Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Katarina


__ADS_3

Katarina yang sangat waspada mendengar suara langkah kaki dari langkah belakang langsung menarik tangan dokter Kasandra dan menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya hal itu membuat dokter Kasandra terkejut tapi berusaha bersikap biasa saja.


" Ada suara langkah kaki." Bisik Katarina


Katarina mendengar dari jarak jauh tiga pasang kaki melangkah ke arah mereka membuat Katarina mengambil 3 kartu domino dan bersiap untuk menyerang mereka.


" Alvian kamu lindungi Katarina dan Kasandra biar kakak yang melindungi Aleandro dan Maximus yang sedang mendorong brankar." Perintah Alvonso yang melihat Katarina dan dokter Kasandra masih jauh karena mereka berjalan dengan langkah cepat.


" Baik kak." Jawab Alvian.


Alvian berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah Katarina dan dokter Kasandra.


" Ayo kita jalan." Ajak Alvian yang melihat Katarina mengarahkan 3 kartu domino ke arah samping.


" Alvian, sebentar lagi akan datang 3 musuh dari arah samping jika mereka terlihat langsung tembak, mereka membawa senjata." Ucap Max dari head seat yang menempel di telinga Alvian.


" Ok." Jawab Alvian singkat.


" Kata Max, sebentar lagi ada 3 musuh kita bersiap - siap untuk menyerang karena mereka membawa pistol." Ucap Alvian.


" Ok." Jawab Katarina singkat, walau dirinya juga tahu kalau ada 3 orang yang datang.


Tidak berapa lama ke tiga pria itu datang ke arah mereka membuat ke tiga pria tersebut terkejut karena mereka di todong senjata oleh Alvian tapi hanya sebentar.


" Siapa kalian? Kenapa ada di tempat ini?" Tanya salah satu pria terebut.


" Memang kenapa? Apa tidak boleh?" Tanya Alvian sambil tersenyum menyeringai.


" Tidak boleh, tembak pria itu dan biarkan ke dua wanita itu hidup kita bisa bersenang - se....." Ucapan pria itu terpotong ketika Katarina melempar kartu domino tersebut ke arah kening mereka.


Jleb                      Jleb                               Jleb


" Akhhhhhhhhhhhhhh....." Teriak mereka serempak karena tembakan kartu domino tepat mengenai kening ke tiga pria tersebut.


Bruk                       Bruk                              Bruk


Ke tiga pria itu pun langsung ambruk seketika hal itu membuat dokter Kasandra terkejut dan sekaligus kagum dengan kehebatan Katarina kemudian mereka bertiga Alvian, Katarina dan dokter Kasandra berjalan menyusul Alvonso, Aleandro dan Maximus yang sedang mendorong brankar mommy Gloria dan daddy Thomas hingga akhirnya mereka sudah sampai di depan mobil ambulance.


" Aleandro, Maximus, Alvian, Max, dokter Alexa, Mikael, Katarina kalian ikut mobil ambulance dan dua di antara kalian bawa satu mobil." Perintah Alvonso.


" Kak Alvonso mau kemana?" Tanya Alvian


" Kakak akan membantu saudra - saudara kita yang lainnya." Ucap Alvonso.


" Biar aku yang temani paman Alvonso." Ucap Katarina.


" Tapi..." Ucapan Mikael terpotong oleh istrinya Katarina.


" Sayang, aku dan paman Alvonso akan baik - baik saja." Ucap Katarina.

__ADS_1


" Kita tidak ada waktu lagi, pergilah." Ucap Alvonso.


" Ayo paman kita bantu mereka." Ajak Katarina sambil membalikkan badannya dan meninggalkan mereka semua.


" Ayo." Jawab Alvonso singkat sambil ikut membalikkan badannya dan meninggalkan saudara - saudaranya.


" Ayo kita pergi." Ucap Alvian.


Aleandro dan dokter Alexa naik mobil ambulance bersama daddy Thomas yang masih berbaring dan setia memejamkan matanya sedangkan Alvian, dokter Kasandra naik mobil ambulance bersama mommy Gloria yang masih berbaring dan setia memejamkan matanya.


Max dan Alvian naik mobil pribadi, Alvian yang mengendarai mobil sedangkan Max memegang laptop untuk melihat jika ada musuh datang. Mereka pun meninggalkan rumah sakit tersebut menuju ke arah mansion sedangkan Alvonso dan Katarina berjalan ke arah ruangan markas penjahat.


Di dalam markas terjadi pertempuran sengit ternyata ruangan itu di desain sedemikian rupa sehingga para penjahat bisa bersembunyi dan menyerang balik para musuhnya di tambah suasana gelap membuat mereka sulit mendeteksi di mana musuh berada.


Dor                   Dor                Dor


" Akhhhhh..." Teriak Yohanes ketika peluru itu mengenai bahunya.


" Yohanes!!!" Teriak mereka serempak.


Dor                   Dor                Dor


" Akhhhhhhhh....." Teriak tuan Saverio.


" Daddy Saverio!!!" Teriak mereka serempak lagi.


" Si*l kita hanya bisa menembak beberapa musuh kita di tambah suasana gelap membuat kita hanya bisa menyerang balik ketika mereka menembak ke arah kita." Ucap Nathan dengan nada kesal.


" Apakah kamu bisa meretas cctv di sini agar bisa mengetahui di mana mereka bersembunyi?" Tanya Nathan penuh harap.


" Cctv hanya ada di luar ruangan sedangkan ruangan ini kurang tahu paman karena mereka sengaja membuat agar jaringan internet atau komunikasi tidak bisa masuk ke dalam ruangan ini." Ucap Albert menjelaskan.


" Bagaimana ini daddy Saverio dan kakak kembarku Nathan terluka? Sedangkan ternyata ruangan ini sangat luas." Ucap Nathan.


" Aku akan mencoba cara lain." Ucap Albert sambil mengutak atik kembali laptopnya.


Ceklek


Tiba - tiba pintu tersebut terbuka membuat orang menatap ke arah pintu sambil serentak mengarahkan pistol ke arah pintu dengan bantuan senter milik Nathan ternyata Katarina dan Alvonso yang membuka pintu.


Nathan melakukan itu karena takutnya jika mereka menembak ternyata saudara mereka karena itulah Nathan menggunakan senter dari ponselnya.


Katarina yang waspada yang bisa melihat dari kegelapan dan telinganya yang tajam dapat mengetahui kalau ada dua pergerakan musuh yang ingin menembak ke arah Nathan dan Albert membuat Katarina mengambil dua domino dan melempar domino tersebut.


Jleb                         Jleb


" Akhhhhhhhh..." Teriak ke dua pria tersebut


Bruk                          Bruk

__ADS_1


Dua pria tersebut langsung ma*i seketika karena tembakan domino Katarina tepat mengenai kening ke dua pria tersebut.


" Ada yang terluka?" Tanya Katarina sambil mata dan telinga digunakan untuk melihat dan mendengar langkah para musuhnya.


" Yohanes dan daddy Saverio." Ucap Nathan.


" Kalau begitu Yohanes, paman Saverio, Fico, Albert, Bella, Charli, Della, Ellie, Felix , Aska dan Robert pergilah dari rumah sakit ini." Ucap Alvonso.


" Lalu bagaimana dengan daddy Saverio dan Yohanes? Mereka terkena luka tembak." Ucap Nathan.


" Paman Saverio dan Yohanes akan di ambil pelurunya di rumah sakit milik Max dan kamu Albert kamu mengemudi mobil menuju ke rumah sakit milik paman Max." Perintah Alvonso.


" Baik paman." Jawab Albert.


Jleb                         Jleb


" Akhhhhhhhh..." Teriak ke dua pria tersebut


Bruk                          Bruk


Katarina mendengar ada dua pasang kaki melangkah ke arah mereka dan ingin menembak Nathan dan Alvonso membuat Katarina melempar kembali kartu domino dan dua pria tersebut langsung ma*i seketika karena tembakan domino Katarina tepat mengenai kening ke dua pria tersebut.


Sedangkan Yohanes, paman Saverio, Fico, Albert, Bella, Charli, Della, Ellie, Felix , Aska dan Robert pergi meninggalkan tempat tersebut dan kini yang tertinggal hanya Nathan, Leo, Alvonso dan Katarina.


" Paman Nathan, paman Alvonso dan paman Leo apakah pelurunya masih ada?" Tanya Katarina dengan nada pelan.


" Masih ada." Jawab ke tiganya serempak.


" Bagus, paman Nathan jam 9, paman Alvonso jam dua belas dan paman Leo jam tiga." Ucap Katarina


Dor                Dor                   Dor                  Jleb


" Akhhhhhhhhhhhh...." Teriak ke empat pria serempak.


Bruk              Bruk                  Bruk                Bruk


Ke empat pria itupun langsung mati seketika karena tembakan Alvonso, Nathan dan Leo tepat mengenai dada mereka dan tembus ke jantung sedangkan Katarina mengenai kening pria tersebut.


" Untung aku bawa dua belas pak kartu domino." Ucap Katarina.


" Lain kali ajarkan paman cara menggunakan kartu domino." Ucap Alvonso.


" Paman juga mau." Jawab Leo dan Nathan serempak.


" Baik paman dengan senang hati akan aku ajarkan cara menggunakannya." Ucap Katarina


" Lebih baik kita pergi dari sini sebelum musuh datang lagi." Ucap Alvonso.


" Paman Alvonso, paman Leo dan paman Nathan kalian keluar dulu aku akan berjalan mundur." Ucap Katarina.

__ADS_1


" Ok." Jawab mereka serempak.


Sebenarnya sungguh memalukan buat ke tiga pria tampan tersebut karena tubuh Katarina dijadikan tameng untuk mereka bertiga tapi mengingat Katarina bisa melihat dengan jelas walau suasana gelap sekalipun di tambah telinganya yang tajam membuat mereka termotivasi untuk belajar agar suatu kelak jika ini terjadi lagi maka kejadian memalukan ini tidak terjadi lagi.


__ADS_2