
" Tahu." Jawab Fico singkat.
" Apa??" Tanya Quenby ikutan singkat.
" Melakukan hubungan suami istri." Ucap Fico sambil menatap wajah cantik Quenby.
" Memang apa hubungan melakukan hubungan suami istri dengan perkataan jangan macam - macam?" Tanya Quenby dengan nada polos sambil menatap wajah tampan Fico.
" Ada hubungannya karena itulah Nathan mengatakan jangan macam - macam, sudahlah jangan di bahas lagi." Ucap Fico sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sungguh berdua bersama Quenby merupakan siksaan terbesar bagi dirinya karena harus menahan hasra*nya terlebih dirinya sudah pernah merasakannya namun dirinya tidak ingin merusak Quenby karena Fico sangat mencintai Quenby.
Grep
Quenby yang penasaran mengulurkan tangannya ke arah wajah Fico namun Fico yang mempunyai sikap waspada langsung menahan tangan Quenby.
" Ada apa? Hmmm.." Tanya Fico sambil menatap wajah cantik Quenby hingga matanya menatap bibir mungil Quenby.
" Kenapa memandang ke arah lain? Kak Fico marah padaku?" Tanya Quenby dengan tatapan sendu.
" Boleh aku menciummu?" Tanya Fico tanpa menjawab ucapan Quenby
" Tidak." Jawab Quenby singkat dan tegas sambil menarik tangannya yang digenggam oleh Fico.
" Aku tahu dan maaf lupakan perkataan ku yang tadi." Ucap Fico dengan wajah kecewa.
" Kak Fico marah padaku?" Tanya Quenby merasa bersalah, entah kenapa hatinya merasa sakit melihat wajah Fico sedih atau kecewa.
" Kakak tidak marah dan maaf kakak ingin tidur di kamar tamu." Ucap Fico sambil tersenyum dan mengusap rambut Quenby dengan lembut kemudian hendak berdiri.
Sebenarnya Fico tidak ingin meninggalkan Quenby sendirian tapi saat ini dirinya ingin sekali memakan Quenby sedangkan dirinya tidak ingin merusaknya jika seandainya saja wanita lain dirinya tidak perduli.
Grep
" Temani aku tidur." Mohon Quenby sambil menahan tangan Fico.
" Bukankah kamu sudah terbiasa tidur sendiri?"Tanya Fico.
" Memang benar tapi saat ini aku ingin ditemani tidur, bolehkah?" Tanya Quenby penuh harap.
" Quenby, aku pria normal dan aku tidak ingin merusak mu." Ucap Fico dengan jujur.
" Aku percaya kak Fico bisa menahannya." Ucap Quenby dengan nada yakin.
" Apakah kamu pernah berciuman?" Tanya Fico tanpa menjawab ucapan Quenby
" Aku belum pernah berciuman." Jawab Quenby dengan jujur.
" Aku tidak percaya." Jawab Fico sambil menahan senyum.
" Bagaimana agar kak Fico percaya?" Tanya Quenby
" Ada caranya." Jawab Fico sambil tetap menahan senyum.
" Apa itu?" Tanya Quenby penasaran
__ADS_1
" Dengan merasakan bibir." Jawab Fico
" Maksudnya?" Tanya Quenby dengan wajah bingung.
" Jika dengan berciuman akan tahu pernah berciuman atau tidak." Jawab Fico berbohong karena dirinya ingin sekali merasakan bibir Quenby yang sangat menggodanya.
" Mau mencobanya?" Tanya Fico sambil menatap wajah cantik Quenby.
Quenby hanya menganggukkan kepalanya, Fico yang mendapatkan lampu hijau membuat Fico mendekatkan wajahnya ke wajah Quenby membuat Quenby memejamkan matanya.
Fico hanya tersenyum kemudian mengecup bibir Quenby yang sejak tadi menggodanya untuk di cium. Ciuman pertama Quenby sedangkan Fico bukan ciuman pertama karena Fico sering berciuman dengan banyak wanita.
cup
" Manis." Jawab Fico sambil naik ke atas ranjang kemudian menaiki tubuh Quenby.
" Kak Fico, apa yang kak Fico lakukan?" Tanya Quenby panik
" Hanya menciummu tidak lebih, bolehkah?" Bisik Fico kemudian mencium leher Quenby.
" Geli kak." Ucap Quenby tanpa menjawab pertanyaan Fico.
Quenby tanpa sadar menggeliatkan tubuhnya membuat Fico memejamkan matanya menikmati sentuhan tubuh Quenby yang menempel pada tubuhnya dan benda pusaka nya semakin mengeras.
Fico kembali mencium bibir manis Quenby dan meluma*nya dan tangannya masuk ke dalam pakaian Quenby kemudian memainkan salah satu gunung himalaya yang masih tertutup pakaian dala*an Quenby.
Hal itu membuat Quenby mengeluarkan suara merdu dan mengalungkan ke dua tangannya ke leher Fico namun entah kenapa Fico langsung tersadar dan melepaskan tangan Quenby yang mengalungkan tangannya di lehernya dan turun dari ranjang.
" Maaf." Ucap Fico sambil memejamkan matanya untuk menghilangkan pikiran mesumnya.
" Kak Fico." Panggil Quenby.
" Apakah kak Fico menganggap aku wanita murahan?" Tanya Quenby dengan mata berkaca - kaca.
" Stttt..." Ucap Fico sambil mengarahkan jari telunjuknya ke mulut quenby dan duduk di kursi dekat ranjang Quenby.
" Jangan pernah mengatakan itu karena kakak tidak suka mendengarnya justru kakak tidak pantas untukmu karena kakak adalah...." Ucapan Fico terpotong oleh Quenby.
" Kak Fico, apakah kakak mencintaiku?" Tanya Quenby sambil menatap wajah tampan Fico.
" Tentu saja kakak mencintaimu, memang ini terlalu cepat untukmu tapi jujur kakak sangat mencintaimu." Ucap Fico sambil mengusap pipi quenby dengan lembut.
" Apa yang membuat kak Fico mencintaiku?" Tanya Quenby penasaran.
" Waktu pertama melihatmu di panti asuhan kakak mulai menyukaimu, saat itu kamu tertawa lepas bersama para anak panti asuhan dan kamu mendekatiku. Apakah kamu masih ingat?" Tanya Fico
" Ya aku masih ingat, saat itu aku sempat memperhatikan kakak yang sedang menyendiri seperti anak hilang." Ucap Quenby.
Fico hanya tersenyum manis dan mengusap rambut Quenby membuat Quenby membalas senyuman manis Fico.
" Aku melihat di mata kak Fico seperti pria...." Ucap Quenby menggantungkan kalimatnya.
" Seperti pria apa?" Tanya Fico penasaran.
" Seperti pria kesepian, maaf kalau aku salah mengartikan." Ucap Quenby.
__ADS_1
" Kamu tidak salah, memang aku pria kesepian dan ketika kamu hadir dalam hidupku, melakukan segala hal yang aku suka yaitu menyuapiku, bercerita dan lain sebagainya hidupku lebih berwarna namun aku sadar aku bukanlah pria yang pantas untukmu." jawab Fico.
" Kenapa kak Fico mengatakan itu?" Tanya Quenby.
" Karena kakak seorang..." Ucapan Fico lagi - lagi terpotong oleh quenby.
" Casanova dan seorang psychophat, betul bukan." Tebak Quenby yang sudah tahu dari keluarganya.
" Betul, karena itulah mulai besok kakak akan mengikuti daddy untuk kuliah lagi di luar negri sekaligus belajar untuk melupakanmu." Ucap Fico sambil memalingkan wajahnya karena dirinya terlalu berat untuk mengatakan itu tapi dirinya tidak mau berharap terlebih Quenby berasal dari keluarga kaya raya dan disegani.
Quenby menangkap ke dua pipi Fico agar menatap wajahnya, Quenby melihat dengan jelas wajah sendu Fico.
" Kak Fico aku juga sangat mencintaimu jadi aku mohon kakak jangan pergi dari hidupku." Mohon Quenby sambil menatap wajah Fico dengan tatapan ikut sendu.
Deg
Deg
Jantung Fico berdetak kencang mendengar ucapan Quenby dirinya tidak menyangka ternyata Quenby juga mencintai dirinya karena Fico mengira cintanya tidak mungkin terbalas.
" Apakah kamu tidak takut jika seandainya aku menyakitimu? karena aku adalah seorang pria psychophat?" Tanya Fico
" Aku tidak takut hanya saja aku minta satu hal dari kak Fico." Pinta Quenby
" Apa itu?" Tanya Fico penasaran.
" Jika ternyata aku akhirnya ma*i di tangan kak Fico, aku adalah wanita terakhir yang kak Fico bunuh." Ucap Quenby.
grep
" Aku tidak mungkin melakukan itu karena aku sangat mencintaimu, aku berjanji untuk merubah semua sifat buruk ku." Ucap Fico berjanji pada dirinya sendiri.
" Aku percaya pada kak Fico." Ucap Quenby yang mulai menguap
" Terima kasih sudah percaya padaku, berarti kita sekarang pasangan kekasih?'' Tanya Fico.
" Iya." Jawab Quenby singkat dengan ke dua pipinya merah merona.
" Terima kasih dan sekarang tidurlah." Ucap Fico sambil merapikan selimut Quenby.
" Kak Fico." Panggil Quenby
" Ya." Jawab Fico singkat.
" Tidurlah di sebelahku." Pinta Quenby.
" Memang kenapa?" Tanya Fico sambil merapikan rambut Quenby
" Aku ingin memeluk kak Fico bolehkah?" Tanya Quenby.
Fico hanya menganggukkan kepalanya kemudian naik ke ranjang Quenby yang lumayan luas dan berbaring di samping Quenby.
Quenby meletakkan kepalanya di dada bidang Fico dan tangannya yang ada infusnya memeluk Fico sedangkan Fico memeluk pinggang Quenby.
Di negara lain sepasang suami istri bertengkar dengan hebat hingga sang suami menampar dan memukul istrinya kemudian pergi meninggalkan istrinya yang sudah babak belur.
__ADS_1
" Dasar laki - laki brengs*k, menyesal aku menikah denganmu!!!" Teriak wanita itu setelah suaminya sudah pergi meninggalkan rumahnya.
" Lebih baik aku pulang ke negaraku dari pada di sini aku dipukuli terus oleh suamiku." Ucap wanita itu.