Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XXXVI : Jangan Biarkan Aku Menunggu..


__ADS_3

Eko dan Asti telah pulang lebih dulu. Sebenarnya Wida ingin bareng dengan mereka, tapi Prima menahannya. "Aku akan mengantarmu nanti.." katanya.


"Tapi.. bukankah kamu sedang sakit.." kata Wida tak ingin merepotkan Prima.


"Aku sudah sembuh.. berkat dirimu.." Prima tersenyum.


Wida yang merasa risih terlalu dekat dengan Prima, memundurkan kursinya. Namun Prima menariknya kembali.


"Aku masih belum selesai bicara.." katanya.


Wida yang gugup berada didekat Prima, mengajak Prima keluar dari kamar.


"Kita pindah kedepan aja, yah.." katanya, "gak enak berduaan di kamar kaya gini.."


"Kenapa..?" tanya Prima menggoda, "kamu takut aku akan melakukan sesuatu?" Prima kembali mendekatkan wajahnya. Wida menjauhkan wajahnya. "Aku serius..!" katanya.


Prima tertawa renyah. Di dorongnya kursi Wida pelan. Ia pun bangun dari duduknya. "Ayo.." katanya, "kita keluar.. temani aku makan ya..." Prima meraih tangan Wida, dan menuntunnya keluar kamar.

__ADS_1


Makanan sudah tertata rapi di meja makan. Mbok Uti tersenyum, karena akhirnya tuan mudanya mau keluar kamar. Karena dua hari ini Prima hanya mengurung diri dikamar, dan susah makan.


"Silahkan, non.." katanya pada Wida. Wida tersenyum. "Terima kasih, mbok.." katanya ramah pada mbok Uti.


Prima mengambil piring Wida, karena dilihatnya Wida yang tampak malu dan mengisinya.


"Cukup!" kata Wida yang merasa piringnya sudah penuh. Prima meletakkan piring Wida. Kemudian ia mengisi piringnya sendiri.


Rumah Prima yang besar terasa sepi. Karena memang hanya Prima, mbok Uti dan suami mbok Uti pak Jafar, yang tinggal disana. Orang tua Prima dan adiknya Dewi ada di Jogja, karena memang bisnis keluarga Prima ada di sana.


Wida yang tak tahu hal itu menanyakannya.


"Mereka ada di Jogja.." jawab Prima.


"Jadi kau tinggal sendiri?" Wida tidak bisa membayangkan kalau dirinya tinggal sendiri di rumah sebesar itu.


"Tidak.." jawab Prima sambil tersenyum, "ada mbok Uti dan suaminya.."

__ADS_1


"Oooh.. " Wida manggut-manggut dan melanjutkan makannya.


Setelah makan Prima mengajak Wida keruang keluarga untuk menonton televisi. Namun Wida yang merasa sudah terlalu lama di rumah Prima, ingin segera pulang.


"Aku sudah lama disini.." katanya, "aku pulang aja, yah.."


"Sebentar lagi, lah.." Prima membujuk Wida, "aku masih kangen.." Prima meraih tangan Wida untuk duduk di sofa yang yang ada di ruang keluarga tersebut.


Prima meraih remot tivi yang tergeletak di sofa, lalu dinyalakannya tivi yang berukuran cukup besar, yang terletak diruangan itu. Wida merasa risih duduk berdampingan dengan Prima, apalagi karena Prima masih memegang tangannya. Ditariknya tangannya dan langsung disembunyikannya dibalik bantal yang diambilnya dari sofa. Prima yang melihatnya hanya tersenyum.


Suasana kembali canggung di antara mereka. Walaupun mata mereka melihat ke arah televisi, namun hati dan pikiran mereka memikirkan hal yang lain. Prima tiba-tiba saja merasa grogi saat berduaan dengan Wida. Matanya sesekali melirik ke arah Wida yang juga tampak gelisah. Tidak jauh beda dengan Prima, Wida pun merasa degub jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Beberapa kali ia menghembuskan napasnya pelan untuk sekedar menenangkan dirinya.


"Wida.." panggil Prima pelan memecahkan keheningan diantara mereka. Wida yang dipanggil menoleh. "Ya.." jawabnya lirih. Karena duduk mereka yang berdampingan, wajah mereka pun berdekatan. Dan itu membuat debaran jantung Wida semakin cepat.


"Aku serius dengan kata-kataku tadi.." kata Prima sambil menatap Wida dalam.


"Aku benar-benar sayang padamu.. aku ingin kau jadi pacarku. Kau.. juga sayang padaku, kan?" tanyanya sambil menyentuh pipi Wida lembut.

__ADS_1


Wida terdiam, tangan Prima terasa hangat di pipinya. Prima menunggu jawaban Wida.. dengan hati yang berdebar tak karuan.


__ADS_2