
Prima dan Wida sedang berjalan di lorong sekolah menuju keluar gedung sekolah, diikuti Asti dan Eko. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Ryan yang baru datang kesekolah.
Wida yang merasa belum berkesempatan mengucapkan terima kasih pada Ryan, berjalan mendahului Prima dan menghampiri Ryan. Prima yang melihatnya hanya membiarkannya saja, walau ia harus memendam rasa cemburunya.
Wida menghadang langkah Ryan.
"Kenapa kau susah sekali dihubungi?" tanya Wida begitu telah berada di hadapan Ryan. "Aku dari kemarin meneleponmu, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena dirimulah hukumanku dibatalkan."
Ryan yang berdiri tegak di depan Wida, hanya memandangnya dengan perasaan tak menentu. Ia merasa tidak pantas mmendapatkan ucapan terima kasih dari Wida, karena memang bukan ia yang melakukannya, melainkan Prima.
Pandangan mata Ryan beralih kebelakang Wida. Dilihatnya Prima yang sepertinya sedang menunggu Wida. Apa ini? Batinnya. Apa Prima tidak memberitahu Wida kalau ia yang telah membatalkan hukumannya? Ryan semakin tidak enak. Apakah ia akan membiarkan Wida dengan pikirannya, bahwa dirinyalah yang telah melakukannya? Tapi ia akan sangat terlihat tidak tahu malu, jika didepan orang yang sebenarnya yang melakukannya, mendapatkan ucapan terima kasih yang bukan haknya.
"Kak..." kata Ryan ragu pada Wida. "Sebenarnya... Bukan aku yang melakukannya. Bukan aku yang berbicara pada Pak Barja atas pembatalan hukuman Kakak.. Jadi Kakak tidak perlu berterima kasih padaku."
Wida mengerutkan alisnya, ia tidak mengerti apa maksud perkataan Ryan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Wida, "aku tidak mengerti apa maksudmu. Bukankah kau yang meminta pembatalan hukumanku dengan Pak Barja?"
Ryan menggeleng.
"Maaf, Kak. Bukan aku.."
"Lalu siapa? Tidak mungkin hukumanku di batalkan, bila tidak ada yang memintanya. Apa Pak Anton?" tanya Wida bingung
"Kakak tanya saja pada Pak Anton," kata Ryan menyarankan. Sepertinya ia tidak ingin mengatakan langsung di depan Wida, bahwa ayah Primalah yang melakukannya. Apalagi ada Prima di belakangnya. Tak mungkin ia menjatuhkan harga dirinya di depan rivalnya itu.
"Tidak penting siapa yang melakukannya. Yang terpenting sekarang, Kakak bisa belajar seperti biasa. Tidak perlu tahu siapa yang telah membantu Kakak. Nanti malah akan menjadi beban bagi Kakak," kata Ryan sambil menatap tajam Prima.
Tatapan mata Prima tidak kalah tajamnya saat beradu pandang dengan Ryan. Ia menduga, kalau Ryan sepertinya tahu kalau ialah yang telah melakukannya, sehingga ia berkata seperti itu. Syukurlah kalau ia telah berkata jujur, kalau bukan ia yang melakukannya, dan tidak bertindak sok pahlawan, batin Prima sinis.
"Aku permisi, Kak. Aku akan ke kelas," kata Ryan sambil berlalu melewati Wida dan Prima yang tampak mengacuhkannya.
Setelah Ryan pergi, Wida tampak diam terpaku. Ia sepertinya terkejut saat mendengar pengakuan Ryan. Hatinya bertanya-tanya, kalau bukan Ryan, lantas siapa sebenarnya yang telah mengubah keputusan kepala sekolah yang arogan itu? Dan tanpa mempedulikan Prima, Eko dan Asti, ia pun berlari kembali ke dalam sekolah menuju ke ruang guru.
__ADS_1
Prima tampak terkejut saat melihat Wida tiba-tiba berlari meninggalkannya. Dan tanpa menunggu lama ia pun segera mengejarnya diikuti Asti dan Eko.
Ternyata Wida mencari Pak Anton. Dan kebetulan Pak Anton sedang ada di ruangannya, yang sepertinya sedang mengoreksi pekerjaan murid-muridnya. Ia terkejut saat Wida menerobos masuk, tanpa mengetuk pintu, yang diikuti ketiga temannya itu.
"Selamat siang, Pak" sapa Wida begitu ada di hadapan Pak Anton.
"Siang," jawab Pak Anton singkat. "Ada apa kalian kemari?" tanya Pak Anton sambil melihat kearah ketiga murid lainnya yang berdiri di belakang Wida.
Wida mengatur nafasnya yang terengah karena berlari tadi.
"Ada yang mau saya tanyakan pada Bapak," kata Wida sedikit gugup. "Masalah hukuman saya, Pak... Siapa sebenarnya yang telah membuat Pak Barja membatalkan keputusannya itu?"
Pak Anton bersandar.
"Kenapa?" tanya Pak Anton tanpa menjawab pertanyaan Wida. "Untuk apa kamu mempertanyakannya? Apa ada masalah?"
Prima menggigit bibir bawahnya saat mendengar pertanyaan Wida pada Pak Anton. Sekarang hatinya merasa cemas, apakah reaksi Wida bila ia tahu kalau ayahnyalah yang telah membantunya? Apakah ia akan marah? Karena selama ini ia menganggap ayah Ryanlah yang telah membantunya.
"Bukan begitu, Pak," jawab Wida sungkan, "saya hanya mau berterima kasih."
"Kalau begitu... Kau tanya Prima siapa yang telah membantumu. Bapak rasa Prima telah mengetahuinya," kata Pak Anton sambil melihat kearah Prima.
Prima tampak terperanjat saat Pak Anton menyebut namanya. Wajahnya langsung terlihat gugup, saat Wida menoleh dan menatapnya. Wida tampak tak percaya dengan apa yang telah dikatakan Pak Anton.
"Baiklah, kalau begitu Pak," kata Wida kembali melihat kearah Pak Anton, "saya permisi, Pak. Terima kasih."
Setelah pamit, Wida langsung berbalik tanpa mempedulikan Prima yang sedang melihat kearahnya. Ia keluar dari ruangan Pak Anton dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
Prima yang merasa ditinggalkan oleh Wida, langsung berpamitan juga pada Pak Anton, diikuti dua temannya yang setia di belakangnya.
"Kalian duluan saja," kata Prima begitu ada di luar ruangan Pak Anton. "Aku akan menyusul Wida, tampaknya ia marah padaku."
Eko dan Asti mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Ya sudah, susullah sana. Kami juga pusing melihat kalian selalu seperti ini," kata Asti mendukung Prima.
Dan tanpa bicara lagi, Prima langsung melesat mengejar Wida.
Wida berjalan cepat di trotoar jalan. Hatinya kesal, karena ia merasa di permainkan oleh Prima. Bagaimana tidak? Selama ini ia telah menduga Ryanlah yang telah membantunya, dan Prima yang tahu dugaannya salah, hanya diam saja tanpa memberitahukan hal yang sebenarnya. Ia sungguh merasa di permalukan oleh Prima. Kalau ia tahu siapa yang telah membantunya, mengapa ia tidak memberitahunya?
Samar ia mendengar suara Prima yang memanggilnya. Tanpa menoleh ia mempercepat langkahnya. Namun langkah Prima sepertinya lebih cepat darinya. Karena tidak berapa lama ia merasakan tangan Prima telah memegang tangannya, dan membuatnya menghentikan langkahnya.
Nafas Prima tampak tidak beraturan, sepertinya ia telah berlari untuk menyusul Wida.
"Kau ini kenapa?" tanyanya disela nafasnya, "kenapa kau pergi begitu saja meninggalkanku? Apa kau marah padaku?"
Wida menyentak tangan Prima agar terlepas dari pegangannya.
"Bagaimana aku tidak marah?" tanya Wida sambil menatap Prima dengan emosi. "Apa kau sengaja melakukannya? Apa kau ingin mempermainkan dan mempermalukan aku? Harusnya kau bilang kalau kau tahu siapa yang telah membantuku. Dan tidak membiarkan aku yang mencari Ryan dan salah paham."
Prima mendesah membuang sesaknya, ia menatap wajah Wida yang terlihat kesal.
"Aku ingin memberitahumu. Tapi kau lebih mempercayai Ryan untuk membantumu. Dan setelah semuanya selesai, kau begitu senang dan semakin memuja Ryan. Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau kau sedang senang begitu. Bagiku, tidak masalah siapa yang kau anggap yang telah membantumu. Asal kau bahagia itu sudah cukup bagiku," kata Prima berusaha meredakan emosi Wida.
Wida terdiam, matanya tampak berkaca-kaca karena menahan emosinya.
"Benar seperti itu?" tanya Wida ragu. "Atau kau hanya ingin membuktikan bahwa aku salah, dan kau secara tidak langsung ingin memberitahu bahwa kau lebih hebat dari Ryan?"
Prima kembali menghela nafasnya. Tangannya perlahan meraih tangan Wida.
"Mana pernah aku melakukan hal seperti itu.. Lagi pula aku memang lebih hebat dari Ryan. Buat apa aku membuktikannya?" katanya dengan nada bergurau.
"Sudahlah... Jangan menangis. Maafkan aku, ya."
Wida menyeka air mata yang akan menetes di sudut matanya.
"Lalu... Siapa yang telah membantuku? Yang membuat hukumanku di batalkan?"
__ADS_1
"Ayahku..."