Ranjang Sang Mafia

Ranjang Sang Mafia
Romero Fico Saverio


__ADS_3

Di rumah sakit yang sama hanya beda ruangan seorang pemuda berbaring di ranjang sambil membuka matanya dan melihat seorang gadis cantik duduk di kursi samping ranjang nya dengan kepala bersandar di ranjang.


" Aku di mana?" Tanya pemuda itu sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Pemuda itupun mengingat ketika dirinya melarikan diri dengan masuk ke dalam mobil dan orang itu melihat dirinya hingga mengejar mobilnya. Mobil mereka saling kejar-kejaran sambil sesekali mereka menembak hingga orang itu menembak ban mobil tersebut hingga ban mobil itupun meledak dan mobil itupun terguling - guling dan menabrak pohon.


Pemuda itu meraba kepalanya yang di perban begitu pula dengan dada, bahu dan tangannya di perban kemudian beralih menatap wajah cantik yang masih tertidur dengan pulas nya.


ceklek


Seorang dokter wanita membuka pintu ruangannya dan berjalan ke arah mereka berdua. Pemuda itu melihat wajah dokter dan wajah gadis yang sedang tertidur wajahnya hampir sama membuat pemuda itu bisa menduga mereka saudara kembar.


" Sudah sadar, apa ada yang sakit?" Tanya dokter tersebut dengan ramah.


" Sudah lumayan, siapa yang membawaku kemari dok?" Tanya pemuda itu.


" Aku dan kakak kembarku, kebetulan kami melewati jalan itu dan melihat ada seseorang mengalami kecelakaan karena itu kami langsung membawakan ke rumah sakit." Ucap dokter tersebut sambil menggoyangkan bahu adik kembarnya.


" Bangun kak, bukannya menjaga malah tidur." Ucap dokter tersebut.


Gadis itupun menggeliatkan tubuhnya hingga terlihat jelas bentuk dua gunung himalaya yang ukurannya sesuai dengan tangannya.


' Si*l kenapa adik kecilku bereaksi melihat gadis itu." Ucap pemuda itu sambil memalingkan wajahnya.


" Maaf, semalam aku tidurnya jam 2 pagi ngerjain tugas kuliah." Jawab gadis itu masih menguap tanpa menyadari dirinya sedang di tatap oleh pemuda tersebut.


Entah kenapa ketika memalingkan wajahnya pemuda itu ingin melihat lagi wajah cantik gadis itu karena itulah pemuda itu menatap kembali wajah cantik gadis itu.


" Cuci muka biar segar." perintah adiknya.


" Iya." Jawab kakaknya singkat sambil berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


" Maaf aku cek dulu ya." Ucap dokter tersebut.


Pemuda itupun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian dokter tersebut mulai memeriksa keadaan pemuda tersebut. Lima menit kemudian dokter tersebut sudah selesai memeriksa keadaan pemuda tersebut.


" Kira-kira seminggu lagi baru bisa keluar dari rumah sakit." Ucap dokter tersebut.


" Dokter Kasandra." Panggil pemuda itu sambil membaca name tag yang menempel di dada dokter tersebut.


" Ya ada yang bisa di bantu?" Tanya dokter tersebut dengan ramah.


" Dokter dan kakak dokter menolongku, apakah tidak takut kalau seandainya aku ternyata seorang penjahat yang berbahaya?" Tanya pemuda itu sambil menatap dokter Kasandra.


" Kenapa kami mesti takut?" Tanya gadis tersebut yang keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah mereka berdua.


" Benar kata kakakku kenapa mesti kami takut?" Sambung dokter Kasandra.


" Kalau seandainya aku membunuh kalian, apakah kalian tidak takut?" Tanya pemuda itu sambil menatap kakak beradik bergantian.


" Betul kata adikku itu mungkin itu sudah takdir kami, ma*i dan hidup seseorang sudah di atur sama yang di atas jadi kami hanya pasrah jika itu terjadi pada kami." Sambung gadis itu.


" Biasanya orang tidak perduli jika ada orang terluka, kenapa kalian perduli?" Tanya pemuda itu.


" Mommy mengajarkan untuk saling tolong menolong tanpa memperdulikan siapapun orang tersebut." Ucap gadis itu sambil tersenyum manis.


deg


deg


Jantung pemuda itu berdetak kencang ketika mendengar ucapan kakak dan adik tersebut.


" Kak Quenby, kakak tidak menengok kak Nathan dan kak Maya?" Tanya dokter Kasandra.

__ADS_1


" Memang kak Nathan dan kak Maya kenapa?" Tanya Quenby


" Kak Nathan dan kak Maya mengalami kecelakaan, kak Nathan sudah sadar hanya kak Maya yang masih koma." Ucap dokter Kasandra.


" Apa?? kok tidak kasih tahu ke aku, aku ke sana dulu." Ucap Quenby sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar perawatan vvip.


" Nanti aku ke sini lagi." Ucap Quenby tanpa membalikkan badannya sambil membuka pintu kamar perawatan dan meninggalkan mereka berdua.


" Kak Nathan dan kak Maya itu siapa?" Tanya pemuda itu kepo.


" Kak Nathan itu kakak kembar kami dan kak Maya adalah kakak ipar kami." Jawab dokter Kasandra.


" Dokter kembar 3?" Tanya pemuda tersebut.


" Bukan, kami kembar 7. Tiga perempuan dan empat laki-laki." Jawab dokter Kasandra.


" Wih mantap sekali, apakah sudah ada yang menikah?" Tanya pemuda itu masih kepo.


" Kakak pertama laki-laki ku sudah menikah dan mempunyai anak kembar 4, yang ke dua laki-laki sudah punya anak kembar 3, yang ke tiga kakakku yang tadi bernama kak Quenby belum menikah, yang ke 4 kak Nathan istrinya sedang hamil kembar 5 yang mengalami koma, yang ke 5 kakakku laki-laki belum menikah, yang ke 6 aku sudah menikah dan mempunyai sepasang anak kembar dan yang terakhir adik bungsuku sudah menikah dan mempunyai dua anak kembar." Jawab dokter Kasandra.


" Jadi yang sudah menikah ada 5 dan yang belum ada 2." Ucap pemuda tersebut.


" Yup betul." Jawab dokter Kasandra.


Pemuda tampan itupun hanya menganggukkan kepalanya sedangkan dokter Kasandra merapikan peralatan yang tadi digunakan untuk memeriksa pemuda itu.


" Oh ya siapa nama tuan?" Tanya dokter Kasandra sambil mengulurkan tangannya.


" Romero Fico Saverio, panggil saja Fico jangan pakai tuan." Ucap Fico sambil membalas uluran tangannya ke arah dokter Kasandra untuk pertama kalinya karena selama ini dirinya paling anti untuk bersalaman.


" Aku Kasandra Alexander, panggil saja Kasandra." Ucap dokter Kasandra.

__ADS_1


" Ok." Jawab Fico singkat sambil melepaskan tangannya.


__ADS_2