Romansa SMA

Romansa SMA
1. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Ciiiiiiittt...


Suara ban motor terdengar mendecit karena di rem mendadak, Keenan yang baru saja akan keluar area komplek rumahnya untuk menuju sekolah tiba-tiba menghentikan motor gede yang mirip motor pembalap formula 1 itu.


Brukk...


Seorang pria paruh baya sedang menarik lengan seorang gadis berseragam sekolah keluar dari sebuah rumah secara paksa dan menghempaskanya ke jalanan dengan kasar.


Aauwhh...


Seorang gadis dengan kulit putih dan rambut panjang ikal itu terlihat mengaduh menahan sakit karena tersungkur, selang beberapa detik kemudian dia langsung berdiri seraya mengusap pakaiannya yang kotor terkena debu jalanan akibat terjatuh tadi.


"Dasar Pengecut! apa Ayah puas selalu melakukan ini padaku?" teriak sang gadis dengan suara keras penuh amarah tanpa rasa takut sedikit pun, walaupun dia akui suaranya bergetar saat mengucapan kata makian yang keluar dari mulutnya itu.


Pria paruh baya yang di sebut Ayah oleh sang gadis itu pun menghentikan langkahnya seketika, dia diam sejenak mengurungkan niatnya yang hendak masuk kembali ke dalam rumah dan berbalik dengan langkah cepat menghampiri sang gadis.


Plakk...


Satu tamparan mendarat di pipi gadis bernama Laura itu dengan sempurna, seketika tangan Laura refleks memegang pipinya yang memerah akibat tamparan sang Ayah tadi. Ia terkejut dan matanya membulat sempurna seakan syok dengan apa yang terjadi padanya barusan.


Sesaat kemudian sang Ayah berlalu meninggalkan Laura yang masih berdiri mematung tanpa berkata sedikitpun dan masuk kembali kedalam rumah dengan hawa yang masih tersulut emosi seraya menggebrakan pintu dengan kasar, sebenarnya ada rasa sedikit bersalah memenuhi relung hatinya saat ini, tapi ia enggan mengungkapkanya karena tertutup oleh egonya yang lebih besar.

__ADS_1


Keenan hanya bisa terkesiap melihat semua yang tengah terjadi di depanya tanpa sengaja, tanpa membuka helm nya dia menyaksikan setiap adegan demi adegan dengan penuh rasa iba pada Laura.


Laura masih berdiri tak bergeming di tempatnya. Sekarang kepalanya tertunduk, isak tangis samar terdengar dari balik rambut ikal yang menutupi sebagian wajahnya, dia menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah, dia tidak mau matanya terlihat sembab di hari pertamanya bersekolah di sekolah baru.


Dia pun buru-buru menyeka sisa air mata yang mengalir di pipinya, lalu tangan mungil itu merogoh handphone dari tas nya, dengan cekatan jari-jari lentiknya menekan-nekan benda berbentuk persegi itu untuk memesan ojek online untuk mengantarnya ke sekolah.


tak membutuhkan waktu lama sang ojol dengan seragam jaket ijonya pun datang. Laura bergegas menaikinya karena takut dia akan terlambat di hari pertamanya masuk sekolah.


Keenan yang melihat motor Laura semakin menjauh, entah kenapa ada rasa penasaran pada sosok yang baru dijumpainya pagi ini, dia baru sadar kalau seragam yang di pakai Laura sama dengan seragam sekolah yang ia kenakan, tetapi dia sama sekali tidak mengenalnya.


Tentu saja Keenan tidak mengenalnya ada begitu banyak siswa perempuan di sekolahnya dan mungkin dia tidak sekelas dengan Keenan, jangan kan yang tidak sekelas dengan Keenan murid perempuan yang satu kelas dengan Keenan pun tidak dia kenali semua. Sehingga Keenan pun memutuskan untuk mengkutinya dari belakang.


Tak berapa lama motor yang ditumpangi Laura berhenti seketika di depan sebuah gerbang tinggi dengan sebuah papan nama besar bertuliskan "SMA BUDI LUHUR".


Melihat Laura turun dari ojek online nya, Keenan pun ikut berhenti agak jauh menjaga jarak agar tidak di curigai. Keenan memperhatikan dengan seksama tubuh imut yg sedang menyodorkan uang untuk sang driver ojol tersebut dari kejauhan.


Terlihat jelas senyuman tulus yang mengembang Laura layangkan kepada driver ojol itu seraya membungkukan badanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantarnya sampai tujuan. Dan secara spontan ia melambaikan tangan kananya saat sang driver ojol itu pergi meninggalkan dirinya.


Untuk beberapa detik Laura berdiri di sana menengadah kan wajahnya kearah langit pagi yang beranjak terang, ia tatap sejenak langit cerah itu, lalu perlahan iya pejamkan matanya seraya menarik nafas pelan, merasakan hembusan udara pagi yang lembut menyapu wajahnya dan helaian-helaian rambut ikalnya seolah ikut menari membelai indah wajah cantik itu.


Keenan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Laura seolah terpana lalu membuka helm nya seraya terus menatap lekat Laura tanpa berkedip.

__ADS_1


" Sangat manis... " Tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Keenan.


untuk beberapa saat Keenan pun akhirnya tersadar dan Laura sudah masuk ke dalam gerbang sekolah, dan helm yang sudah dia copot tadi di selipkanya ke lengan bagian kirinya, lalu iya pun Segera memacu kuda besinnya itu.


Tak lama dia pun melewati Laura yang sedang berjalan dengan santai karena memang suasana sekolah masih sepi. Tanpa menoleh ke arah Laura dipacunya motor gede berwarna hitam itu dengan perlahan dan di liriknya kaca sepion yg menampilkan jelas pantulan gadis manis itu di dalamnya, sekilas senyuman menghiasi wajah Keenan yang entah kenapa dia juga bingung kenapa dia bereaksi seperti itu.


Dan Keenan pun sampai di parkiran terlebih dahulu, setelah itu lalu bergegas ke markas geng nya yang terletak di bagian paling atas gedung sekolah tersebut, disinilah tempat yang biasa di habiskan oleh Keenan dan 2 sahabat karibnya Rino dan Sam sebelum memulai aktifitas belajarnya atau jika ada jam kosong karena guru nya yang tidak masuk, tempat inilah yang menjadi favorite mereka ber tiga untuk menghabiskan waktu bercengkerama dan bercanda ria dengan banyolan-bayolan dan makian yang khas remaja seperti mereka.


Saat Keenan tengah duduk di bibir gedung paling tinggi untuk menunggu 2 sobat karibnnya yang sama sekali belum menampakan batang hidungnya, pandangannya teralihkan dengan sesosok gadis mungil yang masih berjalan dengan santainya kearah lantai dasar bangunan gedung yang bisa di bilang mewah dengan taman-taman yang luas dan indah membuat suasana sekolah begitu asri dan menyenangkan.


Saat sedang asik memperhatikan objek yang sempat membuatnya terpesona itu, tiba-tiba...


"Dor!" suara cempreng Sam seketika membuyarkan semuanya.


"Sialan, gak usah ngagetin juga kali, nyet". protes Keenan kesal, teman yang satu ini emang kalo bercanda gak pernah liat sikon, berbeda dengan Rino yang rada kalem dikit gak sepetakilan kaya si Sam, walaupun tingkat menyebalkanya di level sama.


"Ha ha ha ha... " Sam malah tertawa girang karena udah sukses membuat Keenan kesal sepagi ini.


"Woi... santai dikit kali bro, ngelitain apa sih lo dari tadi gw perhatiin serius banget, sampe gak ngeh klo gw dateng." Cerocos Sam sambil mengedarkan pandanganya ke arah bawah gedung tapi dia tidak menemukan satu objek pun yang menarik perhatianya, hanya suasana sekolah yang mulai ramai dan murid-murid yang berdatangan menuju kelas masing-masing.


"Ahh, kepo lu. Kayak emak-emak kurang kerjaan." Timpal Keenan males meladeni seraya beranjak bangun dari duduknya di bibir gedung, ngeloyor begitu saja ke arah tangga dan bergegas menuruninya, meninggal kan Sam yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"****... gw di tinggalin, dasar kupret. Woi! tungguin gw, btw si Rino mana? tumben tuh makhluk blom nongol." Sam terus memprotes dengan setengah berlari mencoba mengejar Keenan.


Keenan dengan acuh terus menuruni anak tangga tanpa henti dan tak menggubris sama sekali ocehan Sam.


__ADS_2