
Seperti biasa, Wida selalu terburu-buru kalau di pagi hari. Hanya menyeruput susunya, menyambar tas, mencium tangan Ibunya, lalu berlari keluar rumah menemui Prima yang sudah menungunya di ujung gang rumahnya.
Namun baru membuka pintu rumahnya, langkah kakinya terhenti. Wajahnya nampak terkejut. Ibu yang melihatnya, tampak bingung dengan kelakuan putrinya itu. Ia pun mendekati Wida yang tampaknya terkejut oleh sesuatu. Soni. Ia berdiri di halaman rumah Wida.
Soni tersenyum saat dilihatnya Wida muncul dari balik pintu rumah yang terbuka. Dan mengangguk hormat begitu dilihatnya Ibu Wida yang datang dan berdiri di belakang Wida.
"Pagi, Bu," sapanya hormat. Ibu yang sempat terkejut juga karena kehadiran Soni pagi itu, berjalan melewati Wida yang terpaku.
"Pagi.." jawab Ibu. "Nak Soni, ya? Mau jemput Wida?"
Soni mengangguk. "Iya, Bu." Ibu melihat sebuah motor matic terparkir di depan pintu pagar. "Kau bawa motor?" tanyanya, "memangnya sudah punya SIM ?"
"Sudah, Bu.." jawab Soni sambil tersenyum.
__ADS_1
Wida yang hanya terdiam, memperhatikan Ibu dan Soni yang sedang bercakap-cakap. Sebenarnya ia sedang bingung. Bila Soni datang menjemputnya, bagaimana dengan Prima yang menunggunya di ujung gang sana? Wida mendesah pelan. Bagaimana ini.. pikirnya.. mengapa Soni dantang menjemputnya? Bagaimana dengan Prima? Wida benar-benar bingung.
"Aku bisa berangkat sendiri.." sela Wida tiba-tiba diantara percakapan Soni dan Ibunya. Sontak Ibu dan Soni melihat ke arah Wida.
"Kenapa berangkat sendiri?" Ibu tidak setuju, "Nak Soni sudah dateng menjemput, masa kau abaikan?" Soni yang merasa mendapatkan dukungan, tersenyum.
"Iya.. lagi pula kalau naik angkot nanti terjebak macet," katanya meyakinkan Ibu.
"Ya sudah sana berangkat!" kata Ibu akhirnya sambil mendorong Wida. Soni telah keluar lebih dulu menghampiri motornya. Diambilnya helm yang akan dikenakan Wida, lalu diberikannya ke Wida begitu Wida datang mendekat.
Yah.. ia tahu kalau Prima sedang menunggu Wida, di ujung gang rumah Wida. Ia melihatnya tadi saat akan kerumah Wida. Namun ia memilih jalan memutar agar Prima tidak melihatnya. Sori Prim.. batinnya, aku juga ingin mendapatkan hati Wida.
Wida menerima helm yang diberikan Soni dengan wajah terpaksa.
__ADS_1
"Nanti.. turunkan aku di ujung gang, ya," pintanya pada Soni. Soni hanya diam. Dinaikinya sepeda motornya dan dinyalakan kontaknya. Setelah Wida naik ia pun menjalankan motornya.
Namun Soni tidak melalui jalan yang di pinta Wida. Ia melalui jalan yang ia lewati tadi saat kerumah Wida. Wida panik saat Soni tidak menuruti keinginannya.
"Soni.. kenapa kita lewat sini?" tanya Wida mulai kesal. "Aku kan ingin turun di depan gang!"
"Memangnya ada apa di depan gang?" tanya Soni pura-pura tidak tahu.
"Aku.. aku ingin naik angkot," jawab Wida berbohong. Yah.. tidak mungkin kan ia mengatakan, bahwa Prima sedang menunggunya disana?
"Sudahlah. Ini sudah agak siang.. lebih cepat kalau dengan motor," kata Soni sambil menambah kecepatan motornya. Wida yang terkejut karena Soni yang tiba-tiba mengegas motornya, spontan memegang baju Soni.
Tiba-tiba Wida mendengar suara ponselnya yang berdering. Mungkin dari Prima, pikirnya. Saat ia ingin mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, Soni kembali mengegas motornya. Dan karena takut jatuh dari motor, Wida pun membatalkannya. Dan kembali memegang baju Soni dengan wajah kesal.
__ADS_1
Soni juga mendengar ponsel Wida yang berbunyi. Dan ia pun merasakan saat Wida melepaskan pegangan pada bajunya, yang mungkin ingin mengangkat panggilan tersebut. Dengan senyum tersungging di bibirnya ia sengaja kembali mengegas motornya, agar Wida tidak bisa mengambil ponselnya. Dan usahanya berhasil! Wida kembali memegang bajunya dengan erat. Dan senyum Soni pun makin melebar.