
Wida yang terkejut dengan kedatangan Prima yang tiba-tiba, tidak menyadari bahwa tangannya masih memegang tangan Soni. Ia terkejut begitu Prima maju kearahnya dan menarik dirinya. Soni menyadari kecemburuan Prima. Ia hanya terdiam saat Prima menarik Wida dari sisinya.
Nina pun sepertinya juga terkejut dengan sikap Prima pada Wida. Setelah menarik Wida dari sisi Soni, tampak tangan Prima tidak melepaskan pegangannya dari tangan Wida.
"Maaf Nina, tapi aku rasa kau tak berhak menyuruh Wida untuk menjauhiku," kata Prima lugas pada Nina.
"Tapi kau selalu mendapat masalah jika bersamanya," bibir Nina bergetar karena marah, "kau berkelahi... bahkan membolos!"
"Itu bukan masalah bagiku," sanggah Prima cepat.
"Aku laki-laki, wajar bagiku berkelahi bila ada yang mengganggu pacarku.. Tapi dengan Soni, itu salahku." Prima menoleh ke arah Soni. "Son.. maapkan aku. Aku menuduhmu tadi," kata Prima dengan senyum maafnya. Soni menganggukkan kepalanya, memaafkan Prima."Ya," jawabnya.
Prima kembali menoleh ke Nina. "Dan kalau membolos, itu kemauanku. Aku yang mengajak Wida. Jadi, jangan kau salahkan Wida." Prima menoleh ke Wida yang hanya terdiam. Dieratkannya pegangan tangannya pada Wida.
Nina yang sudah memuncak emosinya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak terima karena Prima membela Wida daripada dirinya, yang telah berteman lebih lama. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badannya, berlari meninggalkan taman.
__ADS_1
Prima menarik napas lega, walau ada perasaan tak tega melihat Nina yang kecewa padanya. Soni melangkah mendekati Prima.
"Aku juga pergi dulu, ya," katanya, "Wida.. aku duluan." Soni tersenyum pada Wida. Wida menatap Soni dan membalas senyum Soni dengan canggung.
Setelah Soni pergi, Prima menoleh ke Wida. Ia merasa cemas karena Wida yang tidak bicara dari tadi.
"Kau.. tidak apa-apa?" Prima menyentuh pipi Wida. Tiba-tiba Wida melepaskan tangan Prima yang menggenggam tangannya. Lalu berjongkok, menelungkupkan kepalanya diatas lutut. Tubuhnya bergetar. Wida menangis.. sepertinya ia sudah tidak dapat membendung perasaannya lagi. Rasa sesak yang mengumpul dari pagi, yang ditahannya agar tidak meluap. Dan akhirnya tumpah dalam tangisan.
Prima terkejut melihatnya. Diturunkannya tangannya yang menggantung saat membelai pipi Wida tadi. Bingung melihat Wida yang menangis, ia pun ikut berjongkok. Dibelainya rambut Wida dengan lembut.
Wida duduk di pinggir taman. Tampaknya ia sudah mulai tenang. Matanya terlihat sembab karena menangis tadi. Ia memperhatikan Prima yang sedang membersihkan taman. Sepertinya Prima tidak mengijinkan Wida untuk ikut membersihkannya. Sesekali Prima melihat ke arah Wida dan tersenyum. Ia merasa lega melihat Wida sudah lebih tenang.
Prima mengajak Wida makan bakso dibelakang sekolah, tempat langganan mereka. Baju Prima basah oleh keringat. Sepertinya semua tugas hukuman dikerjakan sendiri oleh Prima.
"Cape', ya?" Wida merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa? Kau mau pijat aku?" Prima menggoda.
Wida mencibir. "Kau sih, tidak mengijinkan aku.."
"Tidak apa.. itu juga sebenarnya salahku, sudah nekat mengajakmu bolos ," kata Prima sambil tersenyum.
"Maapkan aku... tadi saat istirahat aku terbawa emosi. Aku tidak marah padamu."
"Aku tahu," jawab Prima, "dan kau... maapkan sikap Nina tadi, ya. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu. Biasanya ia tidak begitu."
Wida menatap Prima. "Mungkin ia menyukaimu.." kata Wida pelan, "jadi.. ia bersikap seperti itu, karena ia tidak suka aku dekat denganmu.."
Prima tertawa menanggapi perkataaan Wida. "Aku sudah berteman dengannya sejak kecil. Ia seperti saudara perempuan bagiku. Kau jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sudahlah cepat habiskan baksomu. Kau tidak ingin pulang telat, kan?"
Wida terdiam. Ditatapnya Prima yang sedang menyantap baksonya. Mungkin kau menganggapnya saudara, batin Wida, tapi... apakah Nina menganggapmu saudara?
__ADS_1