Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Hukuman


__ADS_3

Di tempat yang sama namun berbeda ruangan Maya dan Aurora melihat jam tangannya berkedip - kedip membuat mereka saling menatap.


" Kok perasaanku tidak enak ya?' ucap Maya


" Sama aku juga jangan - jangan bunyi jam tangan ini tanda kalau kak Nathan, kak Yohanes dan Kasandra dalam bahaya," ucap Aurora sambil bangun dari ranjang kemudian mengambil benda kecil seukuran telapak tangan yang berada di saku jasnya kemudian menarik tuasnya hingga membentuk tongkat,


" Bisa jadi, apakah kamu tahu di mana tempat meeting nya?" tanya Maya sambil turun dari ranjang kemudian mengambil benda kecil seukuran telapak tangan dari dalam tasnya kemudian menarik tuasnya hingga membentuk tongkat,


" Aku tahu tempatnya, kakak di sini saja aku akan ke ruang meeting," ucap Aurora sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah pintu lift.


" Tidak lebih baik aku ikut," ucap Maya yang juga sangat kuatir sambil jalan mengikuti Aurora.


" Anak - anak mommy dan daddy yang kuat ya," ucap Maya sambil mengelus perutnya.


Ting


Pintu lift terbuka merekapun masuk ke dalam lift kemudian Aurora menekan tombol dua puluh dua tempat ruangan meeting hingga tidak membutuhkan waktu lama pintu lift terbuka dan mereka pun keluar dari kotak persegi tersebut dan berjalan ke arah pintu meeting.


Ketika Aurora mendekatkan telinganya ke arah pintu untuk mendengar apakah di dalam ada keributan atau tidak bersamaan pintu lift khusus karyawan terbuka.


" Apa yang terjadi?" tanya Aleandro, Maximus, Aska, Robert, Katarina dan suaminya yang bernama Mikael serempak sambil berjalan ke arah mereka.


" Tidak tahu kak tiba - tiba jam kami bunyi terlebih perasaan kami tidak enak," ucap Maya.


" Buka saja pintunya, kata oma Laras mereka dalam bahaya," perintah Mikael.


Brak


Tanpa menjawab ucapan Mikael, Aurora membuka pintu ruang meeting dengan paksa dan matanya langsung membulat sempurna melihat Nathan, Yohanes dan dokter Kasandra terdesak dan terkadang menerima pukulan dari para karyawannya.

__ADS_1


Maya dan Aurora langsung menyerang mereka kemudian di susul oleh Aleandro, Maximus, Aska, Robert, Katarina dan Mikael.


Mereka semua memukul tanpa ampun ke para karyawan dan karyawati sedangkan Nathan, Yohanes, dokter Kasandra dan manager HRD merasa terbantu dan ikut melawan mereka.


Perkelahian tidak seimbang antara dua belas orang dengan tiga puluh lima orang namun karena mereka semua bis bela diri akhirnya bisa membuat mereka babak belur.


" Maya dan  Aurora tolong bawa Kasandra ke ruangan ku dan bantu obati," pinta Nathan sambil menahan rasa sakit akibat pukulan para karyawan dan karyawati.


" Ok," jawab Maya dan Aurora serempak.


" Aku akan ikut tapi sebelumnya ini obat untuk paman Nathan dan paman Yohanes agar mengurangi rasa sakit." ucap Katarina sambil memberikan botol obat dan botol minuman ke Nathan dan Yohanes.


" Terima kasih," jawab Nathan dan Yohanes serempak sambil menerima pemberian Katarina kemudian langsung meminum obat pemberian Katarina.


" Ini untuk paman," ucap Katarina yang juga memberikan botol obat dan botol minuman ke manager hrd.


" Sama - sama paman," jawab Katarina.


" Kamu istirahat di ruangan mu dan jangan lupa minum obat dari ponakanku," ucap Nathan yang sudah menganggap Katarina sebagai ponakannya walau tidak ada hubungan darah.


" Baik tuan, saya permisi," jawab manager hrd


Maya, Aurora, dokter Kasandra, Katarina dan manager hrd meninggalkan ruangan tersebut, wajah Nathan yang awalnya menatap teduh dan tersenyum terhadap istri dan keluarganya kini mendadak sirna seperti terang berubah menjadi gelap itu yang terjadi pada raut wajah Nathan.


Tatapannya berubah menjadi tatapan membunuh dan senyuman manis berubah menjadi senyuman devil menatap satu persatu para karyawan dan karyawati yang duduk di lantai.


" Awalnya kami sudah berbaik hati yaitu memberikan pesangon untuk kalian agar kalian usaha tapi kini aku berubah pikiran," ucap Nathan dengan wajah dingin dan datar.


" Maafkan kami tuan," jawab mereka sambil bersujud dan menahan rasa sakit pada tubuhnya.

__ADS_1


" Lebih baik kita bawa ke markas kami saja," usul Mikael


" Ok," jawab Aleandro


" Terserah kakak saja," jawab Nathan dan Yohanes serempak.


" Nathan dan Yohanes, kalian berdua istirahat saja sambil memulihkan kondisi tubuh biar mereka urusan kami," ucap Aleandro


" Baik kak," jawab Nathan dan Yohanes yang masih merasakan sakit pada tubuhnya.


Nathan dan Yohanes keluar dari ruangan tersebut bersamaan kedatangan keluarga besar daddy Alvonso mereka membawa ke tiga puluh lima orang menuju ke arah dua lift agar lebih cepat.


" Alvonso dan Alvian, hukuman apa yang pantas untuk mereka?' tanya Aleandro penasaran.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Apa jawaban Alvonso dan Alvian? Tunggu di bab selanjutnya ya


Ayo donk vote, like, komentar dan hadiahnya biar author semangat menulisnya.


Author mengucapkan terima kasih banyak atas vote, like, komentar dan hadiahnya, maafkan author kalau ada komentar yang tidak di balas yang pasti author membaca semua komentar kalian dan author sangat berterima kasih yang tak terhingga hingga karya saya masuk ke karya digemari oleh masyarakat. Semoga  Tuhan membalas kebaikan kalian semua dalam memberikan author vote, like, komentar dan hadiahnya.


Dari Author,


Yayuk Triatmaja


🌹


Terima kasih sudah mampir di ceritaku.

__ADS_1


__ADS_2