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.
" Daddy perasaanku tidak enak, istriku dan semua saudari iparku." Ucap Aska
" Ayo kita melihatnya aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka." Ucap tuan Saverio
Merekapun keluar dari ruangan tersebut namun baru saja melangkahkan kakinya ke arah tangga mata mereka membulat sempurna karena melihat Maya dan dokter Kasandra keningnya di todong senjata tanpa suara.
" Jangan bergerak, sekali bergerak maka aku tidak segan - segan menembak dua wanita ini." Ancam salah satu pria.
__ADS_1
" Mereka tidak bersalah, lepaskan mereka!!!" Bentak tuan Saverio dengan suara menggelegar.
Bentak kan tuan Saverio yang menggelegar membuat semua penghuni mansion keluar termasuk keluarga daddy Thoma dan keluarga daddy Alvonso mereka sangat terkejut karena merasa kecolongan. Tuan Saverio dan daddy Alvonso saling memberikan kode untuk menyerang mereka di saat lengah.
" Lepaskan istriku!!" Teriak Nathan sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki 2 anak tangga sekaligus menuju ke arah penjahat tersebut yang sedang menyandera istrinya.
Penjahat itupun mengarahkan senjatanya ke arah Nathan dengan menggunakan tubuh Maya sebagai tamengnya sedangkan Maya yang melihat suaminya dalam bahaya berusaha merebut pistol tersebut.
Dor
Grep
" Akhhhhhhhh...." Teriak Quenby sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Quenby yang melihat kakak kembarnya dalam bahaya melepaskan pelukan suaminya dan berlari ke arah pria tersebut dan berusaha membantu Maya merebut pistol tersebut tapi sayang pistol tersebut mengenai perut Quenby hingga darah segar keluar dari perut Quenby dan hampir saja ambruk jika Maya tidak menahan tubuh Quenby.
" Quenby!!!" Teriak mereka serempak
Sreettttttttttt
" Akhhhhhhhh...." Teriak pria itu ketika pisau lipat yang sangat tajam itu menebas leher pria itu hingga darah segar mengenai wajah Fico.
Bruk
Fico yang melihat istrinya tertembak membuatnya marah hingga sepasang mata Fico berwarna biru berubah menjadi merah dan secepat kilat melangkahkan kakinya dengan langkah cepat dan langsung memotong leher pria itu seperti memotong ayam, pria itupun langsung ambruk ke lantai dan ma*i di tempat.
Aska yang melihat Quenby tertembak dan istrinya di sandera dengan pria satunya yang masih membatu karena dirinya sangat terkejut melihat temannya ma*i dengan sangat mengenaskan.
Melihat ada kesempatan Aska yang masih menggengam pisau lipat dengan secepat kilat melangkahkan kakinya tanpa sepengetahuan pria tersebut.
Sreettttttttttt
" Akhhhhhh...." Teriak pria itu ketika pisau lipat yang sangat tajam itu menebas leher pria itu hingga darah segar mengenai wajah Aska.
Bruk
" Sayang." Panggil Quenby sambil menahan rasa sakit.
Fico memejamkan matanya untuk menghilangkan amarahnya dan beberapa lama warna mata merah Fico berubah menjadi biru kembali, Fico langsung menggendong Quenby dengan perasaan tidak menentu. Entah kenapa hati Fico sangat sakit melihat Quenby terluka.
" Bertahanlah sayang." Ucap Fico sambil berjalan ke arah kamar pengantin mereka.
Dokter Kasandra yang sempat terkejut dengan suaminya berusaha menghilangkannya karena baginya saat ini menolong Quenby adalah yang terpenting.
Dokter Kasandra berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil tas dokternya untuk mengobati Quenby sedangkan Aleandro memerintahkan dua bodyguard untuk mengubur dua jasad tersebut dan juga memerintahkan kepala pelayan untuk membersihkan bercak darah yang tercecer di lantai.
" Semuanya kita berkumpul di ruang keluarga kecuali Quenby, Fico, Aska dan Kasandra." Perintah tuan Saverio yang tidak ingin anak - anak daddy Thomas dan mommy Gloria terluka lagi.
" Bak dad." Jawab mereka serempak.
" Kebetulan sekali, paman akan bicara dengan kalian semuanya termasuk anak - anak daddy." Ucap daddy Alvonso yang meminta 6 anak kembarnya dan 6 menantunya juga ikut berkumpul di ruang keluarga karena dirinya memiliki rencana.
__ADS_1